Kamis, 19 Desember 2013

Visi ibarat Puzzle

Dibutuhkan usaha dan kerja keras seorang pemimpin untuk menerjemahkan visi perusahaan menjadi aturan dan target bagi mereka, bekerja sama antar rekan dan pimpinan di setiap departemen sehingga mereka memahami cara berkontribusi dalam pencapaian tersebut.


Banyak sekali karyawan yang mengaku tidak tahu bahwa bidang-bidang tertentu termasuk menjadi tanggung jawab mereka. Artinya, sering terjadi perbedaan antara apa yang dipikirkan karyawan dan pimpinannya tentang kewajiban harian seorang karyawan. Membuat semua orang frustasi.

Seorang pemilik toserba merasa bingung, mengapa hal-hal yang dia anggap penting justru tidak terselesaikan oleh asistennya. Kemudian dia meminta sang asisten menyusun daftar sepuluh hal yang menjadi tanggung jawabnya. Kemudian si pemilik toserba juga membuat daftar sepuluh hal yang dia inginkan.  Inilah daftarnya : 


Ketika mereka membandingkan kedua daftar tersebut, maka masalah pun menjadi jelas. Masalahnya ternyata ada pada si pemilik yang memberitahu asistennya bahwa dia bertanggung jawab pada tujuan akhir, seperti yang tertera di daftar pemilik. Namun tugas yang dia perintahkan setiap hari adalah tugas rutin harian yang melekat di benaknya. Pesannya campur aduk dan menjadi tidak jelas.

Sering kali kita mengucapkan hal semacam ini : ” Toilet kita kotor sekali.”; ” Kamu terlambat memesan barang.”; “ Penjualan menurun.”; “Siapa yang berpesta di lapangan parkir ? Kotor sekali !”; “ Hei, persediaan kopi habis”. “ Gudang berantakan, dll.”

Respons keseharian antara pemilik toko dengan asistennya memperkuat target yang salah dan fokus yang berbeda dari yang diharapkan. Karyawan tidak akan pernah dimampukan jika mereka tidak tahu tujuan dan peran mereka. Seharusnya pemilik toko menyampaikan seperti ini : “ Kira-kira apa yang konsumen pikirkan kalau mendapati kopi yang kosong dan toilet yang kotor ?”; “ Kalau ruang persediaan tidak tertata rapi, jangan-jangan nanti kita mengatakan pada konsumen bahwa barang kita habis, padahal kita yang tidak dapat menemukan barang yang kita cari.”; “ Kesan pertama itu penting, bagaimana dengan lapangan parkir kita ?”; “Pelatihan karyawan seperti apa yang sudah kamu jalankan minggu ini ?”.

Berikanlah pengertian dan pemahaman yang benar, apa yang akan kita sampaikan dan cara kita menyampaikannya. Ini tentang menjadikan mereka sebagai rekan, ketimbang memerintahkan apa yang harus mereka lakukan.

Peran spesifik yang harus dimainkan setiap orang dalam mencapai visi perusahaan ibarat keping-keping puzzle. Setiap kepingnya memiliki potongan gambar kecil yang turut menyusun gambaran besar. Setiap peran dan tindakan yang diambil oleh setiap orang menjadi penting. Tindakan itu bertujuan meraih target. Agar bisa efektif, setiap karyawan harus melihat tujuan besarnya dan peran mereka dalam mencapai tujuan tersebut, yaitu menyelesaikan puzzle yang lengkap dan sempurna. 

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
12 Comments

12 komentar:

  1. melihat kondisi di atas itukan yang melatarbelakangi dibuat suatu SOP?

    BalasHapus
  2. Share buat Mas Anto...bukan kondisi seperti diatas yang melatar belakangi dibuatnya SOP,

    SOP dibuat karena adanya suatu pekerjaan yang akan dilakukan....
    SOP harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan....
    SOP adalah suatu set instruksi (perintah kerja) terperinci dan tertulis yang harus diikuti demi mencapai keseragaman dalam menjalankan suatu pekerjaan tertentu dengan berpedoman pada tujuan yang harus dicapai.......
    SOP digunakan untuk menilai apakah pekerjaan sudah dilakukan dengan baik atau belum.

    Menurut saya...Artikel diatas menunjukkan bahwa apabila kita tidak memberikan pengertian dan pemahaman yang benar terhadap karyawan dalam usaha kita mencapai target/tujuan, akan berakibat target/tujuan yang kita harapkan tidak akan tercapai.

    Kita menginginkan karyawan ikut membantu kita dalam mencapai visi perusahaan, tetapi kita dalam memberikan perintah kepada mereka tidak dengan pengertian dan pemahaman yang benar bagaimana melakukan pekerjaan yang selaras dengan tujuan atau target yang kita inginkan....akibatnya pekerjaan yang mereka lakukan pun akan menjurus ke rutinitas tugas harian..

    Nah...sebagai pemimpin kita harus dapat memampukan mereka supaya dapat menjadi bagian dan berperan penting dalam mencapai tujuan....ibarat bilah puzzle diatas, apabila satu hilang maka kesatuan puzzle tidak akan terbentuk sesuai yang kita inginkan...



    Salam Sukses....Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus
  3. Lantas mengapa otokits baru ada SOP setelah 7tahun berdiri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah keluar dari konteks artikel. Tolong tidak usah dilanjut, tanyakan pada atasan Anda di Oto Kits tapi tidak di forum ini. Terima kasih.

      Hapus
    2. O ya, mungkin sebelumnya saya kuràng up date.
      Terima kasih

      Hapus
  4. Selamat sore INDONESIA.

    Mohon maaf, saya Sedikit bingung dengan kesimpulan artikel diatas. Saya menemukan 2 kesimpulan, yang pertama yaitu tentang bagaimana cara penyampaian tujuan dan peran kepada rekan kerja dengan benar, sehingga mereka mampu mengerti apa yang harus dikerjakanya, hal ini sepertinya sepele tetapi sebenarnya susah dilakukan karena harus bisa mengolah kata dan menyesuaikan karakter seseorang.
    Kesimpulan yang kedua, pada artikel diatas disebutkan pula pesan spesifik yg harus dilakukan seseorang diibaratkan sebagai potongan puzzle dan visi perusahaan merupakan gambar besar hasil dari potongan puzzle yang sudah disusun, berarti jika ada 1 pesan spesifik yang tidak terpasang atau berada ditempat yang salah maka sebuah visi tidak akan pernah berhasil dan sukses. Maka penyampaian pesan spesifik harus jelas dan dapat dimengerti oleh rekan kerja agar dapat dilaksanakan dengan baik dan berada pada tempat yang tepat. Apakah seperti itu pak han.? Maaf kalau ada yang kurang tepat.

    Salam SUKSES , HIDUP LUAR BIASA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan pesan tapi "peran". Kalau di spbu tentunya ada peran spesifik seperti yang bertanggung jawab terhadap kebersihan, kualitas dan kuantitas, pelayanan, perawatan peralatan, keamanan, keuangan, dll yang semua bekerja sama dan bersinergi demi tercapainya target. Sedangkan kesimpulan yg pertama sudah benar. Intinya perlu pemahaman dari rekan kerja bukan hanya menunggu perintah. Semoga cukup jelas, mas Dhani. Salam Sukses, Hidup Luar Biasa.

      Hapus
    2. Maaf salah ketik.heheh
      Terima kasih pak han, saya sudah cukup jelas, berarti sebagai rekan kerja alangkah baiknya mengurangi menyuruh atau memerintah secara langsung, tetapi hanya dengan merangsang atau memancing supaya dapat direspon oleh rekan kerja kita. Apakah begitu pak.?terima kasih.

      Salam Sukses, HIDUP LUAR BIASA

      Hapus
    3. Yes, supaya mereka juga mudeng kenapa harus dilakukan.

      Hapus
    4. Siapp.....saya tunggu artikel berikutnya pak.....terima kasih.

      Hapus
  5. Betul sekali untuk mendapatkan tujuan apa yg kita inginkan kita memang harus bisa menempatkan konteks bahasa yg baik sehingga apa yg kita inginkan akan tersampaikan dengan baik dan diterima dengan baik pula sehingga arah tujuan kita jelas...kita juga harus tahu peran apa yg sedang kita mainkan...beri arahan yg jelas...joblist yg jelas di semua lini dalam perusahaan sehingga akhirnya akan saling menopang antara satu dan lainnya sehingga tujuan kita akan tercapai berkat kerja keras bersama bukan menonjolkan masing2 individu....

    BalasHapus
  6. Jika suatu aturan atau prosedur yang akan diterapkan dilapangan (lokasi kerja ) sebaiknya diadakan musyawarah terlebih dahulu antara yang akan memberikan tugas dan yang akan melaksanakan tugas, sehingga dalam prakteknya dilapangan dengan harapan tidak banyak menghadapi masalah,karena situasi dan kondisi dilapangan sangat menentukan bisa berjalan atau tidaknya suatu aturan atau prosedur bisa berjalan dengan baik.
    Mohon diluruskan jika komentar saya keliru.
    Salam Sukses , Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus