Rabu, 10 Desember 2014

Anak-anak Saya


Melihat prestasi gemilang pecatur-pecatur Junior Jawa Tengah akhir-akhir ini kebahagiaan saya sulit diungkapkan kalau cuma dengan kata-kata. Walaupun mereka semua bukan anak kandung tapi saya tetap merasa bangga seperti anak-anak saya sendiri. Prestasi anak pasti selalu membanggakan orang tua. Sesama orang tua tentu saya mampu membayangkan bagaimana perasaan mereka yang benar-benar menjadi orang tua kandungnya.


Sepanjang bicara soal anak, tentu kita memiliki keinginan yang sama, yaitu ingin anak kita sukses dan bahagia melebihi kita. Soal sekolah misalnya, anak-anak saya harus sekolah setinggi-tingginya, tidak boleh bodoh seperti bapaknya yang cuma lulus sma. Kalau ada yang melihat embel-embel gelar MP di belakang nama saya, itu cuma gelar catur singkatan dari master percasi, sama sekali bukan karena kepandaian di sekolah.

Dalam soal beribadah, anak-anak juga harus mendapatkan pelajaran agama sedari kecil agar rajin dan taat beribadah. Orang tuanya sudah kepalang rusak dan nakal selagi muda, anak jangan sampai mengikuti jejaknya. Jika kita bicara masa depan, cukup bapaknya saja yang boleh hidup miskin dan sengsara, sedangkan anak-anak harus terjamin masa depannya.

Membayangkan anak harus menderita seperti yang kita alami dahulu adalah bayangan mengerikan. Membiarkan anak mengalami kebodohan yang sama dengan kebodohan yang menimpa kita adalah tindakan jahat. Pendek kata, generasi penerus harus jadi generasi yang baru, bebas dari semua penderitaan yang pernah kita alami. Bahkan, kalau bisa meneruskan cita-cita bapaknya yang belum tercapai. Termasuk soal kegemaran atau hobi orang tuanya.

Maka tidak heran jika seorang bapak yang gemar main bola menginginkan anaknya dapat menjadi pemain bola yang sukses dan terkenal. Saya sendiri juga tertulari keinginan yang sama. Karena saya mencintai olah raga catur, maka ketika anak sulung saya berusia tiga tahun, sudah mulai saya ajari main catur. Namun, ternyata saya kurang berhasil membuatnya meminati bidang itu.

Mendidik anak sendiri ternyata tidaklah mudah. Berapa banyak guru yang sehari-hari mengajar anak orang menjadi berbudi pekerti, tetapi anak sendiri malah bandel. Menjadikan murid pandai, tetapi anak sendiri tetap bodoh. Jawabannya bisa bermacam-macam, tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Hanya soal kegagalan saya membuat anak menyukai hobi bapaknya.

Bukannya saya membuat anak suka, malah membuatnya tertekan dan terpaksa mengikuti kemauan bapaknya main catur. Maka, akalnya seperti tertatih-tatih bekerja sama dengan mentalnya setiap kali melakukannya. Pas giliran melangkah hanya berdiam diri, dan ketika saya ajari untuk memakan kudanya, tampak dia melirik mengerti dan saya tersenyum mengangguk. 

Lalu dia mengambil kuda saya dari papan dan astaga, ternyata dimasukkan ke mulutnya yang mungil. Benar-benar dimakan, bukan dimakan dalam artian permainan catur. Rupanya anak saya menderita dan menjadi korban tekanan kehendak bapaknya sehingga tak lagi bisa berpikir jernih. Sejak itu saya berhenti mengajarinya main catur, walaupun bertentangan dengan keinginan saya soal anak. 

Saya tidak tahu apakah keinginan itu sudah menjadi doa. Karena sekarang, dua puluh delapan tahun kemudian, saya diberi amanah membina dan mengarahkan anak-anak main catur dengan menjadi Ketua Percasi Jawa Tengah. Tuhan memberi saya banyak, bukan cuma seorang anak, tapi anak-anak se provinsi Jawa Tengah ! Mari kita setuju, jika keinginan itu bisa menjadi doa. Maka, berhati-hatilah dengan keinginan kita, utamakan kebaikan karena Tuhan Maha Memberi. 

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar