Setiap senin malam di sebuah stasiun televisi swasta beberapa waktu yang lalu ada acara motivatalk yang dibawakan oleh seorang mentor bisnis yang terkenal. Saya selalu mencoba menyempatkan diri untuk mendengarkannya. Disamping menyampaikan penjelasan tentang teori bisnis, juga diadakan sesi tanya jawab dengan pemirsa secara interaktif via telpon.
Suatu ketika ada seorang pemirsa dari Medan yang menyerang habis-habisan berusaha mematahkan teori yang disampaikan sang mentor dengan berapi-api, bahkan mencemooh kemampuan mentor bisnis tersebut dengan agak kurang sopan. Saya sebagai pendengar ikut gemas terbawa suasana, rasanya saya ingin ikut menjawab dan beradu argumen dengan pemirsa tersebut. Ternyata respons sang mentor luar biasa, dia menjawab dengan kesederhanaan, keramahan dan hati yang besar, sangat cerdas, profesional dan berkelas. Saya pun belajar.
Seorang yang humoris mengatakan poin ini dengan baik saat dia berkata,” Saya pintar berdebat. Coba tanya teman-teman saya yang tersisa. Saya bisa memenangkan perdebatan dalam topik apa saja dan melawan siapa saja. Orang-orang mengetahuinya, dan menjauhi saya di pesta-pesta. Sering kali, sebagai tanda rasa hormat mereka kepada saya, mereka tidak pernah mengundang saya lagi.”
Kita menghadapi konflik nyaris setiap hari dalam kehidupan kita, jadi bagaimana kita mencegah supaya sebuah diskusi yang bijak tidak berubah menjadi adu argumen yang agresif. Lula membuktikan manfaat prinsip ini kendati memiliki keganjilan latar belakang sejarah dan personal. Menurut ibunya, dua orang tidak akan bertarung jika salah satunya tidak bersedia. Lula pun menuruti nasehat ini, sebuah pendekatan yang membantunya menjadi presiden Brasil dan mempertahankan posisi tersebut nyaris sepuluh tahun. Rasa toleransi dan kemampuan negosiasi Lula membantunya meraih hal-hal yang luar biasa saat dia menjadi presiden.
Kita percaya bahwa komunikasi adalah masalah penyampaian, sering kali prinsip komunikasi disalahartikan. Kita pun sering melewatkan begitu saja, potensi dari percakapan kita. Di dalam diri kita semua, sesungguhnya terdapat ruang yang berisi pemahaman diri yang lebih baik, pengetahuan yang lebih tinggi dan ide-ide yang lebih hebat. Kita semua tahu cara mendapat perhatian, namun hanya sedikit yang tahu cara mendapatkan perhatian dan rasa hormat secara bersamaan.
Untuk mendapatkan hasil hubungan yang hebat tidak terjadi dengan memperdaya orang lain, tidak peduli seberapa ekspresif atau persuasifnya diri Anda. Hal ini terjadi saat ketegangan diakhiri dengan bertambahnya wawasan serta bertumbuhnya pribadi masing-masing. Jika Anda bisa melihat interaksi Anda dengan lebih jernih walaupun terjadi ketegangan atau konflik, hanya sedikit yang tidak bisa Anda peroleh saat berkolaborasi dengan orang lain.
Kalau begitu, marilah kita membangun kebiasaan untuk menghindari argumen. Sadarkan diri kita tentang keuntungan yang bisa kita peroleh saat bekerja sama dengan orang lain. Buatlah diri Anda berbeda dengan menjadi pribadi yang menghindari argumentasi. Yuk, kita biasakan.
Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.











