Bersama jajaran Manajemen dan Karyawan yang dibawahinya.

Liburan bersama keluarga

Bersama istri tercinta "Laniati Dewi".

Hidup hanya sekali...Hiduplah dengan Luar Biasa !!

Bersama manajer pelumas "Sutoyo Wijaya" salah satu divisi yang dibawahinya

Sabtu, 05 April 2014

" Saya Salah "


Sangatlah sulit untuk mengakui kita salah, bahkan kepada diri sendiri, dan semakin sulit lagi berani mengatakan dengan lantang, “ Saya salah. ” Mengucapkan “ saya salah “ baru berarti jika berasal dari hati kita, bukan dari bibir. Seringkali diperlukan perubahan yang tulus dan menyeluruh dalam diri kita, karena kita perlu menerima bahwa kita bisa saja salah.

Ungkapan secara terbuka ketika mengakui kesalahan dapat menjadi contoh kesediaan kita untuk berubah dan bisa membawa dampak positif terhadap kehidupan orang lain. Sifat keras kepala yang membuat kita ingin selalu benar dapat mecah belah teman atau anggota keluarga. Kadang keinginan menjadi pihak yang benar dapat menyebabkan pertengkaran yang tak layak dimenangkan, dan kalau dipikir lagi bahkan sangat bodoh.

Bertahun-tahun saya belajar, bahwa kesalahan harus berani diakui, dan juga harus menyesal. Ketika melakukan kesalahan, kita mungkin telah menyakiti seseorang pada prosesnya, maka pengakuan kita bukan sekedar teknis atau mekanis, yang cukup hanya mengatakan orang lain benar dan kita yang salah, melainkan lebih dari itu.

Titik baliknya adalah ketika saya SMA, pada saat menerima raport kenaikan dari kelas dua ke kelas tiga ternyata saya dinyatakan tidak naik. Bukan karena saya bodoh, tapi karena seringnya saya bolos sekolah sehingga nilai di raport diberi nilai merah semua. Saya telah menyakiti kedua orang tua yang membiayai sekolah saya.

Awalnya saya tidak berani menghadapi kejadian ini, saya sempat pergi tanpa pamit selama beberapa hari ke Jogya, numpang di rumah teman. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah, meminta maaf kepada kedua orang tua, mengatakan, “ Saya salah dan saya menyesal.“ Peristiwa ini adalah peristiwa penting yang tidak akan pernah saya lupakan dan saya telah belajar satu hal, bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.

Seiring umur, saya telah berbuat banyak kesalahan dalam kehidupan dan telah mengakui kepada diri sendiri dan orang lain bahwa saya jauh dari sempurna. Pengakuan kita merupakan tanda kekuatan bahwa kita rendah hati dan tidak terlalu hebat untuk mengakui kesalahan.

Mengakui kesalahan terutama sulit dilakukan oleh orang-orang berada pada posisi pemimpin. Mereka biasanya menyalahkan anak buahnya, melemparkan tanggung jawab mereka sebagai seorang pemimpin. Namun dalam organisasi yang saya pimpin, saya memberikan contoh kepada  mereka dengan berani mengatakan, “ Saya salah.”

Kemampuan mengakui kesalahan membuat saya  dapat memperbaiki kesalahan dan bekerja sama mencari solusi. Mengakui kesalahan akan menciptakan kesempatan belajar dari kesalahan dan memanfaatkan sudut pandang orang lain. 

“ Saya salah “ mengubah perilaku dan memberi kita manfaat hubungan yang sehat saat kita mencari cara-cara agar selalu positif. Jika bersalah, kita merasa tidak nyaman, tapi lebih tidak nyaman lagi untuk mengakui kepada seseorang bahwa kita salah. Bayangkan apa yang akan terjadi jika Anda mengatakan kepada seseorang, “ Saya salah, Anda benar.” Cobalah, Anda akan merasakan bahwa itu tidak terlalu menyulitkan seperti yang Anda bayangkan, dan semakin lama akan semakin mudah dilakukan.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Jumat, 04 April 2014

Kosa Kata Yang Harus dihindari


Kata-kata digunakan untuk membuat kita tertawa dan menangis. Kata-kata dapat melukai atau menyembuhkan hati kita. Kata-kata dapat memberi kita harapan dan kehancuran. Dengan “kata” kita dapat membuat maksud termulia kita dapat dirasakan dan keinginan terdalam kita diketahui oleh orang lain.

Pemilihan kata yang efektif untuk menggambarkan pengalaman hidup kita dapat meningkatkan emosi kita yang paling memberdayakan. Pemilihan kata yang buruk dapat menghancurkan kita dengan pasti dan cepat.

Seorang psikiater ternama pernah berkata bahwa dua patah kata paling menyedihkan dalam kosa kata manusia adalah “ Kalau saja “. Dia yakin bahwa orang yang terjebak dalam kegagalan menghabiskan seluruh hidupnya dengan berkata, “ Kalau saja....kalau saja saya berusaha lebih keras, kalau saja saya bersikap lebih lembut pada anak-anak saya, kalau saja saya lebih tekun, kalau saja saya lebih jujur, kalau saja.....”

Cara membenahi pola pikir seperti itu adalah dengan mengubah kosa kata Anda dan menggantinya dengan kata “ Lain kali “....lain kali saya akan berusaha lebih keras, lain kali saya akan bersikap lebih lembut pada anak-anak saya, lain kali saya akan lebih tekun, lain kali....”

Kegagalan bukanlah kegagalan kalau Anda memperbaikinya di lain kesempatan. Saya pernah baca hasil dari mewawancarai tujuh puluh orang yang mengukir prestasi teratas di berbagai bidang, tidak ada yang menggunakan kata gagal untuk mendeskripsikan kesalahan mereka. Sebaliknya, mereka menganggapnya pembelajaran, jalan memutar atau kesempatan untuk berkembang, pelajaran yang berharga.

Anda boleh menganggap itu cuma perbedaan kecil, tetapi perbedaan kecil yang dapat menghasilkan perbedaan besar. Cara perpikir kita menentukan tindakan kita. Orang-orang negatif memilih kata-kata yang mengambil peran sebagai korban, bukan sebagai pemeran utama. The world is a stage and we are all actors ini it. Dunia adalah sebuah panggung dan kita semua adalah aktor di dalamnya.

Seperti kata-kata, “ Kenapa saya “, orang-orang mengeluh kenapa harus saya yang dilahirkan dari keluarga miskin, kenapa saya hanya berpendidikan rendah, kenapa saya gajinya tidak naik-naik, dan ratusan “ kenapa saya” selalu menghantui kehidupan mereka.

Ada lagi orang yang selalu mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, sehingga seringkali takut dan tidak memiliki keberanian untuk bertindak. Yaitu kalimat “ Apa yang akan terjadi jika....”  Sebagai contoh, “ Apa yang akan terjadi jika saya berbisnis dan tidak berhasil ?, Apa yang terjadi jika saya dipromosikan dan tidak dapat mengerjakan tugas baru saya ?”

Bayangkan kata-kata atau kalimat yang akan merenggut dan mengkerdilkan potensi diri Anda. Hindarilah penggunaannya dan mulailah mengambil tanggung jawab penuh akan keberhasilan Anda. Anda bukan korban, bukan juga penonton, Anda adalah pemeran utama hidup Anda. Hari ketika Anda berhenti untuk mencari-cari alasan dan kambing hitam adalah hari ketika Anda memulai menaiki tangga kesuksesan.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Kamis, 03 April 2014

Musuh Sukses


Ada pepatah yang mengatakan bahwa suatu peristiwa terjadi dua kali. Pertama terjadi di dalam pikiran seseorang dan kedua terjadi secara nyata dalam bentuk tindakan yang membawa hasil. Anda tentu sering mendengar bahwa apa yang Anda pikirkan setiap hari itulah yang menjadi kenyataan. Namun hal itu tidak seluruhnya benar, karena kebanyakan orang sudah mempunyai niat yang hebat, tapi jarang direalisasikan dalam bentuk tindakan.


Setiap hari, pikiran kita berisi suatu perjalanan tindakan yang akan kita lakukan hari itu. Kita sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan namun pikiran kita seringkali bernegosiasi untuk melakukan sesuatu yang lebih mudah dan ujung-ujungnya terjadi penundaan atau tidak kita lakukan.

Akhirnya satu hari yang seharusnya produktif telah berakhir, lalu kita berjanji untuk melakukannya besok. Dan bukanlah kejutan jika besok kita pun menemukan banyak sekali alasan yang masuk akal sehingga menunda besoknya lagi. Ada satu tip efektif yang dapat kita pakai untuk menghadapinya, bagilah pekerjaan itu menjadi bagian-bagian lebih kecil sehingga kita tidak merasa tertekan dalam menjalankannya.

Hingga hari ini saya sudah menuliskan lebih dari 150 buah artikel atau katakan saja 150 halaman sejak akhir September 2013. Sekarang coba bayangkan, sanggupkah Anda menulis buku setebal 150 halaman ? Anda mungkin langsung panik membayangkan begitu banyak waktu, pikiran dan tenaga yang harus Anda keluarkan untuk memenuhi hal itu. Namun bayangkan kalau Anda hanya harus menulis satu halaman sehari. Rasanya tentu lebih mudah dan lebih masuk akal.


Akan tetapi, ketika kita merenungkannya lagi, komitmen apa yang harus kita lakukan selama 150 hari ke depan, saya yakin Anda akan tertekan lagi. Pertanyaannya saya rubah, mampukah Anda menuliskan satu halaman saja hari ini, tidak usah memikirkan besok, minggu depan atau bulan depan ? Bagaimana, kelihatannya amat mudah bukan ?

Ketika saya mau mendelegasikan tugas-tugas yang biasa saya lakukan, pernah saya membayangkan untuk mencari seseorang yang mampu berpikir dan bertindak seperti diri saya, memikirkan A sampai Z dengan baik, namun akhirnya bertahun-tahun saya tidak mendelegasikannya hanya karena belum menemukan orang itu.

Namun ketika saya membagi tugas kepemimpinan saya menjadi bagian-bagian kecil, maka orang-orang saya ternyata mampu melakukannya. Saya kemudian mendelegasikan ke beberapa orang staff untuk menjalankan tugas-tugas saya dan tidak perlu lagi mencari seseorang yang mungkin juga sulit ditemukan.

Semua orang menetapkan tujuan jangka pajang yang akan membantu mereka tetap fokus pada apa yang mereka inginkan. Namun hal itu harus diwujudkan setiap hari dan setiap saat. Jadi Anda perlu menetapkan tujuan jangka pendek yang nyata dan realistis, mengambil satu langkah maju menuju tujuan jangka panjang Anda.

Intinya, janganlah membayangkan pekerjaan-pekerjaan besar di masa depan, karena hal itu akan membuat Anda “ mundur ”. Fokuskanlah untuk mengerjakan apa yang dapat Anda kerjakan dalam satu hari saja, karena esok hari mempunyai tugas yang lain yang harus diselesaikan. 

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Rabu, 02 April 2014

Enam Alasan Untuk Menunda

Boleh dikata semua orang suka menunda-nunda. Kalau bisa menghibur, Anda tidak sendirian karena saya sendiri sering terperangkap dengan penundaan. Sikap ini seperti pencuri, yang secara tersamar menanti untuk merampas pengharapan dan impian kita. Ada enam alasan yang baik mengapa saya mungkin menunda-nunda. 

Pertama, Kita merasa bosan. Ini adalah fakta kehidupan. Saya merasa kurang antusias dari waktu ke waktu . Terkadang pekerjaan kita menjadi rutin, dan ujung-ujungnya kita bekerja tanpa semangat. Kita selalu membutuhkan tantangan baru, sesuatu yang dapat membuat adrenalin kita terus mengalir dengan deras.

Salah satu cara untuk menjadikan kita bersemangat kembali kembangkanlah sasaran-sasaran yang lebih besar. Ini tentu menuntut hal-hal baru yang membuat kita perlu lebih kreatif dan inovatif dan keasyikan baru pun akan mewarnai kegiatan kita di kantor.

Kedua, Kewalahan dengan pekerjaan kita. Seringkali saya menunda-nunda karena membiarkan segalanya menumpuk. Ini mungkin saja dimulai dengan satu hal kecil yang saya abaikan karena waktunya tidak tepat, atau karena saya enggan mengerjakannya. Lalu datanglah tugas lain dan ini pun saya tunda. Setelah beberapa lama muncullah setengah lusin tugas yang kita tunda. Tidak lama kemudian kita kewalahan membayangkan sehingga kita pun terasa berat untuk memulainya. 

Ketiga, Keyakinan kita menurun. Penundaan itu setara dengan keraguan kita. Memikirkan apa yang harus dikerjakan dan segala hal yang mungkin saja tidak beres, jauh lebih melelahkan secara mental ketimbang benar-benar mengerjakannya. 

Ketakutan juga bisa menjadi motivator yang hebat, seperti seorang pelatih menjelaskan begini, “ Yang mendorong saya selama ini adalah bahwa ketakutan dan kekecewaaan akan kekalahan selalu saja lebih besar daripada sukacita dan kepuasan akan kemenangan.”

Keempat, Harga diri kita rendah. Orang yang merasa harga dirinya rendah sering merasa tidak layak sukses di benak mereka, sehingga mengembangkan kebiasaan mensabotase potensi sukses. Hal ini mungkin melibatkan sistim keyakinan lama ( belief ) dan masa lalu yang traumatis.

Kelima, Kita tidak benar-benar menikmati pekerjaan kita. Ed Foreman, melakukan riset mendalam tentang persoalan ini. Yang ditemukan, orang sukses itu mengerjakan hal-hal yang tidak senang dikerjakan oleh orang-orang yang tidak sukses. Mereka pun tidak senang, tetapi mereka kerjakan juga.

Keenam, Pokoknya memang malas. Tidak banyak yang bisa kita diskusikan disini. Kalau kita menghindari tindakan karena kita lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang kita sukai tapi tidak ada manfaatnya, kecil sekali kemungkinan kita untuk sukses. Kemalasan itu dilarang.

Umumnya, kurang motivasi biasanya merupakan akar-akar penyebab penundaan kita. Lebih mudah menunda segalanya ketimbang bertindak menentukan. Ketika Anda menyadarinya, mengobrollah dengan diri sendiri dan fokuslah menemukan jalan keluarnya. Pastikanlah Anda tidak menjadi salah seorang yang menjalani kehidupannya dengan cap “ Tidak Tuntas.”

Seperti yang dengan fasih dikatakan oleh Jim Rohn, “ Kepedihan disiplin ini hanya beberapa ons beratnya, sementara kepedihan penyesalan itu berton-ton beratnya.”

Salam Sukses, Hiduplah Luar Biasa.


Selasa, 01 April 2014

Manage Your Boss


Beberapa hari yang lalu saya dapat email dari HRExcellency punya groupnya Anthony Dio Martin, bapak Kecerdasan Emosi di Indonesia, diskusi tentang “ manage your boss “. Perumpamaan yang cukup menarik yang diilustrasikan oleh mereka sehingga perlu rasanya saya coba bahas disini, walau tidak sama persis.

Ibarat sebuah gelas berisi setengah, terdiri dari air dan minyak, minyak karena berat jenisnya lebih ringan akan selalu berada di atas. Jika minyak kita anggap sebagai boss sedangkan air adalah diri kita dan posisi kita di dalam organisasi. Bagaimana caranya supaya posisi diri kita bisa semakin naik dan semakin naik ? 

Lalu kita tambahkan air ke dalam gelas supaya levelnya naik. Kita pun akan melihat bahwa minyak akan ikut terdorong ke atas. Kesimpulannya, kalau ingin menaikkan level atau posisi kita, pastikan bahwa kita mendukung boss kita.

Banyak orang berpikir bahwa mendukung boss adalah pekerjaan menjilat atau mencari muka. Tapi apa yang diilustrasikan diatas sebenarnya adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Kalau Anda menginginkan karier yang lebih baik, Anda harus belajar mendukung boss Anda.

Sayangnya, banyak orang tidak berpikir demikian, bahkan banyak yang negatif tentang hal ini. Ujung-ujungnya mereka jadi malas mengembangkan diri, bekerja tidak sepenuh hati. Ketika kita tidak mau belajar dan menambah kemampuan kita, akibatnya kita akan terus berada di level yang sama.

Banyak orang yang mencampuradukkan antara hal yang personal dan profesional. Seorang penjilat adalah orang yang memiliki niat untuk keuntungan pribadi. Tapi orang yang profesional adalah orang yang melakukan sesuai profesinya. Selama bekerja secara profesional, sesungguhnya kita sebagai karyawan tidak perlu khawatir dicap sebagai penjilat sehingga harus menjaga jarak dengan bossnya. Tidak menghadap jika tidak dipanggil.

Ada beberapa tahapan yang dapat kita pelajari untuk menjadi seorang pemimpin. Tahap pertama, adalah belajarlah memanage diri sendiri, kehidupan kita dan keluarga. Tahap ke dua, kita belajar memanage bawahan atau team ( kalau sudah punya bawahan ) atau sering disebut memimpin ke bawah. Tahap ke tiga, belajar memanage kolega, rekan sejawat atau memimpin ke samping. Tahap ke empat, belajar memanage your boss, atau memimpin ke atas.

Ada pertanyaan yang muncul, bagaimana kalau Boss tersebut tidak layak didukung ? Memang tidak semua Boss berkualitas, itu fakta yang terjadi. Jika kita sudah tidak suka, tetapi tidak bisa keluar dan tetap berada dalam situasi itu, mungkin ide terbaik adalah mengalah untuk menang. Bagaimanapun, nasib dan masa depan tetap ditentukan oleh Boss kita.

Sun Tzu mengatakan, “ Jangan pernah bertempur di medan pertempuran yang tidak akan pernah bisa kita menangkan. ” Bertempur melawan Boss adalah pertempuran yang sulit dimenangkan. Daripada melawan, langkah terbaik adalah belajar bagaimana memanage dia, karena nasib kita untuk sementara tergantung kepadanya.

Kesimpulannya, Manage Your Boss = Manage Your Career. Setuju ?

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.