Bersama jajaran Manajemen dan Karyawan yang dibawahinya.

Liburan bersama keluarga

Bersama istri tercinta "Laniati Dewi".

Hidup hanya sekali...Hiduplah dengan Luar Biasa !!

Bersama manajer pelumas "Sutoyo Wijaya" salah satu divisi yang dibawahinya

Jumat, 31 Oktober 2014

Tentang Diri Sendiri


Pada acara diskusi sesi pertama para karyawan dari dua pom bensin dengan tim bintang dan direksi di ruang meeting pagi itu berlangsung meriah. Peserta dibagi tiga kelompok sesuai dengan deretan tempat duduk mereka. Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang kurang lebih. Tujuan dari diskusi kali ini adalah untuk evaluasi tentang kenapa masih ada spbu yang nilai auditnya belum maksimal.

Setiap kelompok diwajibkan menuliskan minimal dua pertanyaan yang diambil dari 4 materi yang pernah diberikan beberapa waktu yang lalu. Materi-materi itu terdiri dari 3 materi yang membuat para karyawan mudah dalam melaksanakan pekerjaan dan 1 materi tentang hak dan kewajiban. Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang akan dijadikan bahan diskusi dalam pertemuan itu.

Topik pertanyaan yang diajukan dari pertama sampai habis, ternyata hanya berputar-putar sekitar hak dari karyawan semata, tidak satu soal pun menyinggung tiga materi yang lain, jauh dari harapan tim. Padahal, dari nilai hasil audit pencapaian kedua spbu itu masih memprihatinkan, bahkan boleh dibilang tidak ada kemajuan sama sekali sejak dimulainya program spbu bintang setahun yang lalu. 

Hal tersebut mengejutkan, namun sekaligus menjadi pembelajaran karena tim jadi tahu persoalan kenapa mereka tidak mengalami kemajuan selama ini. Pola pikir para karyawan yang berkutat pada  diri mereka sendiri jelas mempengaruhi prestasi mereka sehingga tertinggal dari spbu lain. Pola pikir ego sentris, yang berpusat pada diri sendiri, memang sering membuat kita terperangkap dalam kekeliruan-kekeliruan.

Keliru jika menganggap diri sendiri adalah orang yang paling penting, paling layak diurus, paling kaya, paling harus selamat, paling menderita dan paling-paling yang lain. Kekeliruan itu kadang amat kuat, sehingga kadang membuat kita jadi orang egois, menganggap orang lain tidak penting, menganggap remeh orang lain, selalu mengutamakan hak ketimbang kewajiban kita.

Penumpukan ego sering dilakukan tanpa disadari, bisa jadi berawal dari filosofi yang baik dan benar, seperti untuk bisa memberi maka sebelumnya kita harus memiliki. Tidak mungkin kita bisa memberi, bila tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Untuk dapat menolong orang lain, kita harus kuat menolong diri sendiri lebih dahulu. Jadi, muaranya selalu pada diri sendiri.

Penafsiran filosofi seperti itu sering membuat kita mudah tergelincir sedemikian rupa. Terbukti dari banyak pihak yang akhirnya mengartikan memiliki bukan hanya dengan sekadar ‘cukup memiliki’ tetapi juga harus ‘banyak memiliki’ dan berkembang lagi menjadi ‘ memiliki amat banyak sekali’ sebelum akhirnya ‘semua ingin dimiliki’. Kepemilikan bisa jadi sumber yang mengacaukan segalanya.

Pada dasarnya, diri sendiri dan orang lain adalah dua gambar pada sebuah mata uang yang sama. Mengesampingkan salah satu, tak beda dengan mengesampingkan yang lainnya. Merusak salah satu gambar, sama dengan merusak semuanya. Maka, mencintai diri sendiri tanpa mencintai orang lain sesungguhnya merupakan sebuah kebodohan. Menghormati diri sendiri tanpa menghormati orang lain jelas sebuah kekeliruan.

Namun celakanya, penyakit itulah yang sekarang sedang menghinggapi diri kita semua.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Rabu, 29 Oktober 2014

Kematangan Kita


Tadinya saya tidak percaya dan cuma tertawa ketika seorang teman berkata bahwa kematangan kita sebagai manusia bisa diukur dari kualitas mimpi-mimpi kita. Karena saya termasuk orang yang tidak  perhatian dengan mimpi-mimpi. Namun, kali ini saya menarik pendapat itu setelah saya terbangun dari tidur karena bermimpi yang sangat jelas, siang bolong pula !

Mungkin karena hari minggu, saya harus bangun pagi untuk pergi beribadah, sekitar jam sepuluhan saya mengantuk sekali dan memilih tidur lagi sebab hari ini tak ada yang harus saya selesaikan selain rencana membuat tulisan di kolom ini. Itu pun bisa nanti-nanti toh saat itu belum datang ide untuk dituliskan. Maka, terjadilah sebuah mimpi yang tidak bermutu itu.

Di mimpi itu, seolah saya tersesat ketika berjalan kaki karena salah mengambil jalan tembus sampai masuk ke pelosok kampung yang sama sekali asing dan kesulitan kembali ke hotel. Menemui jalan buntu berulang-ulang, harus berjalan memutar agar bisa ketemu jalan besar bahkan sampai harus menaiki tangga curam yang menakutkan, jika salah atau lemah bisa terjatuh dan tewas. Sungguh mengerikan !

Di dalam perjalanan itu, saya juga bertemu sekelompok orang yang mutunya menyebalkan, sama sekali tak mau memberikan bantuan yang saya butuhkan. Sebelum akhirnya lega, bertemu dengan orang baik yang mau mengantar sampai ke jalan besar, sehingga saya dapat pulang naik taksi ke hotel. Saat itu saya terbangun gara-gara punya hutang tulisan dan ingin segera melunasinya dengan menuliskan kisah ini.

Mimpi yang sempat menegangkan hati saya, sebenarnya tak lebih hanya sekadar mimpi hasil dari rembesan persoalan sehari-hari yang mengendap dalam pikiran. Karena abis mendengarkan sharing  seorang staff yang kesasar ketika saya beri tugas ke luar kota, menjelma jadi mimpi itu. Maka, jelas sudah mutu saya sebagai manusia yang ternyata masih suka membawa persoalan sepele ke dalam tidur.

Jika siangnya saya marah terhadap seseorang, bukan tidak mungkin saya ketemu lagi dalam mimpi di malam hari dan saya pukuli sampai kelenger. Jika sehari-hari kita ditekan oleh kebutuhan uang yang mendesak, bukan mustahil kita mengusung persoalan itu untuk dipecahkan di dalam mimpi, untuk kemudian terbangun dan kecewa lagi.

Jika dalam kesendirian, dalam keadaan yang paling tenang pun saya masih gampang terguncang oleh persoalan-persoalan entah bagaimana kalau di tengah keramaian, dalam kehidupan sehari-hari. Apa jadinya, kalau saya melihat orang yang menipu saya tambah sukses dan tambah kaya. Pasti orang itu akan muncul dalam tidur saya untuk saya hajar habis-habisan. Jadi, dalam keadaan terjaga maupun tertidur, saya ini orang yang selalu kelelahan.

Dalam kelelahan seperti itu, maka tidak heran jika kepala saya sering terasa pusing, perut kembung secara berkala dan leher sering kaku. Jangan-jangan bukan dikarenakan penyakit medis, tetapi hasil dari cara menyikapi setiap persoalan yang keliru akibat mental yang kurang matang. Pantas pula jika resep dokter manapun tidak menyembuhkan.

Jika Anda juga sering membawa persoalan ke dalam mimpi, mungkin kita perlu belajar bersama. Jika Anda menderita seperti saya, mari kita berobat bersama.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Senin, 27 Oktober 2014

Mesin Karaokeku


Seorang teman menyarankan saya agar jangan terlalu fokus pada pekerjaan sehingga sering merasa kurang sehat belakangan ini. “ Cobalah tinggalkan pekerjaan sejenak  dan nikmati hobimu. “katanya. ” Obatnya hanya itu,” tambahnya lagi. Pendapat teman mungkin ada benarnya juga walaupun bukan seorang dokter. Tapi, saat saya renungkan tentang hobi sendiri ternyata tidak ada yang benar-benar menjadi hobi sejati.

Dulu saya punya hobi main catur, terakhir bermain sebelas tahun yang lalu. Kalau pun sekarang jadi pengurus karena kecintaan dengan olah raga ini, sudah tidak dapat dikategorikan sebagai hobi tapi lebih menjadi pekerjaaan. Jadi, ketika memikirkan hobi malah saya bingung sendiri. Hobi seharusnya adalah sesuatu yang menyenangkan sehingga bisa menjadi sebuah hiburan.

Jika bicara soal hiburan, saya jadi teringat dengan mesin karaoke yang sudah lama menjadi penghuni rumah, rasanya memang sudah lebih dari setahun hanya sebagai barang pajangan saja. Padahal saat masih baru-barunya barang itu, hampir setiap hari jadi barang yang paling digemari seluruh anggota keluarga. Ada saja yang menggunakannya untuk bernyanyi. Sekarang jadi barang yang terlupakan.

Tidak sepadan dengan ketika saya menginginkannya dulu, harus susah payah mencari mesin karaoke yang termodern, terlengkap yang sudah pakai hardisk sebagai media penyimpan tiga puluh lima ribu lagu dan bisa di update dengan lagu-lagu yang baru. Namanya saja barang terlupakan, maka wajar jika hanya debu yang kian tebal menutupi wajahnya, karena kita telah menjadi kurang perhatian kepadanya. 

Persis sama dengan semangat kita dalam bekerja yang sering hangat-hangat tahi ayam. Saya pernah kagum dan terkesima dengan para karyawan yang mempunyai inisiatif untuk mengadakan pelatihan, diskusi antar mereka di luar jam kerja demi meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dalam bekerja. Tapi, rupanya cuma sekali dua kali berlangsung akhirnya semangat itu padam dan kegiatan di luar jam kerja tak pernah dilakukan lagi dan jadi sesuatu yang terlupakan.

Maka, saat melihat mesin karaoke itu timbul rasa iba, terlalu lama terbengkelai. Ia seperti kehilangan kasih sayang ibarat bunga yang kurang siraman, mungkin juga seperti saya yang terlalu sibuk bekerja lupa hiburan. Padahal didekat saya ada hiburan, barang itu menyediakan lagu-lagu kesukaan yang bisa saya nyanyikan setiap saat, namun saya mengabaikannya terlalu lama. 

Segera saya bersihkan debu yang melekat di tubuhnya, lalu saya nyalakan dan mengatur volume dari soundnya,  mencoba mik tanpa kabel yang ternyata masih berfungsi,  kemudian mengambil remote dan mencari lagu-lagu yang ingin saya nyanyikan. Terdengarlah suara musik yang indah membahana di seluruh ruangan rumah saya.

Mulailah saya beryanyi, meskipun tak ada yang mendengarkan selain diri saya. Kuhayati nyanyian itu seperti sedang konser di sebuah gedung yang megah. Jika ada penonton yang bertepuk tangan, itu juga cuma saya. Jika ada yang mengomel karena suaranya kurang pas, pengomel itu akhirnya juga cuma saya. Karena penyanyi dan penontonnya saya rangkap sendirian.

Hasilnya mujarab, semua pekerjaan terlupakan, ketegangan yang selama ini saya rasakan lenyap tak berbekas sebagai gantinya yang hadir cuma kegembiraan. Selama ini saya lupa bahwa sesungguhnya saya juga butuh hiburan sebagai penyeimbang beban pekerjaan dan hanya butuh sebuah kemauan, karena kegembiraan ada di mana-mana, termasuk di dalam mesin karaoke yang terlupakan.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Jumat, 24 Oktober 2014

Sakit Salah Waktu


Ada satu saat dimana jatuh sakit datang secara tak terduga. Kadang datangnya salah waktu, kenapa harus pas hari Jumat, hari ketika aku seharusnya sehat karena besok pagi pergi memimpin rapat di Semarang. Membayangkan perjalanan yang harus ditempuh saja, sudah membuat sakitku semakin parah. Tapi membayangkan apabila rapat ini ditunda hanya gara-gara aku sakit, cuma melahirkan persoalan baru yang lain lagi. 

Mengingat hal itu, maka aku harus memakai anjuran pakar manajemen tentang prioritas. Jika saja segar bugar aku bisa memenuhi kuadran tertinggi yaitu ingin dan harus dilakukan. Tapi jika kondisi sakit seperti ini, tentu aku memilih tidak ingin dan tidak harus dikerjakan, cuma akibatnya akan timbul persoalan yang kacaunya bisa kubayangkan. Jadi, walaupun tidak ingin, tak ada pilihan lain kecuali berangkat rapat.

Pilihan yang tidak bisa dipilih, karena sudah tidak mungkin menggeser waktu lagi. Jadwal pekerjaan lain sudah mengantri, kalau pun sehat saja masih harus sedia cadangan tenaga ekstra apalagi ketika sakit begini. Jadi, datangnya sakit ini benar-benar sangat tidak kuharapkan, karena sekali tidak dapat melaksanakan hanya akan jadi timbunan hutang persoalan.

Sepanjang perjalanan di mobil, aku lebih banyak memejamkan mata berusaha beristirahat kalau bisa tidur sambil berharap sakitku mereda dengan sendirinya. Tapi namanya istirahat di mobil yang selalu bergerak-gerak, bukannya sembuh malah bertambah parah. Maka, benar nasihat dokter ada kondisi sakit yang memang butuh istirahat total, bangun dari tempat tidur pun dibatasi. 

Jadi betapapun akhirnya rapat bisa berjalan sesuai keinginan, telah jelas hitungan-hitungannya bagi sakit yang harus kuderita. Sakit akan makin lama mengeram di tubuhku, pekerjaan menulis di kolom ini juga akan tertunda, meskipun mungkin bisa dipahami oleh yang menunggu. Tapi meski dipahami, aku tetap merasa bersalah dalam hati.

Sebagai gantinya, aku akan segera menulis secepatnya paling tidak sebuah tulisan dalam minggu ini, karena minggu berikutnya aku khawatir kembali tidak punya waktu lagi untuk menulis. Jadi, bahkan saat sakit pun, saat seharusnya mengistirahatkan tubuh dari semua pikiran dan beban pekerjaan menjadi  persoalan tersendiri, karena aku masih membutuhkan sebuah ide.

Jelas sudah mutuku sebagai manusia yang tidak mudah melepaskan diri dari hal-hal sepele. Betapa melelahkan hidup seperti ini. Karena dalam sakit, masih mengkhawatirkan tugas-tugas yang belum diselesaikan. Jadi, ketika mampir di pom bensin wonosobo dan bertemu salah seorang staff yang di sana, langsung dapat ditebak apa yang sedang kuderita, katanya, “ Bapak sakit ya ?”

Mungkin dapat ditebak dari caraku berbicara yang tak bertenaga atau tampilan wajahku yang kusut tak bercahaya, maka dia dengan spontan menawarkan apakah saya mau dipijat. Pucuk dicinta ulam tiba, tanpa sungkan lagi kami pun buka praktek memijat di tempat yang keliru. Dipijitlah seluruh tengkuk, pundak dan kepala, segarnya bukan main badanku.

Ternyata, bukan ide yang kubutuhkan untuk menulis saat sakit, bukan pula mengistirahatkan tubuh di perjalanan. Yang kubutuhkan hanya sebuah pijatan di waktu yang tepat !


Salam SUKSES, HIDUP UAR BIASA.

Jumat, 10 Oktober 2014

Ngapak-apak


Tiga hari ini saya kedatangan beberapa orang tamu dari luar daerah yang sengaja datang ke Cilacap. Mereka datang untuk keperluan rapat soal proyek yang segera akan dibangun di sini. Di dalam rapat ini, saya perhatikan cara mereka berbicara berbeda-beda, karena mereka memang membawa logat daerah masing-masing. Dua orang beraksen jawa timur, dua jakarta, satu kalimantan timur.

Karena kebiasaan bicara sama istri pakai bahasa daerah, saya lupa memakainya di hadapan mereka, sehingga mengundang komentar salah satu dari mereka. Mendengar logat bicara saya, dia spontan mengatakan kalau ingat Parto. Memang Parto cukup sukses sebagai pelawak OVJ, tapi pasti banyak orang yang tidak suka bila disamakan dengan pelawak, karena profesi ini masih dianggap rendah di negara saya.

Saat saya sedang bicara mungkin anehnya tidak terasa di telinga sendiri. Tapi, ketika mendengarkan hasil rekaman suara sendiri baik sedang berbicara maupun menyanyi, jujur saya agak merana. Entah yang terlampau peka adalah telinga atau perasaan saya sendiri, sulit untuk membedakannya. Yang pasti, saya agak canggung mendengarkannya. Lebih baik ngeloyor pergi, siapa yang tega menonton keburukan sendiri.

Setiap kali saya bercakap-cakap dengan orang dari daerah lain, mereka pasti langsung bisa menebak asal usul daerah saya. Ngapak-apak kata mereka. Lalu jadi bahan bahasan yang cuma menimbulkan rasa sedih belaka. Padahal, saya sudah berusaha keras belajar bercakap dengan baik, kalau bisa malah meniru penyiar tv atau radio yang suaranya enak didengarkan.

Dalam bernyanyi pun demikian, sekeras apapun upayaku meniru persis suara penyanyi aslinya, tetap jatuhnya aksen ngapak-apak. Meskipun sudah saya siasati dengan memilih lagu berbahasa inggris agar tersamarkan. Maka ketika ada yang memuji nyanyian saya, saya curiga jangan-jangan hanya basa-basi. Barangkali lebih pas menyanyi lengger banyumasan, sayang belum pernah mencobanya.

Tapi, ternyata aku tidak sendirian, perasaanku agak membaik dan bisa tersenyum jika melihat pakar marketing Hermawan Kertadjaya sedang berbahasa inggris di tv. Bicara dengan penuh percaya diri, ngotot lagi tapi dengan logat Surabaya. Atau kalau kita pergi ke negeri singa, mereka pakai bahasa inggris yang aneh karena campur dengan aksen tionghoa, sungguh menggelikan. 

Melihat orang lain seperti itu saja saya geli, bisa saya bayangkan bagaimana orang melihat diri saya. Tapi mereka baik-baik saja termasuk saya. Maka, sesungguhnya soal ini bukanlah bencana, kata saya menghibur diri. Kecuali kita memercayai rasisme budaya, di mana salah satu pihak memandang lebih rendah pihak yang lain. Rasisme semacam ini, pelan-pelan harus dihilangkan dari konflik batin saya.

Sejak lama saya merasa memiliki kekurangan dalam hal logat berbicara. Selain ngapak-apak, kalau bicara keras bukan main, sungguh kampungan. Ini, jika sudut pandang kecewa yang saya pakai. Tapi, jika sudut itu saya geser, beda lagi persoalannya. Ia langsung jadi sudut yang gembira karena mudah menarik perhatian orang dan cepat diingat orang, walau mungkin dicap kampungan.

Barangkali itu sebabnya ada orang-orang yang sukses justru karena kekampungannya. Itulah kenapa saya tidak tersinggung ketika dikatakan serupa dengan si Parto tegal, yang naik harga karena ngapak-apaknya. Siapa tahu saya juga bisa lebih sukses karena itu.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Selasa, 07 Oktober 2014

Harga Sebuah Kebiasaan


Karena mobil yang seharusnya menjemput saya di bandara Bandung masih di bengkel, maka saya minta anak dan menantu saja yang menjemput. Kebetulan hari sabtu, menantu saya sedang berada di rumahnya, karena kecuali hari sabtu dan minggu dia bekerja di Jakarta. Mereka suami istri bekerja di kota berlainan sehingga tidak dapat bersama tinggal di Bandung.

Antrian imigrasi di bandara ini cukup lancar, tidak seperti di Jogya yang padat dan harus berhimpitan walaupun bandaranya sama-sama kecil. Sambil menunggu bagasi yang sedang dikeluarkan, kulihat seseorang yang sibuk mengambil kopor bawaannya yang ternyata cukup banyak. Melihat tampilan mewahnya, saya rasa dia adalah seorang pengusaha sukses, tapi mau repot angkat barang sendiri.

Saya agak jengkel juga melihat orang kaya tapi tidak mau menggunakan jasa petugas angkat barang yang hidupnya pasti cukup susah. Maka, setiap bepergian baik naik kereta atau naik pesawat saya berusaha menggunakan jasa mereka, walau bawaan saya sebenarnya tidak seberapa. Kebiasaan ini selalu saya lakukan agar bisa berbagi rejeki dengan mereka, bukan karena sok bergaya. 

Saya pikir, kita harus dapat membedakan mana hemat dan mana kikir. Kecuali kalau memang tidak ada petugas jasa itu, kita dituntut kemandirian untuk bisa mengangkat barang-barang sendiri. Tapi bukan kemandirian yang tidak peduli dengan penderitaan orang lain. Jika terpaksa, saya juga masih mampu mengangkat empat buah kopor sendirian.

Alasan paling jelas, adalah karena kita melihat masih banyak saudara, teman dan tetangga yang hidup dalam kekurangan. Mengambil keputusan cuma berperan sebagai penonton saja terhadap kesenjangan dan ketidakseimbangan lingkungan adalah tindakan yang sama sekali tidak terpuji. Karena sementara mereka begitu kurangnya, saya begitu berkecukupan.

Selalu ada alasan atau dorongan setiap manusia untuk berbuat mulia, tak terkecuali saya. Dorongan ini harus didengar, dipelihara dan dibesarkan karena ia adalah sumber kegembiraan. Maka, saya tak perlu malu kalau dikatakan sok bergaya ingin dianggap seperti bos yang selalu menggunakan jasa layanan angkat barang. Tujuannya memang untuk bisa menggembirakan sesama.

Jangankan cuma seorang tukang angkat barang, jika saja saya diberi kemampuan bahkan ada niatan ingin menggembirakan sebanyak mungkin orang. Toh, hanya kehilangan uang tidak seberapa jika ongkos setiap kopornya dihitung sepuluh ribu rupiah. Jadi, sebetulnya tidak bisa dianggap dermawan apalagi mulia, karena hanya ganti jasa yang wajar. Kali ini, juga hanya perlu dua puluh ribu rupiah untuk dua buah kopor.

Sambil berjalan keluar, kutanyakan kepada istri apakah ada uang dua puluh ribuan, ternyata cuma ada selembar uang puluhan ribu dan lainnya ratusan. Sepuluh ribu terlalu sedikit, kasihan si tukang. Seratus ribu, wah terlampau banyak apalagi melihat tampangnya bukan  orang yang menderita. Biar nanti setelah di luar, kusuruh beli rokok dulu agar dapat uang pecahan.

Setiba di luar, saya kaget setengah mati. Di luar dugaan yang menjemput bukan cuma menantu tapi juga besan atau ayah dari menantu yang tinggal di Jogya dan kebetulan sedang berkunjung. Mereka berdua langsung mengambil alih dua kopor dan satu tentengan dari tangan si tukang. Kejadiannya begitu tiba-tiba, membuyarkan rencana beli rokok dan memecah uang ratusan. Membuat posisiku serba salah, karena besan membawakan koporku walau cuma sebatas sampai tempat parkir. 

Alamak, rasa sungkan terhadap besan mendesakku cepat mengambil keputusan. Maka, bak seorang dermawan sungguhan kurelakan uang seratus ribu demi sebuah kebiasaan, menggembirakan tukang angkat barang. Asem...


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Senin, 06 Oktober 2014

Jam Tanganku


Belum begitu lama saya tahu bahwa kesialan atau kejadian yang salah ternyata ada hukumnya yaitu hukum Murphy. Penjelasannya sederhana, ‘sesuatu yang berpotensi salah, maka akan menjadi salah’, terlepas dari pendapat benar tidaknya. Hukum ini tidak memerlukan pembuktian untuk diperdebatkan kebenarannya, tapi berdasarkan pengalaman kita bisa merasakan keberadaannya.

Contohnya dalil ini bekerja, dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketika kita diberi segepok anak kunci yang mirip satu sama lain untuk membuka pintu yang terkunci. Maka, kita harus mencobai satu persatu mana anak kunci yang tepat untuk pintu itu. Biasanya, berkali kita gagal dan baru berhasil membukanya dengan anak kunci yang terakhir, bukan yang kedua atau ketiga.

Atau ketika sedang sarapan pagi dengan tenang, potongan roti yang baru saja diolesi mentega tiba-tiba jatuh ke lantai. Dan sisi yang bermentega biasanya jatuh menghadap ke bawah sehingga kotor dan tidak dapat diselamatkan. Ketika kita sedang butu-buru, setiap lampu lalu lintas merah semua. Sehingga saya sempat berpikir bahwa pengalaman kesialan yang kemarin kualami adalah karena sedang berhadapan dengan dalil ini. Bahkan, kesialan masih berlanjut dengan soal jam tangan.

Sesampai di hotel usai makan malam bersama anak cucu dan menantu, saya baru merasakan bahwa jam tangan yang saya kenakan penutup kacanya lepas entah di mana. Saya berusaha berpikir keras di mana kejadiannya, tapi saya tidak merasa telah membentur sesuatu. Padahal, jam tangan yang ini, merupakan  jam kesukaan, walau hanya sekadar replika dari merek terkenal.

Coba kalau jam tangan ini bukan replika tentu reaksiku tidak seperti sekarang. Walaupun harganya cukup mahal tapi sangat berbeda jauh dari harga yang aslinya. Jadi, jika jam tangan ini asli, mungkin bepergianku kali ini semakin tidak keruan, dari mulai paspor ketinggalan, lalu sakit gigi dan sekarang jam tangan sungguh soal sangat serius, karena kalau yang asli, enolnya ada delapan. 

Meskipun bukan asli, tetap tidak mudah diabaikan begitu saja. Hampir saja kejengkelan belaka yang menguasaiku, jika kejadian ini soal kesialan yang pertama. Akrab dengan kesialan kemarin ternyata membuat lebih bisa berdamai, sehingga aku bisa menerima kesialan yang lain. Maka, ketika soal itu kuanggap sebagai tambahan kesialan saja, hasilnya cukup menentramkan.

Tapi rupanya dalam sial masih ada keberuntungan. Tanpa dicari, esok paginya saya menemukan kaca jam itu di atas wastafel kamar mandi hotel. Berarti cuma sedikit sial, sifatnya sementara dan masih bisa diperbaiki. Segera kaca jam itu kusimpan dan kuamankan, supaya nanti jam tangan kesayangan bisa kembali seperti semula. Rasa sayang untuk merelakannya rusak,  ternyata masih ada.

Tapi, bukannya jam tangan itu kusimpan baik-baik meski sudah tahu tidak ada kacanya, malah saya tetap mengenakannya, sehingga riwayat jam ini masih berlanjut. Akibat kecerobohan ini, jarum jam tersenggol tas istri copot berantakan saat berada di dalam bus. Jam yang seharusnya terselamatkan, kembali mendapat musibah baru, mempermainkan perasaan bimbang antara membuang atau menyimpannya.

Karena belum ikhlas kehilangan jam, jarum-jarum yang lepas kucari dan akhirnya bisa kutemukan di bawah tempat duduk. Mungkin memang jam ini masih harus kumiliki, sebab semuanya masih dalam kondisi lengkap walaupun terlepas. Jam tanganku pasti akan aman dan baik-baik saja, jika saja kaca jam itu tidak terlepas dari tanganku dan pecah jadi dua di atas meja kamar hotel. 

Segala sesuatu yang kita lakukan, hasilnya tetap rusak. Tempat yang paling tepat untuk jam tangan itu ya di tempat sampah. Maka, saat kubuang baru merasa lega. Seharusnya kulakukan lebih awal, karena ternyata murphy keparat itu ada.



Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Kamis, 02 Oktober 2014

Perjalanan Yang Kurencanakan


Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Peribahasa ini mungkin sangat tepat untuk menggambarkan perjalananku kali ini. Dalam sekali perjalanan, saya bisa menyelesaikan berbagai persoalan sehingga waktunya efektif dan biaya yang dikeluarkan juga efisien. Rencana itulah yang hendak kuceritakan ketika ada tujuan pergi cek kesehatan ke Singapura. Ada dua pilihan, naik mobil ke Jogya atau Bandung dan terbang dari salah satu kota itu.

Setelah memperhitungkan untung dan ruginya, saya memilih berangkat melalui bandara Bandung. Harga tiket pesawat, ternyata dari Bandung lebih murah , hampir setengahnya dibandingkan kalau dari Jogya. Di sini jelas saya pihak yang diuntungkan. Jika saya berangkat lewat Jogya memang lebih dekat sedikit dibandingkan dari Cilacap ke Bandung, ini kerugiannya.

Keuntungan yang ke dua, saya bisa mampir menengok cucu sekalian. Sejak kelahirannya dua bulan lalu, saya baru sempat sekali mengunjunginya. Rasa kangen dapat terobati, kebahagiaan bisa kuraih dengan bertemu anak cucu tersayang. Jadi, jelas keuntungan semata yang bakal kupetik sepanjang perjalanan ini. Saya bisa menggendong kedua cucuku dalam sekali bepergian. 

Berikutnya, saya dapat periksa ke dokter gigi langganan, karena tambalan gigi lepas dan harus segera ditangani sebelum semakin parah, walau harus menginap semalam. Jika saya lewat Jogya memang tidak perlu menginap karena tujuannya cuma terbang. Menemukan dokter gigi yang cocok tidak mudah, cuma ada dua dokter yang cocok untuk merawat gigiku selama ini. Satu praktek di Bandung dan yang satu di Semarang.

Naik mobil ke Bandung memang dua jam lebih lama, ketimbang ke Jogya. Tapi di sini, ada bengkel khusus punya teman yang jago soal kaki-kaki, selain murah ongkosnya, soal mutu dapat diandalkan. Kebetulan mobilku juga perlu servis karena sudah tak nyaman. Maklum, jalan-jalan di Jawa Tengah, khususnya di sekitar wilayahku kondisinya rusak parah. Jadi, sementara orangnya berobat maka mobil bisa ikut berobat.

Kupikir rencanaku akan berjalan sempurna, ketika beberapa kejadian ternyata jadi di luar kendaliku. Gigi berlubang yang awalnya tidak sakit, setelah ditambal malah menjadi sakit bukan kepalang. Jika pernah merasakan sakit gigi, tentu dapat membayangkan. Sumber-sumber penambah derita, luar biasa banyaknya. Suara paling merdu bisa jadi suara yang buruknya bukan main. Keramahan orang bisa kuanggap sedang menertawakan. Giliran makan bisa berubah jadi tangisan.

Sudah lima tablet penahan sakit kumakan dari semalam, ketika berangkat dari hotel ke bandara. Di tengah perjalanan itulah baru tahu pasporku ketinggalan di rumah, yang jaraknya ratusan kilometer. Coba, kalau paspor istri yang tertinggal, pasti omelan akan berhamburan dari mulutku. Apalagi mulut yang sedang menderita sakit yang tertinggi derajatnya dalam penderitaan.

Rencana terpaksa berubah, paspor disusulkan dan berangkat keesokan harinya. Mau hemat, malah tiket hangus dan nambah hotel semalam. Padahal, hotel di Singapura sudah lunas terbayar, tapi sia-sia tak berpenghuni. Maka, cepat-cepat kucari hikmah dan maknanya agar setara dengan kesialan yang sedang kualami. 

Hari itu aku gagal berangkat, tapi bisa balik lagi ke dokter gigi untuk memperbaiki kesalahan yang menyebabkan sakit. Aku juga mendapat kabar ada saudara yang sakit kritis di icu rumah sakit butuh ditengok dan didoakan. Hasilnya memang ajaib, kejengkelan hengkang dari benakku, tetapi sakit gigi ikut serta ke luar negeri. Sialan !


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Rabu, 01 Oktober 2014

Soal Yang Sederhana


Beberapa hari yang lalu, saya berkumpul dengan sanak saudara yang jauh-jauh. Ada paman-paman, bibi, adik, sepupu, keponakan dan banyak lagi yang mustahil kukenali satu persatu saking lamanya tidak saling kontak dan silaturahmi. Bahkan ada yang tinggal se kota denganku pun jarang bertemu. Kalau pun ketemu pada acara yang tidak sengaja seperti di tempat resepsi dan lain-lain.

Kali ini pun kami bisa bertemu dan berkumpul hanya karena uwak (sepupu dari ayah) meninggal. Di dalam rumah duka, tidak tampak tangis dan keharuan hanya sekadar kesedihan yang wajar, mungkin juga karena uwak yang meninggal sudah berumur. Tak banyak orang yang mampu mencapai di atas delapan puluh tahun. Boleh dikata, suasananya malah lebih menyerupai reunian antar sanak famili.

Malam itu menjadi ajang saling mengingat lagi karena ada yang beberapa puluh tahun tidak ketemu, ada yang melihat saat masih kecil, sehingga kalau ketemu di jalan juga tidak akan mengenalnya lagi. Bahkan ada yang sama sekali belum pernah bertemu. Ada sedikit rasa bersalah dalam hati terutama kepada saudara yang sudah tua-tua, karena saya terlalu sibuk untuk sekedar menyambangi.

Salah satu kelemahan saya antara lain jarang ke luar rumah, kecuali untuk urusan yang benar-benar penting. Kantor berada di lingkungan rumah sendiri, sehingga tidak perlu melangkah ke luar pagar halaman. Setiap hari selalu sibuk dengan sederet kegiatan, mulai dari bangun tidur sampai terkapar mendengkur di tempat tidur sebagai rutinitas.

Banyak orang yang terjebak bahwa hidup harus sibuk. Kalau tidak, dia merasa hidupnya tidak berarti, merasa membuang-buang waktu, merasa tak dibutuhkan lagi oleh orang lain dan tak ada orang yang menyayangi dan menginginkannya lagi. Maka, begitu bangun tidur, dia sudah siap mengisi sepanjang harinya dengan berbagai macam kegiatan. 

Sesampai di kantor, dia akan mengerjakan tugas-tugas yang sudah menunggunya. Kalau dia seorang bawahan, dia berusaha sebaik mungkin supaya atasannya melihat dia datang tepat waktu dan siap untuk bekerja. Kalau dia seorang atasan, dia menyuruh semua orang untuk segera bekerja. Kalau tidak ada tugas penting akan mencari kesibukan dan menciptakannya, mencetuskan rencana baru, dan tindakan yang diperlukan.

Tidak terkecuali saya, kerap menjadi sibuk dengan pekerjaan sehingga soal-soal yang bukan urusan pekerjaan sering dikesampingkan, bahkan terlupakan. Malam itu, saya kembali diingatkan soal seseorang yang selalu menanyakan, ingin bertemu dengan saya yang diakuinya sebagai cucu, walau bukan cucu sungguhan. Berulang kali, orang yang saya sebut eyang putri ini menitip pesan lewat orang-orang yang mengenalku untuk disampaikan ke padaku. 

Istri juga sudah sering mengingatkan jika eyang putri ini, yang usianya sudah delapan puluh tujuh tahun, minta dijenguk karena sudah sulit berjalan. Tapi tak pernah kusempatkan, apalagi kupentingkan. Sudah lebih dari setahun aku tahu dan mendengar, tapi selalu saja meremehkan. Padahal, permintaan yang sederhana ini, cuma butuh waktu sekejap. Rumahnya dekat cuma lima ratus meter dari rumahku.

Malam itu, aku baru sadar bahwa ada jenis kebaikan yang harus segera dikerjakan mengingat usia beliau. Kalau terlambat kulakukan mungkin hanya akan jadi penyesalan. Maka, saya bersama istri segera bergegas ke rumahnya, kusingkirkan dulu soal-soal lainnya. Masih terbayang, wajahnya yang sangat bahagia, saat kupeluk dan kuajak bercerita tentang apa saja. 

Jika aku terlena dengan kesibukan diri sendiri, mungkin tak ada lagi kebaikan yang bisa kuperbuat kepadanya. Kebahagiaan ternyata bisa datang lewat pintu mana saja, termasuk lewat soal-soal yang sederhana. Hanya perlu kusisihkan sedikit waktu untuk itu.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.