Jumat, 12 Desember 2014

Oseng Kangkung


Mungkin kurang bermutu, kalau saya mengatakan bahwa setiap kali melihat oseng kangkung selalu terbersit perasaan tertentu. Tapi itulah kenyataan yang saya hadapi. Padahal, paling tidak seminggu sekali atau dua kali oseng ini juga tersedia di meja makan. Maka, sebanyak itu pula saya mengalami perasaan itu. Walau pun kejadiannya sudah puluhan tahun yang lalu, namun kisah soal oseng tetap menjadi kenangan tersendiri.

Saya pernah merantau jauh dari rumah, tak punya uang dan pekerjaan waktu itu, dan hanya bisa makan nasi ditemani oseng kangkung. Itupun berkat kebaikan seorang sahabat yang bersedia menampung dan memberi makan selama beberapa waktu. Namun sayang, orang itu telah pergi sebelum saya sempat membalas budi kebaikannya. 

Teman saya tidak kaya, kerjanya cuma sopir, tinggal di rumah kontrakan yang kecil sehingga wajar saja jika setiap hari hanya menyediakan oseng kangkung sebagai lauk. Namun oseng buatan istrinya bukan sembarang oseng. Selain enak sekali karena lengkap dengan petai dan tempe bosok, juga ada ketulusan pertemanan di dalamnya. 

Baginya, perbuatan seperti itu mungkin tak pernah diingatnya. Apalah artinya memberi makan satu orang dan tempat bernaung sekadarnya, tapi tidak bagi seseorang yang sedang terpuruk. Tidak mudah melupakan peristiwa itu. Maka, memandang oseng itu selalu membawa sensasi tertentu.  Ada kepahitan dan penderitaan di situ tapi ada rasa bersyukur karena saya telah bisa melewatinya.

Kita pasti sepakat soal makan akan lebih nikmat ketika lapar atau minum akan terasa melegakan saat kita haus. Maka, bagi orang yang tidak pernah menderita, sebenarnya bagaikan orang yang telah kehilangan separuh kebahagiaannya. Mari kita percayai bahwa segala kepahitan dan penderitaan hidup adalah awal dari sebuah kebahagiaan. Ini pendapat saya bukan mengada-ada, tetapi sesuai dengan pepatah, berakit-rakit dahulu berenang ke tepian. 

Ternyata seluruh penderitaan itu cuma modal bagi saya agar bisa membeli makanan apa saja yang saya inginkan. Karena punya uang, maka saya bisa membeli dengan bebas kapan saja. Perasaan bebas itu luar biasa. Dan bebas itu baru terasa berharga di dalam benak orang yang pernah terjajah hidupnya. Itu baru soal makan, belum soal-soal yang lain. 

Dulu tinggal di rumah kontrakan, sekarang punya rumah sendiri. Di rumah kita sendiri tentu bebas mau berbuat apa saja. Dulu cuma bisa nebeng atau naik angkot, kini punya kendaraan sendiri. Kita bebas pergi kapan dan kemana saja. Jadi, pengalaman yang pernah saya alami ternyata hanya bekal untuk menatap kepahitan hidup secara berbeda. 

Karena itulah syarat yang dibutuhkan untuk dapat menikmati kebahagiaan secara lengkap bila kelak tiba waktunya. Tak perlu merisaukan apakah bayangan yang di sana akan sampai ke pada kita atau tidak. Selama bayangan itu ada, pasti menghadirkan harapan. Maka, jika kita selalu berpengharapan dalam hidup, kita tidak akan keliru.

Dulu saya pernah keliru, memandang oseng kangkung sebagai salah satu musibah terbesar dalam kehidupan saya. Berpuluh tahun kemudian, pandangan saya berubah. Ternyata, musibah itu tidak lebih cuma kebahagiaan yang tertunda.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar