Senin, 11 Mei 2015

Kebakaran


Pagi ini saya mendapat pesan singkat dari seorang pemuda yang minta diberi semangat karena kios ibunya di pasar Johar Semarang habis dilalap api. Sudah sembilan jam kebakaran hebat yang terjadi dari semalam belum juga padam karena angin bertiup kencang, sehingga dapat dipastikan tidak akan ada yang tersisa dari seluruh barang dagangannya.

Segera saya balas smsnya, memberinya dorongan semangat bahwa di dalam setiap peristiwa pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil. Ada dua hal, yang pertama adalah persiapan kita atas kejadian semacam itu sehingga mungkin perlu sedia payung sebelum hujan dengan turut atau ikut asuransi kebakaran. Yang kedua, musibah itu soal yang ada hubungannya dengan rejeki.

Berbicara soal rejeki, mau tidak mau kita harus berbicara mengenai spiritualitas, yang berhubungan dengan sang Maha. Jadi, mengaitkan rejeki, bisnis atau kegiatan apa pun dengan spiritualitas adalah suatu keharusan. Namanya keharusan, suka atau pun tidak suka, terpaksa kita harus mengaitkannya. Dan itu tidak mungkin kita hindari.

Hukum ‘Siapa yang memberi akan mendapatkan’, harus kita percayai. Kepercayaan kepada aturan tertinggi inilah yang saya sebut sebagai spiritualitas. Intinya, saya percaya kepada energi spiritualitas sehingga dalam hidup atau berbisnis, moralitas harus selalu kita junjung tinggi. Maka itu, bisnis yang besar menjadi amat besar, pasti karena pemberiannya yang besar.

Kebakaran ini mengingatkan cerita bagaimana komplek laboratorium milik Thomas Alva edison yang terdiri dari enam bangunan habis terbakar. Kerugian itu mencapai dua juta dolar, belum termasuk semua penemuan dan hancurnya catatan kerja seumur hidupnya. Malam itu, Thomas berkata, “ Walaupun aku sudah berumur 76 tahun, aku akan memulai lagi besok.”

Demikian pula saat sebuah rumah makan terbakar habis, pemiliknya mempercayai energi itu. Malam terbakar, paginya tetap berjualan. Ia gembirakan semua staff dengan dorongan semangat. Menangis secukupnya saja, dan seterusnya ayo kembali bekerja. Hasilnya justru mengejutkan, pelanggan kaget melihat rumah makan terbakar, jauh lebih kaget lagi melihatnya tetap buka seperti biasa.

Para pembeli dipersilahkan duduk seadanya, di mana saja. Di atas reruntuhan juga boleh sebab telah beratap tenda ala kadarnya. Suasana berubah sedemikian rupa dan para pelanggan malah menolak menerima kembalian uang mereka sebagai empati. Pada waktu kebakaran itulah, rumah makan itu mencapai omset tertingginya.

Kebakaran memang suatu musibah, semua orang menangis dan terguncang. Semua tegang tertekan dari kanan kiri. Sudah bangkrut, salah-salah dianggap sebagai penyebab hangusnya seluruh kawasan. Jadi tidak ada yang nyaman dengan kebakaran itu, sehingga yang tersisa hanyalah menguatkan hati. Kekuatan itu tidak ada lagi sumbernya selain kepada energi spiritualitas.

Hanya dengan percaya kepada energi inilah maka kita akan mempercayai segala sesuatu bahkan saat kita belum melihatnya. Dengan percaya itulah, yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang mustahil dapat menjadi kenyataan. Jadi, gunakanlah energi itu untuk bangkit dari keterpurukan, untuk hidup lebih bermakna, tidak hanya mengayakan keuangan kita, tapi juga mengayakan hati kita.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar