Bersama jajaran Manajemen dan Karyawan yang dibawahinya.

Liburan bersama keluarga

Bersama istri tercinta "Laniati Dewi".

Hidup hanya sekali...Hiduplah dengan Luar Biasa !!

Bersama manajer pelumas "Sutoyo Wijaya" salah satu divisi yang dibawahinya

Sabtu, 29 Maret 2014

Peluang Atau Keberuntungan ?


Salah satu karyawan saya bertanya, “ Maaf, kelihatannya yang bekerja di SPBU sedang beruntung, banyak peluang meningkatkan karier ya, Pak ? Tidak demikian di bagian saya, kelihatannya sudah mentok atau mungkin tunggu giliran ? ” 

Saya tersenyum dan menjawab,” Bekerjalah sebaik mungkin, jadilah yang terbaik di bagian Anda, supaya kalau ada peluang promosi, Anda lah yang mendapat kesempatan pertama.”

Saya teringat saat pertama kali bekerja. Saya diterima di sebuah pabrik tekstil sebagai pembantu gudang benang di Bandung. Sebagai pegawai baru, saya benar-benar tidak tahu apa yang akan saya lakukan karena atasan saya hanya menyuruh untuk orientasi. Kemudian saya berinisiatif membuat denah lokasi dan jenis barang yang ada di gudang meski pun sudah ada data di buku stock. Hanya ingin memastikan kevalidan datanya.

Akhirnya setelah hari ke tiga saya sudah mempunyai data yang lengkap dan akurat. Beberapa hari kemudian ketika saya sedang sendirian di kantor gudang, pemilik pabrik datang tiba-tiba dan menanyakan tentang persediaan beberapa jenis barang. Untung saya dapat memberikan jawaban dengan tepat, walau sedikit grogi. 

Rupanya pertemuan saya dengan pemilik pabrik di gudang membuatnya terkesan dengan kesiapan saya. Tepat sebulan saya bekerja, saya dipanggil ke bagian personalia dan diberikan promosi sebagai kepala gudang benang, karena atasan saya mengundurkan diri. 

Mungkin Anda akan berpikir bahwa semua itu adalah kebetulan karena ada peluang. Tapi apakah saya akan mendapatkan jabatan itu kalau pertemuan saya dengan pemilik perusahaan di gudang ternyata mengecewakan ? 

Ingat, definisi sukses adalah adanya peluang bertemu dengan persiapan Anda. Kebanyakan orang hanya menunggu kesempatan datang, tapi sangat disayangkan ketika kesempatan itu datang dan mereka tidak siap,  maka kesempatan itu pun berlalu.

Ada pepatah yang mengatakan “ Kesempatan hanya datang sekali saja. “ Menurut saya kurang tepat, kesempatan hanya datang sekali bagi mereka yang menunggu, namun bagi yang berlari mengejar dan mempersiapkan diri, akan datang berkali-kali. So, bijak-bijaklah memahami sebuah pepatah.

Sering kali kita tidak dapat melihat peluang karena cara berpikir kita yang mungkin belum mampu melihatnya. Cara memulainya adalah mempersiapkan diri menjadi yang terbaik dimana sekarang kita berada. Tanpa persiapan yang baik, kita bukan siapa-siapa.

Ayah saya almarhum pernah berpesan, “ Kalau kamu menjadi pengemis, jadilah pengemis yang terbaik. Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup di kolong jembatan pun ada ilmunya, semua ada ilmunya. Belajarlah sepanjang hidup kamu. ”


Tidak ada satu pun keberuntungan dalam hidup yang dapat Anda kendalikan. Satu-satunya cara adalah ketika Anda bersiap diri menyongsong kesempatan yang dapat datang setiap saat. Thomas Jefferson pernah berkata, “ I’m a firm believer in luck, and I’ve found the harder I work, the luckier I get. “ Saya sangat percaya keberuntungan, dan saya telah menemukan semakin keras saya bekerja, semakin mujur saya dapatkan. "

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Jumat, 28 Maret 2014

Waspadalah Terhadap Penolakan yang Samar


Pernahkan Anda menyajikan ide di hadapan sekelompok orang yang tampak menyukainya namun belakangan baru tahu kalau beberapa di antara mereka tidak mendukungnya, padahal mereka tidak mengajukan keberatan awalnya ? Saya pernah.

Setelah saya ambil pensiun dini dari Pertamina, saya hijrah ke Jakarta untuk membuka bisnis variasi mobil, patungan dengan adik-adik di sebuah ruko kontrakan, daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Berjalan dua tahun, bisnis kami maju pesat sehingga saya berani memutuskan meninggalkan Jakarta untuk mengerjakan yang lain di Cilacap. Saya hanya memantau perkembangan dari jauh.

Pada tahun ke empat, bisnis tersebut semakin hebat sehingga saya memberikan ide membuka cabang baru di Jakarta Selatan. Tampaknya mereka setuju, tetapi mereka yang harus mengeksekusi ide ini - karena saya di Cilacap , justru tidak menaruh hati sungguh-sungguh. Pada akhirnya mereka mengambil keputusan lain, sehingga kami tidak mampu mengembangkan bisnis itu.

Anda harus ingat, menyampaikan rencana Anda saja tidak cukup. Anda harus menindaklanjuti dengan mengendus adanya “ penolak yang samar “, yaitu orang-orang yang tidak terlalu suka konflik dan tidak ingin menyuarakan penentangan namun seiring waktu dapat membunuh langkah Anda.

Saya memetik pelajaran itu bahwa perlu adanya kepastian kami memiliki keselarasan tujuan. Dan untuk mengendus para penolak yang samar, mulailah dengan tiga langkah berikut :

Bagikanlah kebenaran. Bantu mereka memahami alasannya. Jangan hanya memberitahukan apa yang ingin Anda lakukan. Jelaskan juga alasan di balik rencana itu. Alasanlah yang paling mampu melibatkan orang lain.

Mintalah masukan. Tunjukkan Anda mendengarkan. Ajukan pertanyaan langsung berdasarkan apa yang Anda ketahui tentang mereka serta tunjukkan Anda mendengarkan dan menghargai pendapat mereka. Jika Anda tidak setuju dengan penilaian mereka, beritahukan alasannya. Jika Anda setuju dengan kekhawatiran seseorang namun belum menemukan jawaban yang tepat, katakan “ Saya akan luangkan waktu lebih banyak untuk menyimak kembali masalah yang dikhawatirkan tadi, dan saya harap Anda mau membantu memikirkannya.” Jika Anda mengembangkan rencana itu dengan ide orang lain, pujilah mereka.

Tanpa keterlibatan, tidak ada komitmen. Libatkanlah mereka, jika tidak mereka tidak akan pernah berkomitmen meraih tujuan itu. Bayangkan kalau setiap kali Anda diminta melakukan sesuatu tapi tidak pernah dimintai pendapat. Anda pasti merasa tidak terlibat dan menjadi bagian dari hal itu.

Mengupayakan keselarasan sangat penting. Pastikan tim Anda tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, dan yang terpenting mereka tahu alasan untuk melakukannya. Memberi tahu apa yang dilakukan melibatkan kepala mereka. Memberi tahu bagaimana cara melakukannya, melibatkan tangan mereka. Dan mengatakan mengapa mereka melakukannya melibatkan hati mereka. 

Dengan melibatkan hati mereka, memungkinkan Anda membangun hubungan emosional. Melalui hubungan emosional itulah Anda akan mendapat keselarasan terbaik.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Kamis, 27 Maret 2014

Go The Extra Miles


Salah satu cara penilaian kinerja agar mendapatkan nilai maksimal adalah dengan melakukan lebih memuaskan dari yang diminta. Tindakan memberikan hasil nyata yang melampaui ekpektasi atasan atau perusahaan juga sering disebut extra miles.

Jika seorang karyawan sering melakukan tindakan extra miles, berarti dia sedang berinvestasi untuk memperoleh kepercayaan dan tanggung jawab lebih besar dari atasannya dan orang-orang yang bekerja sama dengannya. Selalu berupaya menjadi segelintir orang yang extraordinary.

Ada nasehat bijak dari seorang guru bijak, “ Jika siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil “. Nasehat ini membuka tabir rahasia tentang kehidupan diatas rata-rata dan menjadi inspirasi bagi orang biasa yang ingin menjadi luar biasa.

Liem Swie King atlet bulu tangkis yang terkenal pada tahun tujuh puluh sampai delapan puluhan dengan jumping smashnya yang mematikan lawan, berupaya mempertahankan kehebatannya dengan tindakan extra miles. Saat sang pelatih menyuruhnya lari mengelilingi stadion sebanyak 20 putaran, King melakukannya sebanyak 40 putaran.

Saat SPBU-SPBU lain di Indonesia menjalankan bisnisnya secara biasa-biasa saja, SPBU Gelora Group melakukan perbaikan terus menerus melalui gathering, pelatihan-pelatihan, motivasi tiga bulanan, bergerak menuju visi misi, itu adalah tindakan extra miles.

Sejak dua tahun terakhir divisi Pelumas PT. Gelora Putra Perkasa melakukan tindakan extra miles dengan melakukan perubahan-perubahan tajam yang tidak dilakukan oleh agen-agen pelumas lain, sehingga sekarang menjadi agen pelumas yang dijadikan percontohan bisnis terbaik oleh Pertamina Lubricants. Going the extra miles.

Berikut ini adalah contoh tindakan extra miles yang dapat dilakukan dalam bekerja :

Ketika Anda diminta menyelesaikan sebuah tugas dalam waktu tiga hari, selesaikanlah dalam dua hari. Usahakan menyelesaikan lebih cepat dan hasilnya lebih baik dibanding yang lain.

Ketika atasan Anda bertanya sesuatu, Anda mampu menjelaskan dengan informasi yang lengkap dan memuaskan. Anda tidak harus tahu semuanya, tetapi Anda dapat segera mencari tahu dengan cepat dan tepat seperti yang diperlukan.

Ketika atasan atau rekan kerja sedang kerepotan, Anda berinisiatif menawarkan tenaga, membantu meringankan beban mereka. Anda tidak dapat sukses sendirian, dengan membantu orang lain sebetulnya Anda sedang membantu diri sendiri.

Ketika karyawan yang lain hanya menjadi problem reporter, yang hanya melaporkan apabila terjadi suatu masalah, jadilah Anda seorang problem solver bagi atasan atau rekan kerja Anda. 

Ketika Anda diberi target penjualan, berikanlah pencapaian diatas target yang diberikan. Apalagi sampai dibawah target dan dibiarkan berlarut-larut, bisa-bisa perusahaan mencari pengganti yang lebih baik dari Anda.

Jika Anda ingin benar-benar unggul dalam karier, bisnis, sekolah dan kehidupan, lakukanlah tindakan extra miles. Berikanlah selalu lebih dari yang mereka harapkan pada orang-orang di sekitar Anda, keluarga, pelanggan, perusahaan dan tim Anda. Go the extra miles membutuhkan usaha, tenaga dan waktu lebih. Dari pada Anda mengatakan “ Yang seperti ini sudah cukup “, lebih baik Anda berkata “ Sedikit lagi, akan jauh lebih bagus.”

Are you ready ?

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Rabu, 26 Maret 2014

Perilaku Vital


Seorang sarjana pernah mengajari saya selaku perokok berat untuk relaks. Dia pikir tindakan itu akan menjadi perilaku penting dalam perjalanan saya menghentikan kecanduan merokok. Dia mengambil kesimpulan bahwa pecandu nikotin mengalami banyak tekanan dalam hidup sehingga dengan mengajarkan relaksasi akan membantu mengurangi kebiasaan merokok. 

Ternyata saya orang yang cepat belajar, sebentar saja saya mahir teknik relaksasi. Namun teknik ini ternyata tidak mengurangi kebiasaan merokok saya. Sarjana itu hanya mendapati seorang perokok yang relaks. Membuat orang relaks bukanlah perilaku vital untuk mengurangi kebiasaan merokok.

Untuk membuat perbedaan yang mengesankan pada perilaku manusia, kita perlu berfokus pada perilaku yang berpengaruh tinggi yang bisa memberikan hasil. Lebih spesifik lagi, fokus pada dua atau tiga tindakan vital yang menghasilkan perubahan besar. 

Saat Anda melakukan yang terbaik untuk meningkatkan pengaruh, Anda harus menciptakan tujuan yang jelas, menarik dan terukur. Berikutnya Anda harus mencari tahu perilaku apa yang perlu diubah untuk mencapai hasil itu. Para ahli biasanya tegas dalam hal itu. Mereka tidak menciptakan metode untuk mengubah perilaku sampai mereka dengan seksama mengidentifikasi perilaku apa tepatnya yang ingin mereka ubah.

Kedengarannya seperti tugas berat. Setiap hari berapa banyak perilaku yang diterapkan. Untungnya, dalam hal perubahan, kita tidak perlu mengidentifikasi ribuan perilaku. Biasanya, jika disikapi dengan baik, satu atau dua perilaku vital akan menghasilkan perbedaan besar.

Prinsip Pareto, aturan lama 80-20 menyatakan bahwa apa pun perubahan yang menjadi fokus Anda, 80 persen hasilnya berasal dari 20 persen usaha Anda. Katakanlah ada 10 perilaku yang berbeda, kita harus fokus pada dua teratas, dan hanya dua teratas, bukan 4-5 teratas atau lebih buruk lagi pada ke 10 perilaku sehingga tidak fokus lagi.

Seorang eksekutif bank sesumbar bahwa dia menemukan perilaku vital untuk memenangkan lomba Perahu Naga. Banknya mensponsori tim yang mengikuti lomba dengan perahu cadik di sepanjang Tampa Bay. Perilaku vital apakah yang dia pikirkan ? Mendayung.

Eksekutif itu tertawa, tapi dia juga serius : “ Di tengah balapan, orang-orang mulai berdebat tentang strategi dan taktik, lalu ada yang berteriak, ‘Diam dan dayung saja !‘  Itulah saat Anda memenangkan balapan !” Seringkali perilaku yang jelas tapi kurang diperhatikan itulah yang terbukti vital.

Tindakan atau saat-saat krusial juga mudah ditemukan sebagai perilaku vital. Misalnya, saat seorang montir tidak mencuci tangannya yang kotor terkena oli, masuk ke mobil pelanggan untuk memegang kemudi. Atau seorang dokter yang ketika masuk ke kamar pasien dengan tidak mencuci tangan atau mengenakan sarung tangan. 

Kegagalannya menerapkan satu perilaku sederhana menciptakan banyak masalah. Bahkan masalah yang paling berat akan terselesaikan jika Anda menemukan saat krusial itu, kemudian mengambil tindakan tertentu dengan perubahan besar yang mengarah pada hasil yang diinginkan. Temukan perilaku vital itu, maka Anda akan menemukan kunci untuk melakukan tindakan yang tepat di setiap proyek perubahan.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Selasa, 25 Maret 2014

Briefing Pagi


Beberapa tahun belakangan ini, sebagian besar unit bisnis kami sudah melakukan morning briefing atau shift briefing ( bagi yang bekerja shift ) setiap akan mengawali aktivitas bekerja. Briefing ini sebaiknya dilakukan dengan pesan inti atau agenda yang jelas, disampaikan secara singkat, sekitar 10 sampai 15 menit. 

Sesuai dengan arti kata “ brief ”, yaitu pendek, singkat, maka pesan tersebut harus singkat, padat dan jelas. Yang perlu dicapai adalah menyatukan persepsi kerja, komunikasi dua arah atau interaktif untuk mendeteksi masalah secara dini, memberikan semangat dan melatih sikap, pikiran dan perilaku anggota tim. 

Mengevaluasi tugas sebaiknya tidak dimasukkan sebagai agenda, karena akan memakan waktu lebih lama, tetapi diagendakan tersendiri. Proses evaluasi adalah membahas sesuatu yang sudah terjadi, sedangkan briefing pagi adalah lebih bersifat preventif atau mengantisipasi berbagai kemungkinan kesalahan yang mungkin muncul. Jadi tujuan utama briefing pagi adalah memberikan arahan atau panduan ke depan, supaya bisa bekerja lebih efektif dan produktif.


Setiap atasan langsung sebaiknya memahami bahwa briefing juga sebagai sarana untuk mendidik pikiran, motivasi, sikap dan perilaku karyawan. Anda pasti setuju dengan saya, bila semua masalah teknis yang terjadi, seringkali ditimbulkan oleh masalah-masalah non teknis seperti perilaku negatif, kebiasaan buruk, tidak efektif dan kontra produktif dari manusianya.

Sebagai panduan dalam menyelenggarakan briefing yang baik dan efektif,  setiap briefing sebaiknya dapat mencakup beberapa hal :

Core Briefing ( Arahan Inti ) adalah tentang apa yang mau disampaikan tentang inti dari pola pikir, sikap, perilaku, kebiasaan atau nilai-nilai yang perlu dilatih, diajarkan dan ditanamkan kepada tim kerja. Misalkan tentang “ Kenapa harus mencapai target ?”, “ Menyamakan persepsi tentang tugas “, atau “ Tentang Efektivitas dan Produktivitas Kerja “, dan lain-lain.

Apa yang harus dilakukan ?  Bagian ini bisa berisi tips-tips atau kiat-kiat praktis dan singkat yang perlu dilakukan untuk menerapkan pesan inti, bisa berupa diskusi interaktif antar anggota tim sehingga diperoleh cara yang terbaik mencapai tujuan berdasarkan hasil kesepakatan.

Penjelasan lebih lanjut.  Bagian ini adalah untuk memperdalam pembahasan dengan seluruh anggota tim. Anda bisa membahas bagian ini di kesempatan briefing berikutnya.  Satu topik boleh dibahas berulang-ulang dari sudut tinjauan yang berbeda, untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.

Kisah inspiratif. Cerita atau ilustrasi tetap merupakan cara penyampaian terbaik yang disukai oleh semua orang. Pesan inti yang ingin Anda sampaikan akan lebih mudah diserap, dipahami dan dimengerti oleh setiap orang. Gunakan kisah inspirasi singkat yang sesuai dengan pokok bahasan untuk mendukung pesan yang ingin disampaikan.

Jika Anda ingin menghendaki setiap anggota tim Anda lebih produktif dan berprestasi, pimpinlah pikirannya, bukan tindakannya. Pengaruhilah sikap perilakunya, bukan hanya menegur orangnya. Bentuklah kebiasaan kerjanya, jangan hanya memarahi hasil kerjanya.  Seorang pemimpin harus menempatkan briefing pagi sebagai agenda maha penting untuk mencapai kinerja yang maksimal setiap hari. Selamat berbriefing dengan lebih baik dan efektif !

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Senin, 24 Maret 2014

That's What Friends Are For


Beberapa tahun yang lalu saya pernah diminta tampil untuk menyanyikan lagu “That’s What Friends Are For “ pada sebuah acara mantu seorang sahabat di Jakarta. Sesungguhnya permintaan ini adalah biasa saja kalau cuma diiringi oleh organ tunggal. Masalahnya lalu menjadi serius karena saya harus tampil diiringi oleh seorang komposer kenamaan Indonesia, Dwiky Darmawan, suami dari penyanyi Ita Purnama Sari.

Dua minggu sebelum acara, saya dikonfirmasi tentang nada dasar karena mau disiapkan partiturnya. Dalam hati saya agak khawatir, karena saya bukan penyanyi prof, suara pas-pasan hanya senang menyanyi. Benar juga, ketika hari H, sorenya saya diminta untuk cek sound, agak kedodoran karena grogi syairnya blank. Alhamdulillah, pada saat tampil di acara tersebut semua berjalan lancar. 

Sesuai judul lagu tersebut, “ That’s What Friends Are For “ yang kalau diterjemahkan “Itulah gunanya teman “, saya ingin berbagi cerita tentang hal lain. Dalam berbisnis pada masa sekarang, customer is not a king, tetapi lebih kepada customer is your friend. Pelanggan bukan lagi raja, tetapi lebih kepada seorang teman.

Hal ini juga yang saya terapkan ketika melakukan pelayanan dalam bisnis saya. Bukan bermaksud mengurangi respect kita terhadap pelanggan, tapi meningkatkan sebuah hubungan yang lebih erat dengan pelanggan.

Pernahkah Anda mendengar ? Ada seorang penjual yang berkata, “ Jangan beli banyak-banyak, beli seperlunya saja.” Itulah yang saya lakukan, ketika ada seorang pelanggan mau mengganti empat buah ban mobilnya di tempat saya. 

Setelah saya periksa dengan teliti, saya mendapatkan bahwa hanya dua ban yang perlu diganti, yang dua lainnya masih kondisi 70% sehingga perkiraan masih dapat dipakai selama setahun lagi. Lalu saya berikan saran kepada pelanggan tersebut, dan dia akhirnya setuju mengganti dua saja. 

Sejak itu setiap kali pelanggan tersebut hendak mengganti ban untuk kendaraan lainnya, dia tidak pernah menyebutkan jumlah ban yang mau diganti, tetapi menyerahkan kepada saya yang memutuskannya. Pelanggan percaya. That’s what friends are for (Itulah gunanya teman).

Kalau Anda ke TRAC – Toyota Rent A Car, untuk menyewa 100 unit mobil, sales person TRAC tidak akan langsung kegirangan menerima pesanan tersebut. Mereka akan mempelajari dan menggali kebutuhan yang Anda ajukan secara mendalam. Prosesnya bisa berlangsung cukup lama agar solusi terbaik untuk Anda bisa ditetapkan.

TRAC bukan perusahaan yang menawarkan jasa penyewaan mobil, tapi menawarkan transportation solution atau solusi transportasi. Karena alasan itulah, mereka berusaha memberikan solusi cerdas bagi pelanggan.

“ Kami tidak menjual apa yang kami punya, tapi men-deliver yang dibutuhkan pelanggan. Prinsipnya bukan menjual lebih banyak, tapi menjual efisiensi,” demikian ungkap sang direktur.

Bila Anda mampu membuat biaya yang dikeluarkan oleh pelanggan menjadi lebih efisien daripada yang ingin mereka keluarkan, maka mereka semakin membutuhkan Anda. Cara ini membuat TRAC sukses menjadi market leader karena dapat menekan biaya pelanggan lebih efisien, meskipun harga yang ditawarkan lebih premium dibandingkan harga pesaing terdekatnya.

Dalam berbisnis jadilah teman, bukan pelayan. That’s what friends are for.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA


Sabtu, 22 Maret 2014

Lebih Pintar Mana


Sekitar tiga tahun lalu, saya mengalihkan tongkat kepemimpinan divisi keagenan pelumas Pertamina kepada anak saya, Yuga yang berusia 23 tahun, lulusan S2 double degree Finance dan Statistik dari University of California Santa Cruz. Seperti pada umumnya orang tua, terkadang kita meremehkan kemampuan anak muda karena kita merasa lebih berpengalaman.

Anggapan saya ternyata keliru karena divisi tersebut kemudian maju pesat dalam tempo yang relatif singkat setelah dikelola oleh anak saya. Anak muda ternyata memiliki kelebihan, yaitu berani untuk mencoba hal baru. Keberanian itulah yang tidak membatasi mereka untuk melakukan berbagai terobosan baru. 

Apakah mereka yang muda dan minim pengalaman dapat lebih sukses dari yang tua ? Jawabannya Ya. Marilah kita lihat fakta pengusaha yang sukses di usia muda dibawah ini :

1.
Founder Google
Sergey Brin (25) dan Larry Page (25)
2.
Founder Apple
Steve Jobs (21) dan Steve Wozniak (26)
3.
Founder Microsoft
Bill Gates (20) dan Paul Allen (22)
4.
Founder Facebook
Mark Zuckerberg (20)
5.
Founder Wall-Mart
Sam Walton (26)

Salah satu keuntungan menjadi seorang pengusaha muda, mereka punya semangat dan banyak energi. Dengan tanpa beban dan tidak ada yang dipertaruhkan membuat mereka mampu melihat dan menyelesaikan masalah dengan mindset yang berbeda. Seringkali orang-orang muda ini mampu berpikir “thinking out of the box” dalam mencari solusi.

Dalam hal memanfaatkan teknologi apalagi. Setelah unit bisnis pelumas diambil alih oleh anak saya, setiap sales sekarang menggunakan gadget yang sudah diinstall program yang dapat mempercepat dan memudahkan pekerjaan bahkan pergerakan mereka juga dapat dimonitor setiap saat. Semua computerized. Sedangkan orang-orang tua boleh dibilang masih gaptek alias gagap teknologi, satu kelemahan yang tidak dapat dipungkiri.

Mungkin sudah masanya orang-orang tua harus mengakui dan menerima kesuksesan generasi muda. Bukan masanya lagi kita menganggap anak muda seperti anak kecil. Sudah waktunya kita memberikan peluang kepada mereka, memberikan dorongan agar mereka lebih sukses daripada generasi sebelumnya.

Bukan hanya terhadap anak muda, terhadap anak kecil jaman sekarang pun kita tidak bisa mendidik dengan cara-cara yang lama. Mereka sudah lebih pintar dengan adanya perkembangan teknologi dan media informasi yang sangat mudah diperoleh. 

Suatu ketika seorang anak kecil yang merasa diremehkan oleh ayahnya bertanya, “ Apakah seorang ayah selalu lebih pintar dari anaknya ?”

“ Sudah  tentu,” jawab ayahnya.

“ Siapa yang menemukan listrik, Yah “ tanya anaknya.

“ Sudah tentu Edison,” jawab sang ayah dengan bangganya.

“ Kalau begitu, kenapa bukan ayah Edison yang menemukan listrik ???”

Selamat weekend, sampai ketemu hari Senin. 

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.



Jumat, 21 Maret 2014

Belajar Dari Semut


Temuchin bersembunyi dalam sebuah gua, setelah pasukannya kalah, kocar-kacir dan tercerai berai. Pada saat merebahkan badan karena kelelahan,  ia melihat segerombolan semut yang sedang berusaha mengangkut sebongkah makanan melewati sebuah batu sebesar kepalan tangan. Beberapa kali makanan itu jatuh ketika hampir sampai puncak, namun semut-semut itu berusaha turun kembali dan beramai-ramai menggotongnya naik.

Menonton perjuangan semut-semut yang tak pernah putus asa itu merupakan keasyikan tersendiri. Tanpa sadar Temuchin menghitung berapa kali mereka jatuh dan bangun kembali. Satu kali, dua kali, tiga kali, sepuluh, dua puluh, lima puluh, tujuh puluh, hingga kesekian puluh kali, dan semut-semut itu pun berhasil.

Temuchin tersentak karena mendapat inspirasi. Semut saja bisa ! Itulah lecutan semangat baginya. Dengan mengendap-endap ia keluar dari persembunyiannya, kembali ke markas, menghimpun kembali pasukannya, mengatur barisan, berlatih, dan menanamkan semangat semut-semut sebagai suntikan motivasi bagi pasukannya. Pasukannya menjadi pasukan perang yang dahsyat, yang ditakuti oleh para musuhnya dan di kemudian hari Temuchin dikenal sebagai kaisar Mongol yang sangat hebat, Jenghis Khan.

Dari sekian banyak jenis hewan, semut merupakan species yang luar biasa. Meskipun kecil ternyata semut tidak lemah dan tidak mudah menyerah. Semut pun terkenal dengan kekompakan dan kesetiakawanannya yang sangat tinggi. Ada beberapa hal yang dapat kita teladani dari sikap hidup binatang ini.

Pernahkah Anda mencoba menghentikan sederetan semut ? Apakah mereka akan berhenti total menunggu sampai rintangan itu berlalu ? Sama sekali tidak. Mereka akan mencoba ke kanan ke kiri, berusaha mengitari rintangan, bahkan mendaki rintangan agar dapat menyebrang ke jalan bebas hambatan. Mereka tidak akan berhenti mencoba sampai mendapatkan jalan keluar.

Dari semut, kita juga bisa belajar tentang perencanaan dan persiapan. Semut selalu memikirkan dan mempersiapkan hari esok. Semut adalah guru yang baik untuk membangun sikap antisipasi. Semut selalu menumpuk makanan dalam jumlah yang cukup dengan keyakinan bahwa hari esok bisa saja situasi dan kondisi alam lebih buruk. Mereka memberikan pelajaran tentang pentingnya menghargai waktu untuk mengantisipasi sesuatu di masa yang akan datang. 

Ada pepatah yang mengatakan,” Ada gula ada semut “. Semut selalu mencari kesempatan lebih dulu dibandingkan binatang lain. Penciuman yang tajam selalu memberi mereka kesempatan yang lebih baik. Oleh karena sikap mereka yang terus giat bekerja, ketika kesempatan datang tidak pernah mereka sia-siakan.

Sikap pantang menyerah sampai tujuan tercapai adalah sikap yang membedakan antara mereka yang gagal dan para pemenang. Belajarlah dari semut, mereka tidak pernah menjatahkan diri berapa yang harus mereka capai, namun mereka mengeluarkan segenap kemampuan untuk hasil terbaik mereka. Jangan mundur, maju terus, lihatlah ke depan dan belajarlah dari masa lalu, tetaplah positif dan raihlah kesempatan yang ada di depan mata.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Kamis, 20 Maret 2014

Honesty Is The Best Policy


Jujur tidak selalu mudah. Bagi Anda yang sudah bertahun-tahun terjun di dunia jasa pelayanan tentu sering menghadapi dilema, ada kalanya sangat berat mengatakan yang sesungguhnya di depan pelanggan. Terutama saat kita harus mengatakan sesuatu yang mungkin membuat mereka marah dan tidak senang.

Karena kelalaian Anda mencatat, seorang pelanggan harus menunggu lama pesanannya datang dari produsen. Bisakah Anda jujur mengatakan yang sebenarnya terjadi ? Atau Anda timpakan kesalahan ini pada jasa pengiriman paket atau pihak pengirim ?

Pesanan makanan seorang pengunjung restoran terpaksa dibatalkan padahal dia sudah menunggu lama, karena ternyata bahan-bahannya sudah habis. Bisakah Anda jujur kepadanya ?

Dalam kondisi-kondisi semacam itu kadang kita terpaksa berbohong. Fakta yang sebenarnya sengaja kita tutup-tutupi agar kesalahan tidak dilimpahkan sepenuhnya kepada kita, atau perusahaan kita. 

Pengarang Delivering Knock Your Shock Off Service, Kristin Anderson dan Ron Zemke punya jawaban lugas, “ Katakan yang sebenarnya !” Mereka punya alasan tentang hal ini, yang mereka uraikan di dalam bukunya. Alasannya, kebohongan bisa terbuka setiap saat dan terkadang dengan cara yang mungkin menyakitkan.

Saya sering menemukan beberapa pemasok yang masih bersikap seperti ini. Suatu ketika saya memesan barang kepada pemasok dan mereka bilang ready stock, namun setelah beberapa lama barang tersebut tidak kunjung datang. Dan ketika kita komplainkan kepada mereka, mereka bilang barang pesanan sudah dikirimkan beberapa hari yang lalu. Kebohongan ini akhirnya terbongkar karena ternyata barang pesanan tersebut sudah tidak tersedia lagi dan tidak pernah dikirimkan.

Kejujuran yang mungkin pahit lebih baik dari kebohongan yang hanya manis sesaat. Coba bayangkan Anda sedang menunggu keberangkatan pesawat di bandara. Karena ada pemeriksaan tambahan yang perlu dilakukan, penerbangan Anda terpaksa tertunda dua jam. 

Skenario pertama, maskapai penerbangan tidak memberikan informasi tentang penundaan itu. Sebagai gantinya mereka memberikan layanan ekstra berupa snack dan minuman gratis untuk menghibur kekesalan Anda. Skenario kedua, maskapai penerbangan tersebut secara terus terang menjelaskan tentang penundaan keberangkatan berikut alasan-alasannya. Mana yang Anda pilih ?

Yang pertama, adalah manis di awal. Begitu Anda sadar bahwa jam keberangkatan sudah molor dari yang seharusnya, saat itu pula layanan ekstra akan terlupakan. Anda mulai gelisah dan mencari tahu apa yang terjadi. Ketika Anda mendapatkan jawaban yang sebenarnya, layanan ekstra tadi akan tampak seperti sebuah tipu daya untuk melenakan Anda.

Yang kedua memang tidak membuat Anda merasa nyaman sepenuhnya, namun setidaknya Anda tidak merasa ditipu, sehingga kekecewaan Anda tidak akan seperti kondisi yang pertama.

Pada kondisi-kondisi kritis, bersikap jujur tetap merupakan pilihan yang terbaik bagi perusahaan. Alternatif lain justru mengandung risiko, mungkin lebih enak di awal dalam jangka pendek, namun bisa sangat menyakitkan dalam jangka panjang. Tidak hanya menyakitkan bagi pelanggan, namun juga bagi Anda. Honesty is the best policy ( Kejujuran adalah kebijakan terbaik ).

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Rabu, 19 Maret 2014

Memanfaatkan Sifat Tidak Mau Rugi

Konsep ini diambil dari gagasan seorang pemenang Hadiah Nobel. Selama bertahun-tahun Daniel Kahneman dan para ekonom perilaku lainnya menunjukkan bahwa manusia memiliki kebiasaan khusus yang ganjil dan telah mendarah daging dalam diri kita. Yaitu kita lebih termotivasi untuk menghindari kerugian daripada mendapatkan keuntungan yang sepadan.

Kecenderungan memberikan penghargaan lebih tinggi pada kerugian dibandingkan keuntungan dikenal sebagai “ sifat tidak mau rugi “. Bila kita cermati, sifat ini telah memberikan banyak manfaat kepada kita. Bahkan hal itu membuat kita tetap hidup. Bayangkan mahluk jaman prasejarah yang mempertahankan buruan mereka ketimbang ancaman serangan harimau.

Kita memberi perhatian lebih besar pada potensi kerugian apa pun. Hampir sembilan puluh persen usaha cucian mobil menggunakan sistim komisi, gaji kecil hanya empat puluh persen dari UMR (upah minimal regional), ditambah insentif per mobil yang masuk. Pemilik usaha jenis ini pada umumnya tidak mau mengambil risiko kerugian pada saat sepi dengan memberikan gaji tetap yang lebih besar.

Tidak demikian dengan usaha yang sama yang saya miliki. Saya berani memberikan upah tetap pada mereka seperti layaknya karyawan lain di dalam Gelora Gorup. Pertanyaannya, apakah saya tidak takut rugi pada saat usaha ini sepi ? Siapa yang mau rugi ? Justru karena sifat tidak mau rugi itulah yang kemudian saya manfaatkan untuk memotivasi diri berupaya bagaimana caranya supaya usaha ini jangan sampai sepi atau merugi. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Seorang teman yang rajin ke sasana kebugaran bercerita,” Alasan terbesar saya datang minggu demi minggu adalah saya tidak tahan memikirkan membayar pelatih tapi tidak memanfaatkannya. Pikiran kehilangan uang memaksa saya kembali ke sasana ini.” Lagi pula istri saya melakukan hal yang sama. “ Ini hari Senin !” teriaknya. Apa maksudmu, kau tidak mau pergi berolah raga ? Kau sudah membayar untuknya !”

Tapi berhati-hatilah menggunakan prinsip ini, salah-salah kita bisa merugikan orang atau pihak lain. Seorang pengguna asuransi mobil yang tidak mau rugi, sengaja melempar batu hingga kena kap mesin dan memecahkan kaca mobilnya karena kacanya berjamur sulit dihilangkan. Pihak asuransi pun dirugikan harus mengganti kap dan kaca mobil. Konon katanya atas usulan bengkelnya, yang pasti bukan bengkel Oto Kits, hehehe....

Seorang karyawan menetapkan tujuan kuliah malam serta mengerjakan tugas setiap minggu. Dia sengaja membeli dua tiket nonton bioskop yang hanya boleh digunakan bersama pacarnya setiap kali mencapai tujuan. Katanya, “ Semua bantuan dan dorongan memfokuskan perhatian pada tujuan jangka panjang untuk memperbaiki karier saya. Namun kencan akhir pekanlah yang membantu saya tidak pernah bolos kuliah bangun pagi mengerjakan tugas, menyelesaikan kuliah dan akhirnya mendapatkan promosi.” 

Jadi, bagaimana Anda bisa menggunakan sifat tidak mau rugi ini untuk keuntungan Anda. Tempatkan sesuatu yang Anda pedulikan ke dalam risiko, pertaruhkan untuk keberhasilan Anda. Implikasinya pada perubahan pribadi cukup jelas. Jika menempatkan sesuatu yang Anda hargai pada situasi yang berisiko, Anda lebih mungkin berubah daripada hanya mengandalkan bonus, hadiah atau insentif lain. Untuk menghasilkan perubahan perilaku yang lebih baik, Anda bisa kombinasikan dengan beberapa metoda lainnya. 

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Selasa, 18 Maret 2014

Kita Akan Menjadi Seperti Apa Yang Kita Pikirkan


Salah seorang pembaca mengatakan,” Saya membaca artikel bapak yang pas sekali dengan diri saya.  Saya ingin sekali maju tapi saya mempunyai masalah tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan sulit bergaul, Pak .” 

Banyak sekali orang yang terbelenggu oleh beliefs yaitu keyakinan-keyakinan yang tertanam di dalam pikiran seseorang bahkan sampai ke alam bawah sadarnya hasil dari pengalaman masa lalunya yang diyakini masih berlaku sampai saat ini. 

Keyakinan ini akan memengaruhi sikap seseorang terhadap setiap hal yang dialaminya. Sikap Anda sangat bergantung dengan keyakinan yang Anda miliki. Keyakinan bisa mengubah hidup Anda menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi lebih buruk.

Seperti halnya pembaca tadi yang meyakini bahwa dirinya tidak bisa berkomunikasi dengan baik dan sulit bergaul, sehingga menghambat dan membelenggu dirinya untuk tumbuh dan berkembang. Alih-alih mencari solusi terhadap kekurangannya, namun justru menghakimi bahwa dirinya memang seperti itu.

 Earl Nightingale, seorang maha guru motivasi telah merumuskan kunci sukses hanya dengan enam kata singkat. “ We Become What We Think About “ Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Apakah demikian ? Mari kita simak cerita berikut ini.

Dua orang pramuniaga bekerja di dua toko berbeda yang menjual produk sejenis. Pramuniaga pertama mempunyai sikap yang positif, setiap kali pelanggan mampir ke tokonya, ia selalu berpikir dan yakin bahwa si pelanggan itu pasti membeli. Dia selalu memotivasi dirinya sendiri dengan berkata dalam hati, “ Pasti beli, pasti beli.” Hal ini berdampak positif terhadap perilakunya, sehingga membuat pramuniaga tersebut berekspektasi positif, tampil lebih percaya diri, sorot mata positif, antusias, bahasa tubuhnya tampak meyakinkan sehingga sikap ini juga menular ke pelanggan yang masuk ke tokonya. Pada akhirnya, banyak pelanggan yang membeli.

Berbeda halnya dengan pramuniaga kedua. Pramuniaga ini selalu berpikir bahwa pelanggan yang masuk ke tokonya sebagian besar hanya ingin melihat-lihat dan tidak akan membeli. Oleh karena pramuniaga ini selalu berpikir demikian, maka muncullah ekpektasi negatif di dalam dirinya. Hal ini mengakibatkan ia melayani dengan tidak antusias, tidak bersemangat, acuh tak acuh terhadap setiap pelanggan yang datang. Hal ini juga menular ke pelanggannya sehingga para pelanggan pun sangat sedikit yang membeli.

Kebanyakan manusia yang tidak berani mencoba atau ragu-ragu untuk melakukan sesuatu bersumber dari kurangnya rasa percaya diri. Sebagian orang yang sukses memulai usahanya dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah atau bahkan sama sekali tidak ada. Akan tetapi, kemudian melakukan usaha yang begitu keras untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka bisa.

Begitu pula dengan diri Anda , jika Anda melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh orang yang penuh percaya diri, Anda juga akan merasakan hal yang sama dan hasil yang sama. Keyakinan Anda sangat mempengaruhi realitas kehidupan Anda. Anda akan berperilaku sesuai dengan apa yang paling Anda yakini. Hanya dengan keyakinan yang begitu positif, Anda akan mampu melakukan sesuatu yang menurut orang lain tidak mungkin menjadi mungkin.

“ Your belief determines your action and your action determines your results, but first you have to believe “ Keyakinan Anda menentukan tindakan Anda dan tindakan Anda menentukan hasil Anda, tapi pertama-tama Anda harus percaya.-Mark Victor Hansen.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Senin, 17 Maret 2014

Kapan Karyawan Gelora Group Selalu Tersenyum ?


Kalimat pertanyaan seperti judul ini, sering menghantui saya saat merenung, membayangkan para karyawan selalu tersenyum dalam melayani para pelanggan, benar-benar penuh keramahan. Saya sedang mencari jawabannya, apakah Anda bisa membantu?

Perusahaan Keihin Electric Express Railway di Jepang telah mengultimatum para karyawannya untuk terus tersenyum demi menjaga citra perusahaan yang selalu ramah kepada pelanggannya. Untuk mengawasi para karyawannya, Keihin telah memasang sebuah sistem canggih untuk mendeteksi senyuman para karyawannya sepanjang jam kerja.

Dalam dunia bisnis jasa, konsistensi dalam memberikan pelayanan yang ekselen semakin menjadi tuntutan dan harapan pelanggan di abad ini. Banyak perusahaan yang berlomba-lomba memperbaiki diri, memberikan layanan yang benar secara konsisten, untuk memperoleh kepercayaan agar para pelanggan tidak lepas dari genggaman.

Memberikan layanan secara benar tidak bisa dilakukan dengan tempo suka-suka, melainkan harus dengan ritme yang stabil, menjadi standard pelayanan minimal suatu perusahaan. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar karyawan kita dapat menunjukkan perilaku yang konsisten kepada pelanggan, ala karyawan Keihin.

Senyuman, keramahan, kecepatan layanan dan sejenisnya adalah yang tampak di wajah sebuah perusahaan. Di dalam tubuh perusahaan pasti harus ada budaya perusahaan yang dibangun dengan penuh keseriusan, sehingga menampilkan wajah perusahaan seperti yang kita inginkan.

Didalam budaya perusahaan ada nilai-nilai yang diterima dan disepakati bersama oleh seluruh karyawan perusahaan, sehingga karyawan perusahaan seolah memiliki warna yang sama.  Budaya perusahaan bisa menjadi semacam papan petunjuk bagi karyawan, kapan harus ke kanan, kapan harus ke kiri. Bagaimana kalau begini, bagaimana pula kalau begitu, dan seterusnya.

Mungkin Anda pernah mendengar komentar semacam ini, “ Kalau ngopi di Starbucks rasanya nyaman karena semua pegawainya selalu tersenyum.” “ Oooh...kamu habis nyuci mobilmu di Oto Kits ya? Memang disana orang-orangnya kerja cepat, hasilnya bersih, mengkilap dan air tidak menetes sedikit pun.” “ Kalau di hotel A, pasti orangnya friendly banget, kayak di rumah sendiri”

Sebagai pedoman bagi perilaku karyawan, budaya perusahaan dapat memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah sisi tegasnya, yaitu ketika budaya perusahaan diadopsi dengan sistem reward dan punishment yang ada di perusahaan. Jika Anda melanggarnya Anda akan mendapat sanksi yang jelas, bisa diberi surat peringatan atau bahkan hingga pemutusan hubungan kerja.

Wajah yang kedua adalah sisi yang lebih halus. Ini bisa terjadi ketika budaya perusahaan sudah mengakar kuat di dalam perusahaan, Akibatnya, yang melanggar hanya akan mendapat sanksi sosial dari orang lain. Tidak hanya dari sesama karyawan bisa jadi dari para pelanggan. “ Anda kan dari perusahaan Gelora Group, kok cara melayani pelanggan seperti ini ? Protes semacam ini contohnya.

Tim HRD di Gelora Group mempunyai pekerjaan rumah (PR) untuk menyaring hanya orang-orang yang berkarakter tepat yang bergabung di perusahaan, agar budaya perusahaan dapat tumbuh dengan baik. Jika skor nya merah, tidak peduli sepintar apa pun si kandidat karyawan, dipastikan proses rekrutmen tidak dilanjutkan karena tidak ada kecocokan dengan budaya perusahaan.

Kembali ke  pertanyaan “ Kapan Karyawan Gelora Group Selalu Tersenyum ? “ Di akhir tulisan ini, saya baru memperoleh jawabannya. Ya, kalau perusahaan memang merekrut orang-orang yang suka tersenyum !



Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Sabtu, 15 Maret 2014

Bila Kenyataan Tidak Sesuai Dengan Harapan


Belakangan saya aktif di facebook karena saya ingin berbagi hal-hal positif dengan banyak orang, terutama para karyawan dan para sahabat. Jadi hampir setiap hari saya membukanya, kemudian share a link artikel di blog saya.

Saya sempatkan juga untuk komentar dan membaca status teman-teman yang di facebook, ada yang lucu-lucu, ada yang positif tapi juga tidak sedikit yang statusnya negatif seperti mengeluh, menyalahkan, marah atau kecewa.


Dalam hidup pasti kita sering menghadapi situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan kita. Memang tidak semua merespons negatif, sebagian orang menyikapinya dengan lebih bijaksana terhadap kejadian tersebut dengan mengambil hikmah dan mensyukurinya. Saya ingin berbagi bagaimana cara kita merespons ketika menghadapi situasi tersebut.


Yang pertama adalah dengan memiliki kendali terhadap hal yang dimaksud. Jadi, untuk segala sesuatu yang berada di bawah kendali Anda, Anda dapat melakukan apa pun yang diperlukan untuk membuat segalanya lebih baik.

Kalau berat badan Anda tidak sesuai harapan, Anda segera melakukan program diet. Kalau Anda sering terlambat bangun, belilah alarm untuk membangunkan Anda. Kalau Anda sakit-sakitan, Anda bisa segera merubah pola hidup Anda. Kalau Anda tidak percaya diri ketika berbicara di depan publik, segera ikut kursus public speaking.

Cara kedua, adalah menggunakan pengaruh Anda. Cara ini dapat Anda gunakan bila menghadapi segala sesuatu yang berkaitan dengan orang lain. Perilaku orang lain memang tidak dapat kita kendalikan, tapi dapat kita pengaruhi dengan cara berkomunikasi.

Kalau bawahan Anda sering terlambat ke kantor, Anda bisa memberikan umpan balik kepadanya agar ia mengubah perilakunya tersebut. Kalau atasan Anda mengeluarkan kebijakan baru yang tidak sesuai dengan keinginan Anda dan teman-teman maka Anda dapat menyampaikan aspirasi Anda tersebut dan berusaha memengaruhi atasan agar dapat meninjau kembali keputusan itu. Kalau pasangan Anda boros dan berperilaku semaunya sendiri, Anda dapat mengajaknya berdiskusi untuk memperbaiki sikapnya.

Cara ketiga, adalah menggunakan paradigma Anda. Cara ini dapat kita gunakan ketika cara pertama dan kedua tidak dapat kita lakukan, karena kita tidak memiliki kendali maupun pengaruh terhadap hal tersebut. Situasi ini kita siasati dengan mengubah cara pandang atau paradigma kita.

Bagaimana kita bisa menghadapi kenaikan harga barang-barang yang terus meroket? Bagaimana menghadapi lalu lintas yang semakin macet? Bagaimana menghadapi kejahatan yang begitu marak akhir-akhir ini? Kalau Anda penguasa negeri ini mungkin bisa melakukan sesuatu. Tapi kalau Anda rakyat biasa apalah daya kita untuk mengubah semua itu. 

Dalam situasi yang seperti ini yang bisa kita lakukan adalah mengubah paradigma dan mindset kita. Kita bisa menyiasati harga-harga yang meningkat dengan mengubah gaya hidup dan perilaku konsumsi kita. Kita bisa menyiasati kemacetan lalu lintas dengan berangkat lebih awal. Kita bisa menyiasati menghindari kejahatan dengan tidak terlalu sering keluar malam.

Jadi, ketika kita menghadapi situasi yang tidak dapat kita apa-apakan, yang harus kita lakukan adalah mengubah perilaku kita sendiri. Betul, situasinya tetap tidak berubah tetapi dengan mengubah diri kita maka dampak dari situasi buruk itu tidak akan memperburuk diri kita. Oleh karena itu apa pun yang terjadi, terimalah hal itu dengan lapang dada, kita berhak untuk selalu berbahagia. 

“ Jika tak mampu bersyukur atas apa yang kau peroleh, bersyukurlah karena hal yang tidak kau dapatkan “ Anonim


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Jumat, 14 Maret 2014

Apakah Fokus Anda ?

Seorang anak berusia tujuh tahun memiliki kegemaran makan ikan bandeng goreng. Seperti kita tahu bahwa ikan bandeng adalah ikan yang lezat, namun mengandung tulang-tulang halus di sekujur tubuhnya dan hal ini sangat berbahaya bagi anak kecil. Setelah sang ibu memisahkan daging dari duri-duri ikan, barulah ia memberikannya kepada sang anak. Itulah yang selalu dilakukan agar si anak dapat memakannya dengan lahap.


Pada suatu ketika, sang ibu tidak memisahkan daging dan duri ikan, tapi ia memberikan langsung kepada si anak, dengan tujuan agar si anak mau belajar. Setelah si anak mencoba beberapa lama untuk memisahkan duri-duri ikan dari daging, akhirnya ia putus asa. 

“ Saya tidak bisa makan Bu, banyak sekali durinya,” ujar si anak.

Sang ibu dengan tenang menjawab, “ Nak, kamu coba lihat banyak mana daging dan durinya ?

“ Banyak dagingnya Bu, “ timpal si anak.

“ Nah, kamu tahu mengapa kamu tidak bisa ? Itu karena kamu terlalu fokus pada durinya bukan pada dagingnya.”

Sikap kita sangat menentukan bagaimana cara pandang kita terhadap sebuah persoalan. Bagi orang-orang positif, suatu masalah dapat menjadi titian tangga menuju keberhasilan. Orang-orang positif selalu menjadikan setiap masalah sebagai pelajaran berharga yang akan semakin mendekatkan mereka dengan kesuksesan. Sementara itu, bagi orang negatif, suatu masalah bisa menjadi tembok penghalang dan batu sandungan. Sesungguhnya kedua-duanya benar, hal yang membedakan adalah cara pandang masing-masing terhadap suatu permasalahan.

Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang anak kecil yang mengalahkan raksasa. Di suatu desa ada seorang raksasa yang kebiasaannya adalah menakuti dan menculik anak-anak kecil sebagai mangsanya sehingga seluruh penduduk desa resah dan ketakutan.  Suatu ketika datanglah seorang anak muda dari desa lain yang memiliki tubuh kurus dan tidak terlihat memiliki kekuatan. Mendengar cerita tentang raksasa jahat, si pemuda bertanya,” Mengapa kalian tidak membunuh raksasa itu ?” Dengan mimik ketakutan penduduk desa menjawab,” Bagaimana kami bisa membunuh, ia terlalu besar untuk dipukul.” Dengan senyum percaya diri sang anak muda langsung menimpali,” Ia tidak terlalu besar untuk dipukul, tetapi ia terlalu besar untuk lolos dari pukulan kita.” Singkat cerita, konon sang anak muda dapat mengalahkan sang raksasa dengan sebuah ketapel dan beberapa buah batu.

Saya harap Anda menangkap pesannya, bahwa meraih apa yang Anda inginkan dalam kehidupan ini tidaklah menuntut formula ajaib atau unsur-unsur rahasia. Sukses bukanlah sulap atau kepandaian bersilat lidah melainkan belajar fokus. Fokuslah kepada apa yang efektif ketimbang yang tidak efektif. Tetapi banyak orang masih fokus pada hal-hal yang keliru. 

Mereka-mereka yang hidupnya pas-pasan setiap bulannya, belum mempelajari bagaimana meraih kepandaian dalam soal keuangan. Mereka fokus pada pembelanjaan ketimbang meraih dasar yang kuat untuk masa depan. Mereka yang kariernya mentok dalam suatu pekerjaan karena mereka tidak fokus pada bidang-bidang dimana mereka cemerlang. Dalam persoalan kesehatan pun mereka kurang sadar, mereka yang punya masalah dengan obesitas atau kegemukan, karena mereka fokus kepada terlalu banyak makan dan olahraga terlalu sedikit. 

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Kamis, 13 Maret 2014

Jenuh Di Tempat Kerja


Seorang pemuda mengeluh kepada saya bahwa dia merasa terganggu sekali dengan rasa bosan di tempat kerjanya. Padahal, menurutnya sudah sesuai dengan apa yang dia cita-citakan semasa kecil ingin bekerja di sebuah perusahaan perbankan. Bahkan sesuai pula dengan kelulusannya di bidang Ekonomi Akutansi.

“ Setelah lima tahun, saya merasa bosan bekerja disitu. Kalau keluar, mau kerja apa lagi ? Saya butuh sesuatu yang baru, tapi apa ?, katanya. 

Rasa bosan adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi, yang dapat menghinggapi siapa saja.  Walau pun perasaan ini wajar, kalau dibiarkan bisa menjadi sangat berbahaya. Coba bayangkan kalau Anda merasa bosan hidup. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Bosan sesungguhnya adalah sebuah pertanda ada yang salah dengan diri kita.

Saya sendiri punya pengalaman bekerja dua puluh tahun lebih di Pertamina, pekerjaannya juga itu-itu saja. Saya mencoba mengatasi kebosanan dengan mencoba memikirkan cara-cara baru untuk lebih sukses dan puas terhadap hasil kerja. Kalau saja kita mau sedikit berpikir pasti ada saja cara-cara kerja kita yang sesungguhnya kurang praktis, tidak efektif atau pun efisien yang dapat dibenahi.

Jangan biarkan rasa bosan ini mengusik kita, kita harus segera menanganinya. Agar kita dapat menanganinya dengan baik, kita harus tahu yang menjadi penyebab dari rasa bosan kita. Menurut hemat saya, ada empat penyebab rasa bosan di tempat kerja.

Pertama, adalah karena situasi dan kondisi di kantor. Sering disebut bosan situasional. Rasa bosan seperti ini adalah rasa bosan yang intensitasnya paling rendah. Biasanya disebabkan terjebak oleh rutinitas kerja, bertemu dengan rekan kerja yang sama, atasan yang sama dan lingkungan yang sama. Kalau ini yang terjadi, ambillah jarak dengan pekerjaan Anda. Ambillah cuti tahunan, liburan dan bersenang-senanglah beberapa saat agar pikiran Anda segar kembali.

Kedua, karena mungkin kemampuan Anda sudah melebihi tuntutan kerja. Wajar kalau bosan, karena pekerjaan yang Anda hadapi sudah tidak menantang lagi. Ibarat Anda sudah duduk di perguruan tinggi, kemudian disuruh mengerjakan soal-soal anak sekolah dasar. Yang perlu Anda lakukan adalah kepantasan untuk naik kelas. Tunjukkan prestasi Anda kemudian diskusikan dengan atasan Anda mengenai kemungkinan ini. Mungkin dengan cara meminta pekerjaan baru yang memiliki tanggung jawab lebih besar.

Ketiga, penyebabnya mungkin karena Anda sudah tidak mempunyai mimpi lagi. Hidup tanpa mimpi seperti hidup tanpa nyawa. Tanpa mimpi, hidup tidak bergairah lagi. Anda harus selalu menaikkan tujuan Anda setiap kali Anda mencapai posisi tertentu, janganlah berlama-lama disitu sampai Anda merasa bosan. Bila ini terjadi, maka Anda perlu mencari waktu luang untuk merenungkan apa yang sesungguhnya Anda cari dalam hidup ini.

Keempat, adalah karena Anda tidak menemukan makna dalam pekerjaan Anda. Maukan Anda digaji untuk bekerja tetapi hanya disuruh berdiam diri saja ? Kalau Anda normal pasti tidak mau, karena rasanya bukan nyaman tapi tersiksa. Sesuatu yang tidak bermakna pasti membosankan. Jadi, yang dicari manusia dalam pekerjaan sesungguhnya bukan hanya uang tetapi makna dari pekerjaan itu sendiri. Cari dan lihatlah manfaat dari pekerjaan yang Anda lakukan sekarang, mungkin bagi para pelanggan, bagi diri sendiri, atau bagi orang lain. Jika Anda bisa menemukannya, kebosanan akan semakin menjauh dari kehidupan Anda.

Hanya ada dua cara menjalani kehidupan kita. Yang pertama seolah tidak ada yang luar biasa. Kedua seolah segala sesuatu adalah luar biasa.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.