Bersama jajaran Manajemen dan Karyawan yang dibawahinya.

Liburan bersama keluarga

Bersama istri tercinta "Laniati Dewi".

Hidup hanya sekali...Hiduplah dengan Luar Biasa !!

Bersama manajer pelumas "Sutoyo Wijaya" salah satu divisi yang dibawahinya

Rabu, 07 Mei 2014

Peremeh Yang Menyemangati


Banyak orang mengatakan bahwa para mentor memiliki peran yang amat penting dalam kesuksesan mereka. Seorang mentor adalah orang yang mendukung kita, memberikan nasihat, dorongan atau motivasi agar kita dapat mendorong diri kita sendiri mencapai apa yang kita inginkan.

Tetapi ada juga orang yang tidak benar-benar mendukung kita, mereka mendorong kita dengan cara yang tidak manis. Saya menyebutnya sebagai “ peremeh “ karena mereka meremehkan kemampuan kita, mereka seolah menghina kita, menekan kita tapi mereka sebenarnya memberikan cambukan pada punggung kita walau bukan dengan tepukan ramah penyemangat.

Kita bisa saja membiarkan para peremeh itu menghancurkan diri kita, atau sebaliknya kita dapat menggunakan atau memanfaatkan mereka sebagai tenaga yang sangat besar dengan membuktikan bahwa mereka salah menilai diri kita. Kadang kala, dorongan semacam ini bisa membawa kita lebih jauh daripada yang pernah kita bayangkan.

Amy Tan seorang penulis best seller mengatakan sindiran seorang bos mendorongnya mati-matian berusaha dan bekerja keras menjadi penulis, “ Kamu beruntung jika sampai kamu bisa menghasilkan sepeser uang dari situ.” Edward Brutynsky seorang fotografer kawakan benar-benar marah dan ingin membuktikan bahwa ayahnya salah dengan mengatakan bahwa ia tidak akan bisa berhasil dalam hal apa pun.

Dosen Kimia saya di Akamigas Cepu, pernah mengatakan kepada saya, ketika hari pertama kuliah, ” Test masuknya ranking satu, tetapi lulusnya nanti belum tentu “. Membuatku agak tersinggung dan marah karena sangat meremehkanku. Dan saya berjanji dalam hati, membuat komitmen dan belajar dengan keras sehingga saya berhasil lulus nomor satu.

Beberapa waktu yang lampau, ketika saya sedang presentasi di depan orang banyak, salah seorang peserta menghina saya, katanya, “ Bagaimana mungkin Anda bercerita tentang bisnis yang hasilnya milyaran, sekarang saja Anda masih pakai sepeda motor”. Terus terang saya sakit hati saat itu, wajah saya merah padam meredam kemarahan yang tak terungkapkan.

Saya ingat baik-baik nama orang itu dan kemudian akan saya buktikan dan tunjukkan kelak kalau dia keliru menilai saya. Saya pasti akan menemukan caranya untuk sukses memiliki bisnis milyaran. Saya akan bekerja sangat keras karena lebih baik mati daripada mengijinkan orang ini mengira saya tidak bisa melakukan sesuatu. 

Sekarang saya tidak menganjurkan siapa pun untuk meremehkan orang lain. Karena hal itu tidak menyenangkan dan menyakiti seseorang. Namun para peremeh seperti guru kimiaku dan salah satu peserta telah memacu saya untuk mengerjakan sesuatu dengan sangat baik. Saya merasa mendapat tambahan energi yang menimbulkan sikap pantang menyerah, sampai berhasil.

Jika Anda melihat diri Anda juga di bawah pengaruh orang-orang yang meremehkan Anda atau merendahkan Anda, gunakanlah mereka sebagai tenaga yang menggerakkan Anda untuk maju ke depan. Jangan biarkan Anda dikalahkan oleh mereka. Anggaplah mereka sebagai peremeh yang menyemangati Anda, agar mereka dapat melihat betapa suksesnya Anda sekarang dan mereka akan kecele sepanjang hidup mereka.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Selasa, 06 Mei 2014

Hadiah Terindah


Sedari kecil, saya selalu diberi tugas lebih banyak oleh mendiang ayah dibandingkan dengan saudara-saudara saya yang lain. Alasan yang saya pahami saat itu, mungkin karena saya anak nomer dua dari sembilan bersaudara. Kakak saya satu-satunya jarang diberi tugas sebab ia pernah sakit cukup serius ketika usianya masih sebelas tahun.  

Menginjak sekolah menengah atas, tugas saya semakin berat. Sepulang sekolah, saya masih punya tugas berkeliling menjual tembakau ke toko-toko langganan ayah di beberapa daerah yang masih terjangkau dengan sepeda motor. Kebetulan ayah saya saudagar tembakau yang cukup ternama di kota Purwokerto.

Ayah saya bukan tipe orang yang mudah menyetujui apa yang menjadi keinginan anaknya. Ketika saya ingin dibelikan sepeda motor pribadi, saya memohon-mohon tetapi tidak pernah dikabulkan. Saya hanya boleh memakai sepeda motor yang ada untuk kerja atau tugas yang ayah berikan saja. 

Bukannya memberi saya sepeda motor untuk jalan dan bergaya, ia malah memberikan sesuatu yang nantinya lebih baik dan lebih berharga dari sepeda motor yaitu semangat kerja. Saya memperoleh banyak pelajaran dengan banyaknya tugas yang diberikan, dan semangat kerja ini yang mendukung saya menjadi seperti sekarang.

Bagaimana Anda memilih suatu semangat kerja ? Caranya adalah bergaul dengan orang-orang yang memilikinya. Kebetulan ayah saya mengajarkan semangat kerja. Jika Anda bukan lahir dari keluarga yang memiliki semangat kerja, bergaullah dengan mereka yang menyenangi pekerjaan mereka.

Suatu semangat kerja tidak hanya memengaruhi Anda, namun juga akan memengaruhi orang-orang di mana Anda bekerja, di sekitar Anda. Saya juga menemukan bahwa semangat kerja yang kuat merupakan hal-hal yang umum dimiliki oleh orang-orang sukses dalam berbagai bidang.

Anita Roddick, pendiri jaringan toko Body Shop mengatakan, “ Aku dibesarkan di keluarga besar imigran Italy dengan suatu etika kerja...kami bekerja setiap akhir pekan, setiap sore, dan setiap hari libur di sebuah kafe.”

Seorang perawat mengungkapkan betapa semangat kerja menciptakan pelayanan mereka lebih baik, “ Dalam pekerjaanku semangat kerja memengaruhi pelayanan pada para pasien, dan itu akan berpengaruh pada kesembuhan pasien.”

Kenneth Tuchman pendiri Tele Tech bercerita jika dia berasal dari keluarga yang memiliki semangat kerja yang luar biasa. Ketika berusia 12 tahun, dia bertanya pada ayahnya, “ Kapan aku mendapatkan uang saku pertamaku ?” Ayahnya menjawab, “ Ketika kamu mendapatkan pekerjaan.” Jadi keesokan harinya dia mendapatkan pekerjaan di sebuah toko sepeda, dan menjadi pramuniaga nomor satu di situ.

Jikalau menengok ke belakang, semangat kerja merupakan hadiah terindah yang pernah diberikan ayah saya ( meskipun waktu itu saya akan lebih suka hadiah sepeda motor ). Namun, semua tahu bahwa harta benda atau pun uang akan hilang lebih cepat. Sebaliknya, berikanlah semangat kerja yang kuat pada anak-anak Anda sebagai hadiah terindah, sehingga semangat kerja tersebut akan membawa mereka menuju masa depan dengan kesuksesan.

Kualifikasi utama untuk meraih kesuksesan dalam pandangan saya adalah semangat kerja yang kuat. 

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.



Senin, 05 Mei 2014

Service Itu Diskriminatif


Saya paling suka kalau bepergian lewat bandara Jogya, Surabaya dan Ngurah Rai-Denpasar karena tidak perlu terlalu repot mengangkut bawaan sendiri untuk masuk. Dengan menunjukkan kartu Mandiri Prioritas, maka Anda akan dilayani oleh petugas khusus yang membantu membawakan barang bawaan Anda, dan check in ke counter penerbangan. Sayangnya, hanya di tiga bandara ini saja yang saya ketahui ada Mandiri Prioritas yang  menyediakan fasilitas check in. 

Beberapa bulan yang lalu saya sekeluarga nyaris ketinggalan pesawat kalau saja tidak menggunakan pelayanan ini saat mau terbang dari Denpasar ke Jogya. Seperti biasa kami berangkat ke bandara tidak terlalu mepet dengan jam keberangkatan, karena kami tahu jarak berjalan kaki dari dropping point ke pintu masuk utama cukup jauh, apalagi saya bersama ibu yang sudah cukup sepuh.

Tiba-tiba ada pengumuman pesawat kami boarding, padahal kami masih di luar belum melewati pos pemeriksaan pada pintu masuk utama. Ternyata jam keberangkatan dimajukan tanpa kami ketahui dan tidak ada pemberitahuan. Namun syukurlah, service itu diskriminatif ! Kami boleh menerobos antrian panjang dengan didampingi petugas walau pun kami sempat panik. Dengan sigap petugas segera mencarikan kursi roda untuk ibu agar kami dapat lebih cepat dan tidak ketinggalan pesawat.

Dengan menggunakan kartu Mandiri Prioritas, Anda juga boleh masuk ke lounge yang ada tandanya Mandiri. Tempat yang bersih dan luas, sejuk tidak seperti di ruang tunggu biasa. Ada banyak pilihan minuman yang panas mau pun dingin, makanan yang beraneka macam semuanya Gratis ! Tersedia pula fasilitas beberapa komputer untuk berinternet sambil menunggu. Pokoknya nyaman.

Bayangkan kalau saya harus mengeluarkan uang ekstra untuk kami berlima. Itulah bedanya menjadi customer prioritas, Anda tinggal tunjukkan kartunya maka Anda mendapatkan pelayanan lebih dari yang lain. Fasilitas lounge gratis dapat Anda temukan hampir di seluruh bandara besar di Indonesia. Yang saya paling suka menunggu di dalam lounge di Indonesia, smoking room juga disediakan disitu.

Suatu pelayanan yang kita dapatkan pasti akan selalu kita nilai kualitasnya.  Kita juga akan selalu ingat bagaimana cara mereka melayani kita. Kita akan melupakan bahwa untuk bisa memperoleh kartu itu harus memasukkan deposito yang cukup banyak, namun kesan yang kita peroleh akan terus melekat. Seperti juga saat kita membeli barang atau jasa, pelayanan yang berkualitas pasti menjadi pilihan. Mana mungkin kita mau membeli bila toko atau pelayannya tidak melayani dengan baik.

Perusahaan memang harus memiliki sebuah standar pelayanan yang harus diberikan kepada semua customer. Namun untuk customer tertentu, yang membayar lebih atau sebut saja customer kelas A, tentu saja Anda boleh memberi lebih. Perlu diingat, yang membuat customer benar-benar senang bukanlah pelayanan ekstra yang lebih mewah, tapi sentuhan pribadi yang Anda berikan.

Saat Anda mau mendengarkan customer, saat Anda mau mengerti perasaan customer, lalu mau melakukan sesuatu yang simpel dan menarik, itulah yang akan diingat oleh customer. Bahkan disaat Anda tidak berwenang memberikan sesuatu yang berharga, berikanlah perhatian dengan hati yang tulus. Ingatlah nama customer, ingatlah nama anaknya, ingatlah akan hobi dan kesukaannya, kenali dengan baik customer Anda.


Jangan takut melakukan pilih kasih pada customer Anda yang istimewa, sebab Anda pasti akan lebih disukai oleh customer Anda. Pada hakikatnya Anda tidak akan mungkin bisa melayani semua orang dengan sama baiknya, itulah uniknya service atau pelayanan, tidak ada service yang cukup bagi setiap orang.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Sabtu, 03 Mei 2014

Inovasi


Belum lama berselang kita dihebohkan dengan klarifikasi Panglima TNI Jendral Moeldoko tentang jam tangan yang dipakainya, yang ditengarai berharga 1 milyar. Namun beliau mengaku bahwa jam tangan miliknya yang ramai dibicarakan masyarakat Indonesia adalah barang tiruan yang dibelinya seharga 5 juta rupiah dari sebuah situs lelang.

Moeldoko juga mengaku tertarik membeli jam tangan tersebut karena melihat inovasi yang terdapat di dalamnya. Begitu melihat, yang ada di pikirannya adalah inovasi dan inovasi.  “ Setiap kali lihat jam tangan ini , saya ingat inovasi dan inovasi, jadi bukan untuk pamer,” demikian imbuhnya.

Melakukan inovasi tanpa kenal lelah adalah salah satu syarat untuk sebuah perusahaan bisa sukses secara berkesinambungan. Perusahaan yang tidak melakukan inovasi atau tidak melakukan suatu perubahan, akan kehilangan peluang pasar atau kalah dari para pesaingnya, meski pun awalnya sebagai market leader.

Satu hal yang perlu diingat bahwa inovasi tidak hanya berupa produk-produk baru, tetapi juga berbagai improvement atau perbaikan yang terus menerus. Banyak cara melakukan inovasi yang dapat menghasilkan value atau nilai baru bagi para customer kita.

Kita juga berinovasi ketika menggunakan teknologi informasi untuk meningkatkan kinerja yang menghasilkan value baru. Kita pun berinovasi ketika memperbaiki proses sehingga menghasilkan proses yang lebih baik, lebih cepat dan lebih sempurna serta lebih murah.

Kita juga berinovasi ketika dapat menyederhanakan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya rumit dan penuh komplikasi menjadi aktivitas yang simpel, aman, mudah, efektif dan efisien. Artinya, dalam konteks inovasi yang lebih luas, banyak sekali ruang yang tersedia bagi karyawan perusahaan untuk bisa ikut berpartisipasi dalam berinovasi.

Dalam dunia persaingan bisnis yang makin ketat, faktor penting dalam berinovasi adalah kecepatan dan terus menerus. Sehingga dibutuhkan suatu budaya baru yaitu “ berkolaborasi “ agar seluruh karyawan perusahaan dapat ikut berperan serta dalam menjaga kelangsungan perusahaan.


Hanya dalam budaya kolaborasi, inovasi akan menemukan tanah untuk tumbuh subur karena ide-ide bisa dibagi, didiskusikan, dan diperdebatkan bersama. Sebaliknya, inovasi akan mati bila kultur atau budaya yang ada tidak membiarkan orang-orangnya memiliki dan menyampaikan ide. Inovasi akan kehilangan ruang geraknya.

Inovasi tidak dapat hanya diserahkan pada para ahli di bagian riset pengembangan karena prosesnya lahir dari mengetahui apa yang sesungguhnya dibutuhkan konsumen. Orang-orang yang berada di garis depan yang berhadapan langsung dengan para konsumen seharusnya yang mulai memberikan masukan kepada seluruh organisasi.

Jadi, inovasi bukan hanya hal teknis melainkan adalah gerak bersama semua elemen di perusahaan, dan inovasi juga adalah kultur atau budaya yang harus dibangun dan dipelihara. Inovasi dalam suatu perusahaan dapat dianggap sukses jika nilai atau value yang diciptakan lebih besar dari pada biaya yang dikeluarkan untuk pengembangannya. Inovasi akan bergulir jika kita memiliki keberanian dalam bereksperimen dan memiliki keberanian untuk berubah. Marilah kita ramai-ramai ambil bagian dalam berinovasi, setuju ?

Salam SUKSES, HIDUPLUAR BIASA.



Jumat, 02 Mei 2014

Emosi Yang Cerdas


Baru pertama kalinya mengikuti Japfa Chess Festival di Jakarta, salah satu atlit junior putri yang saya kirim kesana mengalami musibah, tasnya yang berisi perlengkapan catur, jam catur, hp, dompet dan akte kelahiran yang asli raib, dicuri orang saat ditinggal sholat padahal hanya berjarak satu meter di belakang sholatnya di mushola gedung pertandingan.

Menghadapi pencuri seperti ini pasti akan mengganggu emosi kita. Kemampuan berpikir kita akan memengaruhi emosi kita, demikian pula sebaliknya emosi kita akan memengaruhi kualitas pikir kita. Menurut pakar kecerdasan emosi Anthonio Dio Martin, “ Anda cerdas secara emosional jikalau nalar Anda sanggup mengarahkan ekspresi emosi Anda.”

Suatu ketika ada seorang ulama menangkap seorang pencuri sandal di masjidnya. Ia mengejar dan berhasil menangkapnya. Dalam situasi ini, sebenarnya ulama juga jengkel dan ingin mengumpat atau menghajarnya, namun ia berhasil mengendalikan emosinya dengan menggunakan nalarnya.

Dengan tegas ia menghardik, “ Saya tidak suka kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Nista sekali. Sekarang kembalikan sandal itu. Ini uang buatmu untuk membeli sandal dan berjanjilah kamu tidak akan mengulanginya lagi.” Nalar sang ulama sanggup mengendalikan emosinya kepada pencuri itu secara positif.

Seorang ibu terkejut ketika pulang dari pasar melihat dinding rumahnya penuh coretan spidol yang dilakukan oleh anaknya. Ia bingung dan berpikir bahwa bila ia marah, akan membunuh kreativitas anaknya. Bila dibiarkan, rumahnya menjadi kotor.

Akhirnya ia menempelkan kertas putih di dinding dan membolehkan anaknya melukis tapi hanya di dinding berkertas putih dan anaknya ternyata setuju. Si ibu merasa senang sebab kebersihan dinding rumahnya terjaga, dan kreativitas si anak pun tetap bertumbuh. 

Mereka yang cerdas secara emosional itu juga mengalami berbagai gejolak emosi, karena berbagai sebab dari sekitar mereka. Sang ulama marah kepada pencuri, si ibu juga terhadap anaknya. Namun mereka secara sadar berusaha mengendalikan dan memilih ekspresi emosi yang terbaik menurut mereka.

Kadang kita diperbudak oleh emosi-emosi yang menghasilkan tindakan kurang baik karena selama ini kita telah membiarkan diri kita yang dikendalikan oleh emosi. Bila kita mampu memakai nalar kita untuk mengarahkan emsoi kita, maka kita yang mengendalikan emosi kita bukan sebaliknya. Kita akan menjadi cerdas secara emosional, sehingga emosi menjadi sumber energi yang bermanfaat.


Kualitas emosi kita sesungguhnya juga sangat menentukan produktivitas dan hasil kerja kita. Anda pasti setuju bila dikatakan bahwa perasaan Anda saat bekerja sangat menentukan hal itu. Intinya, perasaan Anda dalam bekerja bisa menentukan apakah Anda bersemangat, merasa bosan, tertekan atau kehilangan semangat. Semuanya sangat tergantung pada perasaan saat Anda bekerja.

Agar Anda selalu dapat memilih emosi yang cerdas, mulai sekarang sebelum bertindak pikirkanlah apakah kali ini saya telah mengekspresikan emosi yang cerdas.  Atau pikirkanlah sejenak bagaimana kira-kira cara orang yang sangat Anda kagumi dalam mengekspresikan emosinya menghadapi situasi seperti yang sedang Anda hadapi sekarang. Marilah kita semua belajar memiliki emosi yang cerdas, mau ?

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.