Selasa, 30 Januari 2018

Mengubah Kata-Kata

Kalau ada orang yang meminta saranku untuk memperbaiki hidupnya yang berantakan, maka saran pertama yang kuberikan adalah cobalah untuk mengubah caranya dalam berkata-kata. Kenapa ? Karena ketika kita semua berbicara, menulis, bahkan berpikir, selalu dalam bentuk kata-kata. Itulah kenapa cara kita menyajikan sesuatu di dalam pikiran menjadi soal penting dalam menentukan bagaimana perasaan kita terhadap hidup yang kita jalani.

Kata-kata, memiliki kuasa untuk menguatkan atau melemahkan, menciptakan perdamaian atau memulai perang, membangun sekaligus juga dapat menghancurkan. Konon ceritanya, Winston Churchill memiliki kemampuan unik mempergunakan kata-kata dalam berperang. Konfusius juga menambah lengkap manfaat kekuatan kata-kata dengan berkata, " Tanpa mengetahui kekuatan kata, mustahil untuk memahami manusia."


Seorang penguasa yang keliru dalam berkata-kata bisa dicopot jabatannya, bahkan ada yang sampai berurusan dengan penjara. Napoleon Bonaparte bergumam, " Ma sacre toux," yang artinya adalah batuk sialan karena ia memang sedang batuk ketika meninjau tawanan perang, perwiranya salah dengar Massacrez Tous yang artinya bunuh semua. Maka terjadilah sejarah peristiwa tragis, tawanan sebanyak 1200 orang yang seharusnya hendak dibebaskan akhirnya terbunuh semuanya.

Dahulu aku sering marah, bahkan kadang tidak terkendali. Tapi semenjak aku mengganti kata 'marah' dengan 'kesal', maka emosiku menjadi terkendali. Hanya dengan mengubah satu kata perubahannya luar biasa. Bagaimana perasaan kita terhadap sesuatu itu dibentuk oleh makna yang kita berikan kepadanya. Pilih sebuah kata yang biasanya membuat kita negatif, kemudian cari kata pengganti yang lebih positif yang bisa mematahkan pengaruh buruk terhadap emosi kita atau setidaknya membuat diri kita merasa lebih baik.

Demikian pula ketika aku menghadapi masalah  dalam pekerjaan. Misalnya saat belum berhasil mendapat tenaga ahli yang kubutuhkan staffku melaporkan, " Sulit pak, cari tenaga ahli seperti yang bapak inginkan." Aku lebih suka ia berkata belum menemukan daripada bilang sulit, sebab saat bilang sulit, kita cenderung menyerah dan putus asa. Berbeda dengan kita berkata belum menemukan. Di benak kita masih ada harapan, hanya soal waktu kapan kita mendapatkannya.

Sebagian orang menyadari kekuatan kata-kata yang dimiliki oleh para pembicara atau penulis hebat dalam menyentuh hati mereka, tapi dari yang sebagian itu tidak semua menyadari akan kekuatan diri sendiri untuk menggunakan kata-kata yang sama. Sebagian besar dari kita tidak memilih kata secara sadar, tetapi lebih karena lingkungan atau kebiasaan. Jika kita sadar dan percaya pada kekuatan kata-kata sendiri, maka kita bisa memilih kemudian menggunakannya dengan bijaksana. Kata-kata yang kita pilih menjadi dunia yang kita huni.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar