Dulu saya punya atasan beberapa tingkat diatas saya namanya pak Muhammad Noor As, orangnya antik, perokok berat, pendiam jarang bicara namun beliau sangat pandai, pengetahuannya sangat luas. Kalau pas ada waktu senggang di kantor, saya senang berkonsultasi dengan beliau. Beliau selalu menduduki ranking satu di kantor Pertamina Cilacap setiap kali mengikuti kursus atau pelatihan. Tapi saya sempat heran kenapa karir beliau tidak terlalu cepat naik.
Saya
pun mencoba mengikuti jejaknya, setiap kali mengikuti kursus atau pendidikan,
maka saya pun mewajibkan diri untuk selalu menjadi rangking satu. Ternyata
hasilnya sama saja, tidak berpengaruh terhadap karir saya alias tidak
naik-naik. Saya, hanya dibutuhkan pada saat ada lomba cerdas cermat antar
bagian, benar-benar tidak sesuai harapan saya.
Setelah
menjadi seorang pengusaha, pemimpin bagi banyak orang, saya baru mengerti
kenapa karir saya dulu tidak meroket. Pandai tanpa prestasi tidak akan menarik
perhatian manajeman tingkat atas. Seperti saya sendiri mengalami kesulitan
mengetahui mana saja karyawan-karyawan saya yang baik karena jauhnya level
antara saya dengan mereka, kalau mereka belum berprestasi.
Saya
terinspirasi dengan cara Houtman Z. Arifin seorang office boy yang sukses
mencapai pimpinan tertinggi Vice president City Bank di Indonesia hanya
berbekal ijasah SMA. Ketika Houtman muda mengalami hambatan dengan karirnya,
dia berani meminta saran kepada orang tertinggi nomor dua di City Bank Indonesia
bapak Alex Frans, yang dianggapnya sebagai senior berpengalaman, orang yang
tepat memberikan pencerahan.
“
Selama ini saya bekerja dengan keras dan baik, tetapi tidak ada peluang buat
saya, Pak,” kata Houtman dengan nekad.
“ Kamu
ini ngejawani. Falsafah Jawa yang kamu pakai selama bekerja itu salah. Seperti
padi, yang semakin berisi semakin merunduk,” kata pak Alex.
“
Falsafah jawa itu hanya tepat untuk urusan agama dan sosial, tidak dalam dunia
kerja. Di dunia kerja, kamu mesti menggunakan ilmu klakson untuk
memperlihatkan dirimu. Klakson itu harus punya Mercedes yang suaranya khas,
bukan klakson Bajaj. Siapa yang tahu kamu berkualitas jika tidak bertemu
denganku ? Kalau kamu tidak memperkenalkan diri, yang tahu siapa diri kamu kan
hanya atasan langsungmu. Mulai sekarang, coba cari perhatian orang banyak
dengan klakson itu, “ katanya.
Mari
kita renungkan ucapan pak Alex. Mercedes dan Bajaj sama-sama punya klakson, apa
bedanya ? Jika klakson Bajaj dibunyikan, orang akan menoleh sebentar lalu tak
menghiraukan. Sementara itu, jika klakson Mercedes yang berbunyi, orang menoleh
lantas memperhatikan. Itu artinya, orang lain harus tahu siapa diri kita dengan
segenap prestasi kita, bukan sekedar populer. Perhatian yang kita inginkan dari
orang banyak adalah berupa prestasi.
Mulailah
mencari peluang-peluang yang memungkinkan kita untuk mengembangkan diri
sehingga bisa menuai prestasi. Jangan hanya berminat dengan pekerjaan rutin
yang tidak mempunyai masa depan dan tidak menambah wawasan apa-apa. Mintalah
saran atau nasihat pada orang yang tepat agar karir Anda tidak berhenti di
tempat. Karena sesungguhnya, saya mewakili perusahaan dimana pun, juga sedang
menunggu siapakah orang-orang yang akan membunyikan klakson Mercedes mereka.
Orang-orang yang akan diperhatikan oleh perusahaan karena mereka sangat
dibutuhkan untuk mengembangkan perusahaan dimana mereka bekerja. Semoga orang
itu adalah Anda !
Salam
SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.














