Selasa, 16 Desember 2014

Musibah Paku Itu (2)


Judul tulisan ini sebenarnya tidak kurencanakan sama sekali karena kupikir episode musibah paku itu sudah selesai setelah pertolongan dokter rumah sakit waktu itu. Namun, setelah dua minggu kakiku ternyata masih bengkak tak kunjung sembuh juga, maka aku mulai menaruh curiga. Curiga kalau luka luarnya bagus, tapi di dalamnya terjadi infeksi. 

Maka, ketika keluhanku ditanggapi oleh dokter itu dengan mengatakan tidak apa-apa, aku pun tetap curiga. Karena curigaku sudah menjelma menjadi rasa takut. Takut membayangkan akibat infeksi jika diabaikan. Soal keahlianku membayangkan sudah tidak perlu diragukan, mulai bayangan yang paling sepele, sampai yang paling mengerikan. Dari mulai amputasi pergelangan kaki hingga infeksi sampai ke jantung.

Karena itulah aku menurut saja ketika dokter lain yang kudatangi, menganjurkan sebaiknya telapak kakiku dioperasi saja untuk memastikan lukanya benar-benar bersih. Sesungguhnya pilihan ini sama sekali tidak kuinginkan, karena nyaliku juga tak seberapa. Membayangkan tiga lubang di kaki dibelek kemudian dikurek, sakitnya sudah sampai ke ubun-ubunku. 

Selain sakit yang harus kuhadapi, aku pun harus mau menginap di rumah sakit, tempat yang sedari dulu ingin kuhindari. Baunya rumah sakit saja sudah memualkanku, apalagi harus terkapar di kamar itu. Jadi, meskipun sudah memilih ruangan yang terbaik di situ tidak melenyapkan kemualanku. Tidur di kamar hotel paling mewah pun tidak senyaman tidur di kamar rumah sendiri.

Memandang rumah sendiri, seperti memandang diri sendiri. Sebagaimana diriku, lengkap dengan kelebihan dan kekuranganku. Ia menggambarkan betul bagaimana watakku. Rumahku yang tidak pernah rapi, barang-barang yang letaknya serba sembarangan. Itu baru barang-barangku padahal di rumah ini tidak cuma barang pribadi, ada pula barang istri dan anakku.

Tidak usah melihat ke seluruh penjuru rumahku, di mejaku saja sudah berantakan sedemikian rupa. Ada puluhan tumpukan buku, karena buku yang satu belum rampung kubaca, sudah kubeli buku-buku yang baru. Baru soal buku saja sudah jadi barang yang mengganggu pemandangan. Saat ada tamu datang tiba-tiba, harus kalang kabut merapikannya.

Padahal tidak cuma tata letak, ada dinding tembok yang berpanu karena jamur. Ada pula kaca yang setiap hujan juga bocor melulu. Persis seperti dokter yang pertama mengobati lukaku, pemborong rumahku juga mungkin kurang ilmu sehingga hasilnya seperti itu. Sudah kupanggilkan beberapa ahli tetap tidak teratasi. Daripada senewen memikirkannya, kunikmati saja kenyataan itu.

Begitulah kenyataan hidupku. Kuhadapi kenyataan ini dengan gembira, karena konon katanya hidup yang sempurna adalah hidup yang lengkap dengan kesalahan. Di situ, tak hanya kesalahan-kesalahan hidupku saja, tetapi juga ada anak-istriku. Di dalam rumah yang tidak sempurna itulah, aku bersama mereka menjalani hidup ini dengan tentram dan gembira.

Itulah kenapa semalam di rumah sakit rasanya begitu lama. Ingin segera pulang ke rumah, melihat tembok yang berpanu, barang yang berserakan, bocoran ketika hujan deras dan wc yang tak cukup digontor sekali karena kurang lancar. Tempat yang paling menentramkan buatku, selain di surga.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar