Bersama jajaran Manajemen dan Karyawan yang dibawahinya.

Liburan bersama keluarga

Bersama istri tercinta "Laniati Dewi".

Hidup hanya sekali...Hiduplah dengan Luar Biasa !!

Bersama manajer pelumas "Sutoyo Wijaya" salah satu divisi yang dibawahinya

Selasa, 26 Mei 2015

Wajib Hadir


Jujur saya terkejut ketika mengetahui bahwa tim saya membuat pengumuman dengan embel-embel wajib hadir untuk acara motivasi karyawan sendiri yang berlangsung hari Rabu malam di hotel Tiga Intan Cilacap. Tim mungkin khawatir acara di malam itu kurang sukses kalau karyawan tidak banyak yang datang, padahal kantor sudah mengeluarkan biaya besar untuk sewa gedung dan konsumsi. 

Sebagai pimpinan tentu saya menginginkan seluruh karyawan mempunyai kesadaran diri untuk hadir demi kebaikan dan kemajuan. Jadi, soal wajib hadir itu jelas berlawanan dengan kehendak saya yang menginginkan mereka bersedia datang dengan suka rela bukan karena terpaksa. Meskipun acara itu sendiri berlangsung sukses, karena peserta yang hadir ternyata melebihi jumlah kursi yang tersedia.

Itu jika saya lihat dari sudut seorang pimpinan. Tapi jika saya lihat dari sudut sebagai motivator, soal jumlah peserta yang membludak, merupakan soal yang menggembirakan. Apalagi jika acara itu tidak gratis alias berbayar. Bayangkan saja jika harga tiket lima ratus ribu rupiah per orang dan pesertanya malam itu sekitar seratus delapan puluh orang.

Maka membayangkan penghasilan motivator yang sudah terkenal dan harga tiketnya sampai jutaan rupiah hanya menimbulkan rasa iri. Bukan iri karena jumlah uang yang dihasilkannya, tapi iri karena sudah memasang harga mahal pun masih berjubel peminatnya. Artinya memang banyak sekali orang yang bersedia membayar mahal hanya untuk mendengarkan mereka berbicara.

Sedangkan ketika saya yang berbicara sebagai motivator seperti malam itu, harus mewajibkan orang lain untuk mendengarkan padahal tak perlu bayar dan mendapatkan makan malam gratis. Jadi, saya tidak dapat membayangkan jika saya memungut bayaran, jangan-jangan tidak ada seorang pun yang  datang. Itulah kenapa saya tak mau berprofesi sebagai motivator yang memasang tarif karena takut gagal.
  
Tetapi di antara yang hadir pada malam itu juga ada beberapa yang bukan karyawan saya. Mereka menggembirakan saya, mereka datang pasti karena suka rela. Mereka bukan karyawan sendiri dan saya juga tidak berkepentingan karena saya juga tidak dibayar oleh mereka. Hubungan seperti inilah yang saya sukai karena yang mempertemukan kami adalah soal kebutuhan.

Kebutuhan itu dinamakan mendengar dan didengar. Sebagai pembicara saya senang didengarkan, dan mereka mendengarkan.Memang saya suka bicara tapi sebenarnya saya juga suka mendengar. Keduanya adalah pekerjaan yang mengasyikan. Mendengar orang lain yang berbicara, tentu dengan kualitas bicara yang saya harapkan, sungguh kenikmatan. Kenikmatannya hampir menyerupai ketika saya bicara dan diterima oleh penonton dengan penuh minat dan kesungguhan.

Saya pernah mengalami kekecewaan tidak didengar justru ketika sedang ingin didengarkan. Situasi semacam itu sungguh membuat harga diri berada pada titik terendah. Ternyata cuma dengan cara tidak didengar saja kita bisa membuat seseorang kehilangan semangatnya. Namun sebaliknya kita bisa menumbuhkan semangat hidup orang lain hanya dengan mendengarkan.

Karena itu marilah kita belajar menjadi pendengar yang baik agar dapat menyemangati orang lain. Sementara jika kita ingin didengar, jangan paksakan orang lain untuk mendengar apalagi didengar karena orang iba pada kita. Berupaya keraslah agar orang lain mendengar karena kita memang layak didengar.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Senin, 18 Mei 2015

Sumber Kebahagiaan


Perjalanan memberikan motivasi di setiap spbu Gelora Group selama dua minggu penuh memang berat. Menderita radang tenggorokan adalah soal yang biasa terjadi ketika mengalami penurunan stamina. Karena bagian itulah yang bekerja paling berat sepanjang hari. Kalau tidak cuap-cuap ya saya merokok tak ada berhentinya. Tapi meskipun menderita sedemikian rupa, saya memperoleh kegembiraan yang jauh lebih berharga daripada sakitnya.

Maka, ketika tiga bulan lalu saya harus absen karena terlalu banyak pekerjaan yang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan, sesungguhnya saya sedih sekali. Karena saat berkeliling setiap tiga bulanan itulah, saya merasa bahagia karena telah berbagi manfaat dengan seluruh karyawan spbu yang  membutuhkannya. Sebagian besar dari mereka sangat menunggu dan mengharapkan kehadiran saya.

Dan ternyata, perasaan ditunggu dan bermanfaat itulah yang membuat saya merasa berharga dan bermartabat. Perasaan bermartabat itu adalah sumber kebahagiaan. Memiliki banyak uang tanpa memiliki martabat tentu bukanlah kekayaan. Uang makin tebal tapi malah membuat kualitas hidup makin menipis. Bahkan banyak sekali bukti jabatan meninggi namun hanya untuk membawa hidup seseorang merendah.

Begitulah kira-kira hidup orang yang bukan pemenang sejati, bukan profesional tapi hanya amatiran belaka. Di tangan seorang pemenang sejati seluruh soal yang ia miliki tak terkecuali uang, kekuasaan, hanya akan membuat hidupnya semakin bermartabat. Menjadi pemenang sesungguhnya hak setiap orang, asalkan dapat mengalahkan diri sendiri. Karena pintu kemenangan sesungguhnya terletak di dalam diri kita sendiri. 

Mengalahkan diri sendiri adalah perang yang tak berkesudahan dan merupakan soal yang paling sulit di dunia. Di dalam diri sendiri ada banyak lawan yang tidak mudah dikalahkan. Lawan yang menurut kita paling enteng sekalipun sudah langsung menjadi lawan yang sulit dikalahkan, contohnya panca indera. Mengendalikan panca indera memang sulit, apalagi semuanya.

Itulah kenapa banyak industri-industri raksasa yang lahir dengan menggarap segmen ini, tujuannya memuaskan panca indera manusia. Soal rasa, misalnya. Perusahaan kelas dunia seperti Unilever juga tergiur untuk terus berinovasi memuaskan tuntutan rasa melalui varian es krimnya seperti Magnum, yang besarnya omset sungguh tak perlu diragukan lagi.

Melawan tuntutan rasa di lidah mungkin masih bisa saya atasi sebab saya tak terlalu mengutamakan soal rasa. Tapi kalau melawan rangsangan pada mata, terus terang perlu perjuangan. Saya ini lelaki yang sudah beristri. Melihat wanita cantik berkelebat rasanya berat untuk tidak tergoda melirik atau mencuri-curi. Saya tidak berani melihat secara terang-terangan karena malu pada diri sendiri. Malu tapi mau, itu persoalan kaum pria pada umumnya.

Jika selama ini saya mencoba bertahan melawan kemauan mata itu lebih karena saya berusaha keras  mengendalikan pengaruhnya. Pengendalian ini sebenarnya menunjukkan betapa lemahnya saya di hadapan panca indera. Jika saya kalah, ada yang merosot mutunya dalam hidup saya. Kemerosotan itu mendatangkan rasa susah. Namun berbeda ketika saya menang, kemenangan itu mendatangkan rasa bahagia.

Jadi jelas bahwa sumber kebahagiaan berhubungan dengan soal mutu di dalam diri kita. Sepanjang kita dapat menjaga dan merawat mutu dalam diri kita, maka hidup kita pasti akan bahagia. 


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Senin, 11 Mei 2015

Kebakaran


Pagi ini saya mendapat pesan singkat dari seorang pemuda yang minta diberi semangat karena kios ibunya di pasar Johar Semarang habis dilalap api. Sudah sembilan jam kebakaran hebat yang terjadi dari semalam belum juga padam karena angin bertiup kencang, sehingga dapat dipastikan tidak akan ada yang tersisa dari seluruh barang dagangannya.

Segera saya balas smsnya, memberinya dorongan semangat bahwa di dalam setiap peristiwa pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil. Ada dua hal, yang pertama adalah persiapan kita atas kejadian semacam itu sehingga mungkin perlu sedia payung sebelum hujan dengan turut atau ikut asuransi kebakaran. Yang kedua, musibah itu soal yang ada hubungannya dengan rejeki.

Berbicara soal rejeki, mau tidak mau kita harus berbicara mengenai spiritualitas, yang berhubungan dengan sang Maha. Jadi, mengaitkan rejeki, bisnis atau kegiatan apa pun dengan spiritualitas adalah suatu keharusan. Namanya keharusan, suka atau pun tidak suka, terpaksa kita harus mengaitkannya. Dan itu tidak mungkin kita hindari.

Hukum ‘Siapa yang memberi akan mendapatkan’, harus kita percayai. Kepercayaan kepada aturan tertinggi inilah yang saya sebut sebagai spiritualitas. Intinya, saya percaya kepada energi spiritualitas sehingga dalam hidup atau berbisnis, moralitas harus selalu kita junjung tinggi. Maka itu, bisnis yang besar menjadi amat besar, pasti karena pemberiannya yang besar.

Kebakaran ini mengingatkan cerita bagaimana komplek laboratorium milik Thomas Alva edison yang terdiri dari enam bangunan habis terbakar. Kerugian itu mencapai dua juta dolar, belum termasuk semua penemuan dan hancurnya catatan kerja seumur hidupnya. Malam itu, Thomas berkata, “ Walaupun aku sudah berumur 76 tahun, aku akan memulai lagi besok.”

Demikian pula saat sebuah rumah makan terbakar habis, pemiliknya mempercayai energi itu. Malam terbakar, paginya tetap berjualan. Ia gembirakan semua staff dengan dorongan semangat. Menangis secukupnya saja, dan seterusnya ayo kembali bekerja. Hasilnya justru mengejutkan, pelanggan kaget melihat rumah makan terbakar, jauh lebih kaget lagi melihatnya tetap buka seperti biasa.

Para pembeli dipersilahkan duduk seadanya, di mana saja. Di atas reruntuhan juga boleh sebab telah beratap tenda ala kadarnya. Suasana berubah sedemikian rupa dan para pelanggan malah menolak menerima kembalian uang mereka sebagai empati. Pada waktu kebakaran itulah, rumah makan itu mencapai omset tertingginya.

Kebakaran memang suatu musibah, semua orang menangis dan terguncang. Semua tegang tertekan dari kanan kiri. Sudah bangkrut, salah-salah dianggap sebagai penyebab hangusnya seluruh kawasan. Jadi tidak ada yang nyaman dengan kebakaran itu, sehingga yang tersisa hanyalah menguatkan hati. Kekuatan itu tidak ada lagi sumbernya selain kepada energi spiritualitas.

Hanya dengan percaya kepada energi inilah maka kita akan mempercayai segala sesuatu bahkan saat kita belum melihatnya. Dengan percaya itulah, yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang mustahil dapat menjadi kenyataan. Jadi, gunakanlah energi itu untuk bangkit dari keterpurukan, untuk hidup lebih bermakna, tidak hanya mengayakan keuangan kita, tapi juga mengayakan hati kita.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Sabtu, 02 Mei 2015

Keharusan Berkompetisi


Saya pernah membaca bahwa spesies yang paling kuat bertahan ternyata bukan tergantung pada kekuatan dan kecerdasannya tetapi pada kecepatannya berubah dan menyesuaikan diri. Apa saja jika lambat berubah maka akan diubah oleh si cepat berubah, katanya. Siapa saja yang terlambat untuk berubah maka akan dipaksa berubah oleh perubahan itu.


Perubahan merupakan hukum alam yang harus dipatuhi karena dengan cara itulah kita bertahan jika kita tak ingin tertinggal atau bahkan tergilas oleh kehidupan. Dinosaurus, binatang yang besar, kuat dan mengerikan saja punah karena tidak cepat berubah. Fenomena perubahan ini dapat kita rasakan dalam berbagai bidang, baik sebagai pelaku maupun penonton.

Sebagai penonton, semula saya agak iba melihat warung dan toko kecil harus bersaing dengan mini market. Sebagai pihak yang saya anggap mewakili pedagang kecil dan kalah oleh kedatangan wakil dari pedagang besar. Jangan-jangan tanpa kedatangan pedagang besar itu pun, pedagang kecil ini memang akan terpinggirkan dengan sendirinya, tidak semata-mata oleh persaingan, tetapi karena tidak dapat memenuhi tuntutan konsumen.

Jadi, lebih karena persoalan dalam dirinya sendiri. Soal kekalahan adalah soal jamak yang terjadi di dalam dunia usaha. Tidak cuma itu, pedagang besar seperti mall dan super market juga bisa kalah jika publik sudah tidak menyukainya. Artinya, pasar tak lagi ramah padanya. Hilangnya keramahan itu penyebabnya bisa dari berbagai hal, terutama soal harga, kualitas, lokasi dan pelayanan.

Coba bayangkan jika ada budaya baru yang sanggup menjual barang bermutu, tapi murah harganya strategis lokasinya, dan nyaman pula pelayanannya harus bersebelahan dengan pihak yang mahal harganya, sulit tempat parkirnya, barang kurang bagus, sudah begitu ketus pula wajah penjaganya. Sudah ketus di wajah, ditambah bekas kerokan di leher dan tempelan koyo di mana-mana. Mudah ditebak akhir kompetisi keduanya.

Itulah kenapa saya sebagai pelaku atau pihak perusahaan juga menghendaki banyak perubahan pada para karyawan agar dapat menjadi perusahaan yang kompetitif dan menjadi pemenang. Apa jadinya jika kita harus berkompetisi dengan orang lain yang keahliannya lebih terasah, yang pengetahuannya terus meningkat, memiliki wawasan lebih luas, dan pemikirannya lebih cemerlang ?

Jangan-jangan kita tersingkir bukan karena persaingan, melainkan karena kita lambat berubah, tidak cepat update dan bertumbuh. Ketika pasar saat ini dikuasai oleh ‘net generation’ (generasi internet) yang melek teknologi, akan sangat ketinggalan jika kita masih gagap teknologi. Mereka melakukan penelusuran barang apa yang akan dibeli dengan cara googling (mencari di google), sehingga mereka bisa membandingkan.

Apa yang dahulu menjadi keunggulan kemungkinan sekarang hanya menjadi standar yang minimal. Kecepatan berubah dan beradaptasi menjadi unsur yang sangat penting untuk bertahan atau bahkan berkembang. Ada proses pembelajaran yang tidak boleh berhenti dilakukan. Mereka yang tidak mau melakukan inovasi atau mengikuti perubahan akan kehilangan peluang atau kalah dari pesaingnya.

Jadi, suka atau terpaksa kita juga mempunyai keharusan berkompetisi dalam hidup ini jika tidak ingin berakhir di museum, apalagi kita semua adalah satu-satunya spesies yang mampu berpikir.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.