Bersama jajaran Manajemen dan Karyawan yang dibawahinya.

Liburan bersama keluarga

Bersama istri tercinta "Laniati Dewi".

Hidup hanya sekali...Hiduplah dengan Luar Biasa !!

Bersama manajer pelumas "Sutoyo Wijaya" salah satu divisi yang dibawahinya

Rabu, 21 Januari 2015

Ujian Rutinitas


Mengapa tempat kerja sering diibaratkan rumah kedua ? Karena waktu dan pikiran kita banyak habis di kantor atau tempat kerja. Soal kepentingan juga sering saling berebut posisi di dalam kepala kita. Ketika di kantor memikirkan keluarga, ketika di rumah malah memikirkan pekerjaan. Tapi ternyata bukan cuma itu, rumah dan kantor juga ada kemiripan.

Jika kantor ada pemimpin dengan pengikut banyak karyawan, di rumah juga ada pemimpin dengan anggota keluarga sebagai pengikut. Rumah dan kantor juga sama memiliki kompleksitas persoalan gagal dan suksesnya sangat tergantung pada ilmu kepemimpinan. Saya melihat ujian kepemimpinan juga tersedia di dalam sebuah keluarga.

Salah satunya adalah soal rutinitas. Soal ini penting sekali baik di kantor maupun di rumah, sehingga ada istilah jebakan rutinitas. Saya atau siapa pun dari kita memiliki potensi ancaman serupa. Karena rutin ketemu, rutin bicara dan rutin acara, hal-hal yang luar biasa di dalam keluarga menjadi tampak biasa. Kita dapat mengamatinya dari romantika kehidupan orang lain. 

Dia yang sangat dikagumi di luar rumah adalah pribadi yang tiba-tiba menjadi sangat biasa begitu di rumah. Sepertinya cuma orang lain yang kagum, tetapi keluarga tidak. Di luaran orang berebut foto dan tanda tangan. Di rumah, anak-anak sendiri enggan diajak jalan. Mereka lebih gembira bersama teman-temannya. Seberapa pun tinggi prestasi anggota keluarga bisa terlihat sebagai soal biasa saja.

Ketika berkunjung ke kantor-kantor cabang, seluruh karyawan berebut memberikan salam. Di kantor pusat, malah saya yang harus memberikan salam terlebih dahulu. Di cabang-cabang saya dirindukan ceramahnya, tapi di kantor sendiri tidak, mungkin karena karyawan bosan mendengar kata-kata saya setiap hari. Padahal, jika sesuatu sudah tampak biasa perlu diwaspadai.

Jika suami mulai tampak biasa di mata istri, istri biasa di mata suami., anak biasa di mata orang tua, adik biasa di mata kakak, dan seterusnya maka akan merosot nilai hubungan itu. Suami mulai bosan kepada istri, istri bosan kepada suami, adik bosan berteman dengan kakak dan seterusnya. Jadi, rutinitas jika tidak diwaspadai bisa berbahaya dan ini harus dicegah.

Sebuah Keluarga bisa rusak nilai-nilainya jika membiarkan rutinitas menjadi kebosanan. Kalau sukses mengatasinya, maka seluruh nilai di rumah akan menarik kita untuk tinggal di dalamnya berlama-lama. Namun jika gagal, maka sebuah nilai yang berharga bisa terbuang sia-sia. Padahal, tidak ada tempat sebaik dan senyaman berada di rumah sendiri.

Demikian pula kebosanan di tempat kerja, karyawan hanya akan menggunakan kantor sebagai pusat tempat bekerja secara fisik, tapi hati mereka berada di luar kantor. Ketika di kantor seluruhnya jadi pendiam, loyo dan tidak bersemangat, begitu di luar kantor berenergi. Dampaknya bisa menular ke sekujur kantor. Padahal, mengatasi rutinitas hanya sebagian kecil dari aspek kepemimpinan.

Tugas pemimpin itu pasti tidak cuma mengatasi kejenuhan soal-soal rutin. Tapi hanya dengan sukses mengatasi soal ini saja bisa mendatangkan hasil yang menakjubkan. Soal biasa akan tampak menjadi luar biasa, soal luar biasa akan tampak menjadi lebih luar biasa lagi. Nilai satu dapat berlipat menjadi dua, yang dua menjadi empat, yang empat menjadi delapan dan seterusnya.

Rumah adalah tempat sebaik-baiknya untuk berlatih mengatasi ancaman rutinitas.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Senin, 19 Januari 2015

Timbangan Badan di Kamarku


Alat timbangan badan ini mulai menjadi penghuni kamarku belum lama, sekitar dua bulanan. Inisiatif dari istri dan anakku yang sedang gencar-gencarnya diet dan berolah raga menurunkan berat badan. Itulah kenapa mengukur berat badan setiap hari jadi semacam kegiatan baru dari anak istriku. Selisih beberapa ons saja dapat membuat mereka sedih dan gembira.

Mereka akan gembira bila mendapati angka timbangannya mengecil, tanda telah menuai kemajuan. Sebaliknya akan sedih, jika angka sebelumnya tidak berubah. Apalagi jika bertambah, jelas-jelas ada yang salah dan bisa stres karenanya. Inilah hebatnya timbangan sebagai alat ukur. Untuk mengukur maju mundurnya hasil dari upaya yang telah kita lakukan, setahap demi setahap.

Menurunkan berat badan memang harus setahap demi setahap, tidak bisa diperoleh dalam sekejab. Ingin sukses juga sama tak bisa dalam sekejab, harus melalui proses tahapan. Tidak secara sekaligus pemberian itu diberikan. Bahkan hujan saja jika tak dipecah dalam banyak butiran dan dikirim cuma dalam satu gelontoran pasti tak tertanggungkan.

Membayangkan penampilan tubuh orang-orang yang rajin fitness memang membuat kagum. Lihat saja Ade Rai yang body dan lengannya mumpuni, atau artis cantik Jenifer Lopez yang usianya sudah kepala empat, tetapi perutnya luar biasa seksi. Mungkin karena itulah anak dan istriku berolah raga keras siang dan malam, tak bisa ditawar.

Tiada hari tanpa olah raga buat mereka, apalagi serba mudah karena mereka tak perlu pergi ke pusat kebugaran, semua sudah lengkap tersedia di rumah. Di ruang atas, ada tiga jenis alat kebugaran yang seperti di sana . Selain itu, masih ada tambahan sepeda statis yang bisa digunakan sambil menonton acara tv. Santai menonton pun sambil membakar lemak, sungguh kedisipilan yang mengagumkan.

Soal kedisiplinan memang soal yang harus kita tanamkan dalam mencapai tujuan. Banyak tugas atau pekerjaan dapat tuntas dilaksanakan dengan baik cuma berkat kedisiplinan semata. Oleh karena itu, saya pun sangat menghargai dan menyemangati anak dan istri jika berhasil menurunkan berat badan sesuai target mereka, yang menurut saya agak tidak masuk akal.

Sungguh mereka butuh motivasi yang kuat jika ingin berhasil mencapai target yang tidak masuk akal itu. Maka, sebagai penyemangat aku berjanji memberikan imbalan yang serupa tidak masuk akalnya. Imbalan yang setara beratnya buatku, bukan cuma berat malahan hampir mustahil. Yaitu dengan memenuhi permintaan mereka yang sampai detik ini belum berhasil kupenuhi.

Berhenti merokok adalah salah satu tantanganku yang paling besar. Kelihatannya sepele, tapi bagi banyak pecandu sepertiku benar-benar menjadi persoalan yang tak pernah tuntas. Meski tahu akibat merokok itu menakutkan ternyata tak cukup membuatku gentar. Perubahan gambar bungkus rokok dengan kanker juga tidak menyurutkan kecuali ada niatan kuat dari diri sendiri.

Banyak hal tidak tercapai karena kurangnya niat untuk mencapainya. Maka memandang niatan kuat mereka menurunkan berat badan secara drastis itu, sungguh perlu diapresiasi, kalau perlu dirayakan. Salah satu kunci sukses adalah niatan kuat. Dua bulan berlalu, timbangan itu masih tetap di kamarku, cuma kini tampak sepi pengguna, menemani rokok yang masih terselip di bibirku.

Ternyata, niatan yang kuanggap kuat itu seperti niatan pada umumnya, cuma hebat pada mulanya.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Sabtu, 17 Januari 2015

Iklim Kepemimpinan


Sebelum menjadi seorang pemimpin, saya pernah menjadi orang yang dipimpin. Sebelum menjadi pemilik perusahaan, puluhan tahun silam saya pernah bekerja sebagai seorang karyawan. Sebelum saya memerintah, saya pernah diperintah-perintah. Jadi, saya pernah menjadi bawahan sebelum menjadi atasan. 

Sebetulnya, di manapun posisi kita berada rasanya bisa sama saja. Menjadi bawahan stres, menjadi atasan juga bisa stres. Mencari lowongan pekerjaan sulit, mencari karyawan juga tidak mudah. Saat menjadi bawahan saya tertekan,setelah menjadi atasan saya menekan. Itulah saat kedudukan saya naik tetapi mental saya menetap, tidak ikut naik.

Idealnya, menjadi bawahan saya gembira, menjadi atasan pun saya gembira. Saya masih ingat ketika menjadi bawahan dan merasa tertekan, tapi setelah saya teliti, ternyata bukan karena ditekan tetapi saya sendirilah yang merasa tertekan. Konsekuensi logis ketika berada dibawah adalah menganggap semua yang datang dari atas cenderung sebagai suatu tekanan.

Maka, saat saya bisa memahami konsekuensi itu, pelan-pelan tumbuh kekuatan menghadapi kondisi ini. Semakin lama saya makin kuat, sehingga makin terasa bahwa konsekuensi menjadi bawahan itu adalah sebatas kewajaran saja. Kemudian setelah segala sesuatunya terasa wajar, sebelum ditekan-tekan, saya mencoba menekankan diri karena sadar kedudukan.

Jika seorang atasan membutuhkan kertas dan pena, saya bergegas mengambil sebelum disuruh. Jika seseorang butuh informasi, saya harus paling cepat menyediakan kebutuhan. Jika seseorang perlu bantuan, saya harus jadi orang pertama yang siaga. Bahkan, jikalau ada atasan lembur butuh teman, saya tergerak untuk menawarkan diri. Itulah reflek bawahan yang membuat gembira.

Sudah tentu kegembiraan semacam itu tidak serta merta. Butuh ujian, butuh kekuatan menanggung penderitaan, tapi yang paling utama adalah butuh kesadaran. Karena saya sadar dengan kedudukan sedang di bawah itulah, maka kepada diri sendiri saya menetapkan sejumlah keharusan. Saat sudah menjadi keharusan, maka menjadi kewajiban. Dan kewajiban, harus dilakukan dengan gembira.

Demikian pula sesudah menjadi atasan, bekal ujian dan kekuatan saat menjadi bawahan itu terbawa dengan baik ketika menjadi atasan. Karena tempat saya di atas, maka seluruh pandangan mengarah ke atas. Saya gembira terhadap pandangan itu. Meskipun gembira, saya menerimanya sebagai suatu kewajaran bukan karena gila hormat.

Soal-soal yang tidak wajar adalah ketika menjadi atasan tapi mengusung sikap bawahan, atau ketika menjadi bawahan mengusung sikap atasan. Ini berbahaya, pasti sumber persoalan. Mentang-mentang atasan lalu memecat bawahan cuma demi memamerkan kekuasaan, juga ketidakwajaran.  Ketika ada karyawan yang layak pecat tetapi tidak dipecat, ini seperti menernak hama di sekujur perusahaan pasti ketidakwajaran.

Maka, ketika menjadi seorang atasan, saya berusaha selalu menjalankan sikap sewajarnya pemimpin termasuk kewajiban memecat tapi juga bercanda dan mentraktir bawahan. Mentraktir bawahan pun bukan pamer kekayaan tapi sudah selayaknya sebagai atasan yang berpenghasilan lebih besar. Tidak wajar jika saya kikir kepada mereka yang membantu saya mencari penghasilan.

Jadi, pertemuan atasan dan bawahan yang sama-sama dalam kewajaran dan sadar kedudukan pasti akan menciptakan iklim kepemimpinan.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Kamis, 15 Januari 2015

Buku Tidak Kasat Mata


Sudah lama saya tertarik ingin memiliki buku berjudul ‘Dao De jing’ The Wisdom of Lao Zi sebagai salah satu koleksi buku-buku di almari saya, tetapi selalu lupa membelinya. Baru beberapa minggu lalu saya ingat dan segera memesannya. Buku yang berisi 81 bab ini merupakan edisi cetak bahasa Indonesia dan sudah dicetak ulang selama enam kali sejak awal terbit tahun 2009. 


Saya memang selalu tertarik mengoleksi buku, walau kadang tak seimbang dengan kemampuan saya membaca, sehingga sering jadi tumpukan belaka. Tapi, untuk melengkapi buku sejenis yang sudah saya miliki sebelumnya The Wisdom of Confusius, maka saya harus medapatkannya. Lao Zi memang tidak setenar Konfusius, tapi ditengarai sebagai filsuf lebih senior yang hidup antara tahun 600 SM. 

Ternyata, bukan cuma saya yang tertarik terhadap buku falsafah Lao Zi  ini. Konon pada masa dahulu seorang biksu Jepang pun mengagumi isi Dao De Jing, sehingga memutuskan untuk menerjemahkan dan menerbitkan buku itu ke dalam bahasanya sendiri. Namun karena ia tidak punya uang, maka ia harus bersabar dengan mengumpulkan dana terlebih dahulu agar dapat mewujudkan impiannya itu.

Mengumpulkan dana pada masa itu juga bukanlah persoalan mudah bahkan boleh dibilang sangat sulit sekali. Apalagi bagi seorang biksu yang hanya mengandalkan derma dan sumbangan kebaikan hati para pengunjung biaranya. Karena dana yang dibutuhkan cukup besar, maka ia membutuhkan waktu sepuluh tahun dengan cara mengumpulkannya sedikit demi sedikit. 

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat dan mudah dijalani. Membutuhkan kesabaran ekstra, keuletan ekstra dan keinginan kuat bagi biksu ini untuk dapat mewujudkannya cita-citanya. Namun, ketika uang itu sudah terkumpul, ternyata malah terjadi musibah, penyakit sampar yang menyerang negerinya membuat rakyat banyak menderita.

Melihat rakyat menderita, sang biksu mengurungkan niat semula. Uang yang sudah dikumpulkannya selama itu, digunakan untuk membantu meringankan penderitaan orang-orang yang sakit. Setelah situasi kembali normal, dia mencoba mengumpulkan dana lagi demi untuk menerbitkan keseluruhan isi dari buku Dao De Jing itu. 

Tanpa terasa sepuluh tahun pun berlalu. Tapi naas, ketika uang sudah terkumpul dan siap mencetak buku tersebut, terjadi musibah gempa laut yang menyebabkan rumah-rumah penduduk pada roboh dan hancur. Lagi-lagi biksu ini merelakan seluruh uang tabungannya untuk menolong memperbaiki rumah-rumah yang terkena musibah.

Sepuluh tahun lagi berlalu, dia mengumpulkan uang lagi dan akhirnya bangsa Jepang bisa juga ikut membaca Dao De Jing ini. Orang-orang bijak mengatakan bahwa sang biksu telah menerbitkan tiga buku Dao De Jing, dua dalam versi yang tidak kasat mata dan satu dalam bentuk tercetak. Kadang-kadang buku ‘tidak kasat mata’ yang muncul dari kemurahan hati terhadap sesama sama pentingnya dengan buku-buku yang mengisi perpustakaan kita. 

Biksu ini telah mengajarkan kepada kita, untuk menjadi orang yang meyakini mimpi kita, tetap setia dengan tujuan kita, dan terus berjuang mewujudkannya, sekaligus tidak boleh mengabaikan sesama. 


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.

Selasa, 13 Januari 2015

Keterlibatan Saya


Persoalan yang paling menarik adalah ketika ada persoalan yang melibatkan ‘saya’ di dalamnya. Saat koran memuat berita tentang saya atau bahkan sekadar nama, maka saya segera berusaha membeli dan membacanya. Apalagi jika saya bisa masuk televisi (sayangnya belum), tentu saya tak keberatan membatalkan semua acara penting apa saja demi bisa menonton siarannya.

Kalau sesuatu melibatkan saya atau saya melibatkan diri pada sesuatu, maka sesuatu itu jadi penting artinya. Ketika awal anak saya membeli seekor kucing, sampai berbulan-bulan kemudian saya tidak meliriknya, jangankan menyapa atau menyentuhnya. Tapi ketika saya melibatkan diri mengurusnya, lambat laun mulai menyukainya dan kini ia menjadi bagian penting dalam hidup saya.



Karena menyukainya, saya jadi penuh perhatian kepadanya. Setiap pagi setelah saya bangun tidur, ia akan segera saya lepaskan dari kandangnya. Ia bisa bermain dengan bebas dan gembira di halaman, menyelinap ke sana ke mari di antara rumput dan tanaman hingga ke bawah kolong mobil sampai jam saya berangkat ke kantor.

Jika ia kena mencret, saya cemas mencari apa penyebabnya dan segera mengobatinya. Jika matanya bengkak mungkin terkena ranting atau ujung daun seperti kemarin, saya cepat-cepat membawanya ke dokter. Jika kakinya kotor saya akan membersihkannya, bahkan ketika kucing itu berak tidak pada tempatnya saya pun bersedia mengurusnya. 

Selagi ia berada di luar kandang, saya akan terus memantaunya. Setiap saya memanggil namanya, ia akan segera berlari menghampiri. Lonceng kecil yang terkalung di lehernya akan berbunyi menandai kedatangannya. Kerap istri suka jengkel karena jika ia atau orang lain yang memanggilnya, kucing itu diam saja tidak menggubrisnya. 

Tapi kalau sampai tiga kali saya panggil tidak terdengar suara lonceng atau meong, kepanikan mulai melanda. Saya segera ke luar rumah mencari sambil meneriakkan namanya. Semua orang yang ada di rumah ikut panik dan mencarinya. Yang saya khawatirkan cuma satu, karena ia berani lari ke luar dari halaman jika ketemu dan mengejar kucing liar. Khawatir ia hilang tidak bisa kembali.

Bukan cuma soal kucing saja, ketika saya mulai terlibat dengan menulis kolom ini, kekhawatiran juga selalu ada setiap kali menemui kesulitan merangkai kata. Mungkin karena keterlibatan saya belum terlalu lama, sehingga saya sering khawatir dan kurang percaya diri. Saya menjadi sensitif terhadap gangguan ketika sedang mengetik di layar komputer walau akhirnya cuma kegembiraan semata jika sudah berhasil menyelesaikannya.

Kekhawatiran saya ternyata melebihi kekhawatiran orang lain. Orang lain itu tidak secemas dengan apa yang saya cemaskan, tidak seminat seperti apa yang saya minatkan dan mereka pun tidak akan terlibat seperti saya punya keterlibatan. Kini jelas, semakin kita terlibat akan sesuatu maka sesuatu itu jadi semakin menarik dan berharga.

Maka, semakin banyak kita melibatkan diri pada sesuatu, akan semakin banyak sesuatu yang menjadi menarik dan berharga buat kita.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.