Bersama jajaran Manajemen dan Karyawan yang dibawahinya.

Liburan bersama keluarga

Bersama istri tercinta "Laniati Dewi".

Hidup hanya sekali...Hiduplah dengan Luar Biasa !!

Bersama manajer pelumas "Sutoyo Wijaya" salah satu divisi yang dibawahinya

Selasa, 18 Maret 2014

Kita Akan Menjadi Seperti Apa Yang Kita Pikirkan


Salah seorang pembaca mengatakan,” Saya membaca artikel bapak yang pas sekali dengan diri saya.  Saya ingin sekali maju tapi saya mempunyai masalah tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan sulit bergaul, Pak .” 

Banyak sekali orang yang terbelenggu oleh beliefs yaitu keyakinan-keyakinan yang tertanam di dalam pikiran seseorang bahkan sampai ke alam bawah sadarnya hasil dari pengalaman masa lalunya yang diyakini masih berlaku sampai saat ini. 

Keyakinan ini akan memengaruhi sikap seseorang terhadap setiap hal yang dialaminya. Sikap Anda sangat bergantung dengan keyakinan yang Anda miliki. Keyakinan bisa mengubah hidup Anda menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi lebih buruk.

Seperti halnya pembaca tadi yang meyakini bahwa dirinya tidak bisa berkomunikasi dengan baik dan sulit bergaul, sehingga menghambat dan membelenggu dirinya untuk tumbuh dan berkembang. Alih-alih mencari solusi terhadap kekurangannya, namun justru menghakimi bahwa dirinya memang seperti itu.

 Earl Nightingale, seorang maha guru motivasi telah merumuskan kunci sukses hanya dengan enam kata singkat. “ We Become What We Think About “ Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Apakah demikian ? Mari kita simak cerita berikut ini.

Dua orang pramuniaga bekerja di dua toko berbeda yang menjual produk sejenis. Pramuniaga pertama mempunyai sikap yang positif, setiap kali pelanggan mampir ke tokonya, ia selalu berpikir dan yakin bahwa si pelanggan itu pasti membeli. Dia selalu memotivasi dirinya sendiri dengan berkata dalam hati, “ Pasti beli, pasti beli.” Hal ini berdampak positif terhadap perilakunya, sehingga membuat pramuniaga tersebut berekspektasi positif, tampil lebih percaya diri, sorot mata positif, antusias, bahasa tubuhnya tampak meyakinkan sehingga sikap ini juga menular ke pelanggan yang masuk ke tokonya. Pada akhirnya, banyak pelanggan yang membeli.

Berbeda halnya dengan pramuniaga kedua. Pramuniaga ini selalu berpikir bahwa pelanggan yang masuk ke tokonya sebagian besar hanya ingin melihat-lihat dan tidak akan membeli. Oleh karena pramuniaga ini selalu berpikir demikian, maka muncullah ekpektasi negatif di dalam dirinya. Hal ini mengakibatkan ia melayani dengan tidak antusias, tidak bersemangat, acuh tak acuh terhadap setiap pelanggan yang datang. Hal ini juga menular ke pelanggannya sehingga para pelanggan pun sangat sedikit yang membeli.

Kebanyakan manusia yang tidak berani mencoba atau ragu-ragu untuk melakukan sesuatu bersumber dari kurangnya rasa percaya diri. Sebagian orang yang sukses memulai usahanya dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah atau bahkan sama sekali tidak ada. Akan tetapi, kemudian melakukan usaha yang begitu keras untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka bisa.

Begitu pula dengan diri Anda , jika Anda melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh orang yang penuh percaya diri, Anda juga akan merasakan hal yang sama dan hasil yang sama. Keyakinan Anda sangat mempengaruhi realitas kehidupan Anda. Anda akan berperilaku sesuai dengan apa yang paling Anda yakini. Hanya dengan keyakinan yang begitu positif, Anda akan mampu melakukan sesuatu yang menurut orang lain tidak mungkin menjadi mungkin.

“ Your belief determines your action and your action determines your results, but first you have to believe “ Keyakinan Anda menentukan tindakan Anda dan tindakan Anda menentukan hasil Anda, tapi pertama-tama Anda harus percaya.-Mark Victor Hansen.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Senin, 17 Maret 2014

Kapan Karyawan Gelora Group Selalu Tersenyum ?


Kalimat pertanyaan seperti judul ini, sering menghantui saya saat merenung, membayangkan para karyawan selalu tersenyum dalam melayani para pelanggan, benar-benar penuh keramahan. Saya sedang mencari jawabannya, apakah Anda bisa membantu?

Perusahaan Keihin Electric Express Railway di Jepang telah mengultimatum para karyawannya untuk terus tersenyum demi menjaga citra perusahaan yang selalu ramah kepada pelanggannya. Untuk mengawasi para karyawannya, Keihin telah memasang sebuah sistem canggih untuk mendeteksi senyuman para karyawannya sepanjang jam kerja.

Dalam dunia bisnis jasa, konsistensi dalam memberikan pelayanan yang ekselen semakin menjadi tuntutan dan harapan pelanggan di abad ini. Banyak perusahaan yang berlomba-lomba memperbaiki diri, memberikan layanan yang benar secara konsisten, untuk memperoleh kepercayaan agar para pelanggan tidak lepas dari genggaman.

Memberikan layanan secara benar tidak bisa dilakukan dengan tempo suka-suka, melainkan harus dengan ritme yang stabil, menjadi standard pelayanan minimal suatu perusahaan. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar karyawan kita dapat menunjukkan perilaku yang konsisten kepada pelanggan, ala karyawan Keihin.

Senyuman, keramahan, kecepatan layanan dan sejenisnya adalah yang tampak di wajah sebuah perusahaan. Di dalam tubuh perusahaan pasti harus ada budaya perusahaan yang dibangun dengan penuh keseriusan, sehingga menampilkan wajah perusahaan seperti yang kita inginkan.

Didalam budaya perusahaan ada nilai-nilai yang diterima dan disepakati bersama oleh seluruh karyawan perusahaan, sehingga karyawan perusahaan seolah memiliki warna yang sama.  Budaya perusahaan bisa menjadi semacam papan petunjuk bagi karyawan, kapan harus ke kanan, kapan harus ke kiri. Bagaimana kalau begini, bagaimana pula kalau begitu, dan seterusnya.

Mungkin Anda pernah mendengar komentar semacam ini, “ Kalau ngopi di Starbucks rasanya nyaman karena semua pegawainya selalu tersenyum.” “ Oooh...kamu habis nyuci mobilmu di Oto Kits ya? Memang disana orang-orangnya kerja cepat, hasilnya bersih, mengkilap dan air tidak menetes sedikit pun.” “ Kalau di hotel A, pasti orangnya friendly banget, kayak di rumah sendiri”

Sebagai pedoman bagi perilaku karyawan, budaya perusahaan dapat memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah sisi tegasnya, yaitu ketika budaya perusahaan diadopsi dengan sistem reward dan punishment yang ada di perusahaan. Jika Anda melanggarnya Anda akan mendapat sanksi yang jelas, bisa diberi surat peringatan atau bahkan hingga pemutusan hubungan kerja.

Wajah yang kedua adalah sisi yang lebih halus. Ini bisa terjadi ketika budaya perusahaan sudah mengakar kuat di dalam perusahaan, Akibatnya, yang melanggar hanya akan mendapat sanksi sosial dari orang lain. Tidak hanya dari sesama karyawan bisa jadi dari para pelanggan. “ Anda kan dari perusahaan Gelora Group, kok cara melayani pelanggan seperti ini ? Protes semacam ini contohnya.

Tim HRD di Gelora Group mempunyai pekerjaan rumah (PR) untuk menyaring hanya orang-orang yang berkarakter tepat yang bergabung di perusahaan, agar budaya perusahaan dapat tumbuh dengan baik. Jika skor nya merah, tidak peduli sepintar apa pun si kandidat karyawan, dipastikan proses rekrutmen tidak dilanjutkan karena tidak ada kecocokan dengan budaya perusahaan.

Kembali ke  pertanyaan “ Kapan Karyawan Gelora Group Selalu Tersenyum ? “ Di akhir tulisan ini, saya baru memperoleh jawabannya. Ya, kalau perusahaan memang merekrut orang-orang yang suka tersenyum !



Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Sabtu, 15 Maret 2014

Bila Kenyataan Tidak Sesuai Dengan Harapan


Belakangan saya aktif di facebook karena saya ingin berbagi hal-hal positif dengan banyak orang, terutama para karyawan dan para sahabat. Jadi hampir setiap hari saya membukanya, kemudian share a link artikel di blog saya.

Saya sempatkan juga untuk komentar dan membaca status teman-teman yang di facebook, ada yang lucu-lucu, ada yang positif tapi juga tidak sedikit yang statusnya negatif seperti mengeluh, menyalahkan, marah atau kecewa.


Dalam hidup pasti kita sering menghadapi situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan kita. Memang tidak semua merespons negatif, sebagian orang menyikapinya dengan lebih bijaksana terhadap kejadian tersebut dengan mengambil hikmah dan mensyukurinya. Saya ingin berbagi bagaimana cara kita merespons ketika menghadapi situasi tersebut.


Yang pertama adalah dengan memiliki kendali terhadap hal yang dimaksud. Jadi, untuk segala sesuatu yang berada di bawah kendali Anda, Anda dapat melakukan apa pun yang diperlukan untuk membuat segalanya lebih baik.

Kalau berat badan Anda tidak sesuai harapan, Anda segera melakukan program diet. Kalau Anda sering terlambat bangun, belilah alarm untuk membangunkan Anda. Kalau Anda sakit-sakitan, Anda bisa segera merubah pola hidup Anda. Kalau Anda tidak percaya diri ketika berbicara di depan publik, segera ikut kursus public speaking.

Cara kedua, adalah menggunakan pengaruh Anda. Cara ini dapat Anda gunakan bila menghadapi segala sesuatu yang berkaitan dengan orang lain. Perilaku orang lain memang tidak dapat kita kendalikan, tapi dapat kita pengaruhi dengan cara berkomunikasi.

Kalau bawahan Anda sering terlambat ke kantor, Anda bisa memberikan umpan balik kepadanya agar ia mengubah perilakunya tersebut. Kalau atasan Anda mengeluarkan kebijakan baru yang tidak sesuai dengan keinginan Anda dan teman-teman maka Anda dapat menyampaikan aspirasi Anda tersebut dan berusaha memengaruhi atasan agar dapat meninjau kembali keputusan itu. Kalau pasangan Anda boros dan berperilaku semaunya sendiri, Anda dapat mengajaknya berdiskusi untuk memperbaiki sikapnya.

Cara ketiga, adalah menggunakan paradigma Anda. Cara ini dapat kita gunakan ketika cara pertama dan kedua tidak dapat kita lakukan, karena kita tidak memiliki kendali maupun pengaruh terhadap hal tersebut. Situasi ini kita siasati dengan mengubah cara pandang atau paradigma kita.

Bagaimana kita bisa menghadapi kenaikan harga barang-barang yang terus meroket? Bagaimana menghadapi lalu lintas yang semakin macet? Bagaimana menghadapi kejahatan yang begitu marak akhir-akhir ini? Kalau Anda penguasa negeri ini mungkin bisa melakukan sesuatu. Tapi kalau Anda rakyat biasa apalah daya kita untuk mengubah semua itu. 

Dalam situasi yang seperti ini yang bisa kita lakukan adalah mengubah paradigma dan mindset kita. Kita bisa menyiasati harga-harga yang meningkat dengan mengubah gaya hidup dan perilaku konsumsi kita. Kita bisa menyiasati kemacetan lalu lintas dengan berangkat lebih awal. Kita bisa menyiasati menghindari kejahatan dengan tidak terlalu sering keluar malam.

Jadi, ketika kita menghadapi situasi yang tidak dapat kita apa-apakan, yang harus kita lakukan adalah mengubah perilaku kita sendiri. Betul, situasinya tetap tidak berubah tetapi dengan mengubah diri kita maka dampak dari situasi buruk itu tidak akan memperburuk diri kita. Oleh karena itu apa pun yang terjadi, terimalah hal itu dengan lapang dada, kita berhak untuk selalu berbahagia. 

“ Jika tak mampu bersyukur atas apa yang kau peroleh, bersyukurlah karena hal yang tidak kau dapatkan “ Anonim


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Jumat, 14 Maret 2014

Apakah Fokus Anda ?

Seorang anak berusia tujuh tahun memiliki kegemaran makan ikan bandeng goreng. Seperti kita tahu bahwa ikan bandeng adalah ikan yang lezat, namun mengandung tulang-tulang halus di sekujur tubuhnya dan hal ini sangat berbahaya bagi anak kecil. Setelah sang ibu memisahkan daging dari duri-duri ikan, barulah ia memberikannya kepada sang anak. Itulah yang selalu dilakukan agar si anak dapat memakannya dengan lahap.


Pada suatu ketika, sang ibu tidak memisahkan daging dan duri ikan, tapi ia memberikan langsung kepada si anak, dengan tujuan agar si anak mau belajar. Setelah si anak mencoba beberapa lama untuk memisahkan duri-duri ikan dari daging, akhirnya ia putus asa. 

“ Saya tidak bisa makan Bu, banyak sekali durinya,” ujar si anak.

Sang ibu dengan tenang menjawab, “ Nak, kamu coba lihat banyak mana daging dan durinya ?

“ Banyak dagingnya Bu, “ timpal si anak.

“ Nah, kamu tahu mengapa kamu tidak bisa ? Itu karena kamu terlalu fokus pada durinya bukan pada dagingnya.”

Sikap kita sangat menentukan bagaimana cara pandang kita terhadap sebuah persoalan. Bagi orang-orang positif, suatu masalah dapat menjadi titian tangga menuju keberhasilan. Orang-orang positif selalu menjadikan setiap masalah sebagai pelajaran berharga yang akan semakin mendekatkan mereka dengan kesuksesan. Sementara itu, bagi orang negatif, suatu masalah bisa menjadi tembok penghalang dan batu sandungan. Sesungguhnya kedua-duanya benar, hal yang membedakan adalah cara pandang masing-masing terhadap suatu permasalahan.

Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang anak kecil yang mengalahkan raksasa. Di suatu desa ada seorang raksasa yang kebiasaannya adalah menakuti dan menculik anak-anak kecil sebagai mangsanya sehingga seluruh penduduk desa resah dan ketakutan.  Suatu ketika datanglah seorang anak muda dari desa lain yang memiliki tubuh kurus dan tidak terlihat memiliki kekuatan. Mendengar cerita tentang raksasa jahat, si pemuda bertanya,” Mengapa kalian tidak membunuh raksasa itu ?” Dengan mimik ketakutan penduduk desa menjawab,” Bagaimana kami bisa membunuh, ia terlalu besar untuk dipukul.” Dengan senyum percaya diri sang anak muda langsung menimpali,” Ia tidak terlalu besar untuk dipukul, tetapi ia terlalu besar untuk lolos dari pukulan kita.” Singkat cerita, konon sang anak muda dapat mengalahkan sang raksasa dengan sebuah ketapel dan beberapa buah batu.

Saya harap Anda menangkap pesannya, bahwa meraih apa yang Anda inginkan dalam kehidupan ini tidaklah menuntut formula ajaib atau unsur-unsur rahasia. Sukses bukanlah sulap atau kepandaian bersilat lidah melainkan belajar fokus. Fokuslah kepada apa yang efektif ketimbang yang tidak efektif. Tetapi banyak orang masih fokus pada hal-hal yang keliru. 

Mereka-mereka yang hidupnya pas-pasan setiap bulannya, belum mempelajari bagaimana meraih kepandaian dalam soal keuangan. Mereka fokus pada pembelanjaan ketimbang meraih dasar yang kuat untuk masa depan. Mereka yang kariernya mentok dalam suatu pekerjaan karena mereka tidak fokus pada bidang-bidang dimana mereka cemerlang. Dalam persoalan kesehatan pun mereka kurang sadar, mereka yang punya masalah dengan obesitas atau kegemukan, karena mereka fokus kepada terlalu banyak makan dan olahraga terlalu sedikit. 

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Kamis, 13 Maret 2014

Jenuh Di Tempat Kerja


Seorang pemuda mengeluh kepada saya bahwa dia merasa terganggu sekali dengan rasa bosan di tempat kerjanya. Padahal, menurutnya sudah sesuai dengan apa yang dia cita-citakan semasa kecil ingin bekerja di sebuah perusahaan perbankan. Bahkan sesuai pula dengan kelulusannya di bidang Ekonomi Akutansi.

“ Setelah lima tahun, saya merasa bosan bekerja disitu. Kalau keluar, mau kerja apa lagi ? Saya butuh sesuatu yang baru, tapi apa ?, katanya. 

Rasa bosan adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi, yang dapat menghinggapi siapa saja.  Walau pun perasaan ini wajar, kalau dibiarkan bisa menjadi sangat berbahaya. Coba bayangkan kalau Anda merasa bosan hidup. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Bosan sesungguhnya adalah sebuah pertanda ada yang salah dengan diri kita.

Saya sendiri punya pengalaman bekerja dua puluh tahun lebih di Pertamina, pekerjaannya juga itu-itu saja. Saya mencoba mengatasi kebosanan dengan mencoba memikirkan cara-cara baru untuk lebih sukses dan puas terhadap hasil kerja. Kalau saja kita mau sedikit berpikir pasti ada saja cara-cara kerja kita yang sesungguhnya kurang praktis, tidak efektif atau pun efisien yang dapat dibenahi.

Jangan biarkan rasa bosan ini mengusik kita, kita harus segera menanganinya. Agar kita dapat menanganinya dengan baik, kita harus tahu yang menjadi penyebab dari rasa bosan kita. Menurut hemat saya, ada empat penyebab rasa bosan di tempat kerja.

Pertama, adalah karena situasi dan kondisi di kantor. Sering disebut bosan situasional. Rasa bosan seperti ini adalah rasa bosan yang intensitasnya paling rendah. Biasanya disebabkan terjebak oleh rutinitas kerja, bertemu dengan rekan kerja yang sama, atasan yang sama dan lingkungan yang sama. Kalau ini yang terjadi, ambillah jarak dengan pekerjaan Anda. Ambillah cuti tahunan, liburan dan bersenang-senanglah beberapa saat agar pikiran Anda segar kembali.

Kedua, karena mungkin kemampuan Anda sudah melebihi tuntutan kerja. Wajar kalau bosan, karena pekerjaan yang Anda hadapi sudah tidak menantang lagi. Ibarat Anda sudah duduk di perguruan tinggi, kemudian disuruh mengerjakan soal-soal anak sekolah dasar. Yang perlu Anda lakukan adalah kepantasan untuk naik kelas. Tunjukkan prestasi Anda kemudian diskusikan dengan atasan Anda mengenai kemungkinan ini. Mungkin dengan cara meminta pekerjaan baru yang memiliki tanggung jawab lebih besar.

Ketiga, penyebabnya mungkin karena Anda sudah tidak mempunyai mimpi lagi. Hidup tanpa mimpi seperti hidup tanpa nyawa. Tanpa mimpi, hidup tidak bergairah lagi. Anda harus selalu menaikkan tujuan Anda setiap kali Anda mencapai posisi tertentu, janganlah berlama-lama disitu sampai Anda merasa bosan. Bila ini terjadi, maka Anda perlu mencari waktu luang untuk merenungkan apa yang sesungguhnya Anda cari dalam hidup ini.

Keempat, adalah karena Anda tidak menemukan makna dalam pekerjaan Anda. Maukan Anda digaji untuk bekerja tetapi hanya disuruh berdiam diri saja ? Kalau Anda normal pasti tidak mau, karena rasanya bukan nyaman tapi tersiksa. Sesuatu yang tidak bermakna pasti membosankan. Jadi, yang dicari manusia dalam pekerjaan sesungguhnya bukan hanya uang tetapi makna dari pekerjaan itu sendiri. Cari dan lihatlah manfaat dari pekerjaan yang Anda lakukan sekarang, mungkin bagi para pelanggan, bagi diri sendiri, atau bagi orang lain. Jika Anda bisa menemukannya, kebosanan akan semakin menjauh dari kehidupan Anda.

Hanya ada dua cara menjalani kehidupan kita. Yang pertama seolah tidak ada yang luar biasa. Kedua seolah segala sesuatu adalah luar biasa.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.