Senin, 07 Juli 2014

Maafkan Saja


Suatu malam saya dapat sms dari seorang rekan yang mohon petunjuk bagaimana harus mengambil sikap. Rekan tadi menyimpan dendam dan sakit hati terhadap perlakuan seseorang yang mungkin sudah sangat melukainya selama bertahun-tahun. Namun rekan tadi tidak terlalu gegabah bertindak walaupun ada kesempatan baginya untuk membalaskan dendam. 

Saya pun membalas smsnya dengan memberikan nasihat bahwa ‘memaafkan’ adalah pilihan terbaik. Karena sesungguhnya, balas dendam ‘terbaik’ bagi musuh Anda adalah memaafkan mereka. Semua yang sudah terjadi adalah masa lalu yang tidak dapat kita ubah, satu-satunya yang dapat kita ubah adalah bagaimana kita menyikapi kejadian itu.

Memaafkan memang tidak akan mengubah masa lalu, tapi dapat dipastikan akan mengubah masa depan. Orang-orang yang luar biasa akan selalu melihat masa depan. Kemampuan kita memaafkan orang lain juga menunjukkan kualitas kasih yang kita miliki. Jangan percaya mitos yang salah bahwa memaafkan hanya akan menguntungkan orang yang menyakiti kita.

Tidak diperlukan dua orang untuk memaafkan, cukup satu orang yaitu diri kita sendiri. Memaafkan adalah kegiatan satu arah bukan dua arah. Jadi, janganlah pernah menunggu seseorang minta maaf kepada Anda. Maafkan saja sekarang, karena ini adalah pilihan terbaik agar kita bahagia. Bahkan bila perlu, orang yang kita maafkan tidak perlu tahu bahwa kita sudah memaafkannya.

Menolak memaafkan orang lain merupakan sumber terbesar penderitaan manusia. Jangan sampai kejadian buruk atau tindakan buruk seseorang memengaruhi kualitas tindakan kita. Anggaplah orang yang menyakiti kita sebagai peluang bagi kita menumbuhkan sifat rela memaafkan dan rasa kasih tanpa syarat seperti yang diajarkan oleh sang Pencipta.

Ada cerita tentang dua orang lelaki bekas tapol (tahanan politik) yang dulu sama-sama di penjara pada jaman orde baru. Mereka berdua bersahabat dan sudah sama-sama bebas dari penjara. Suatu hari mereka bertemu , sambil ngobrol salah seorang bertanya kepada sahabatnya, “ Apakah kamu sudah melupakan rezim orde baru ?”

Si sahabat menjawab,” Ya sudah.”  Lalu temannya berkata,” Saya belum bisa melupakan. Saya masih sangat membenci mereka.” Si sahabat tertawa kecil seraya berujar, “ Kalau begitu mereka masih memenjarakan dirimu.” Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita, tetapi orang yang kita benci.

Menjalankankan konsep memaafkan akan membuat hidup kita lebih ringan. Banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Saya masih ingat ketika membeli sebuah mobil dari sebuah show room di daerah Kelapa Gading Jakarta. Belum sepuluh menit mobil saya kendarai, kedua spion saya lenyap disambar orang di perempatan lampu merah.

Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tidak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian atau kemarahan yang kita simpan hanya merugikan diri sendiri. Saya jalankan saja konsep memaafkan, mungkin mereka memang membutuhkan uang untuk makan atau berobat karena keluarganya ada yang sakit sehingga mereka nekad mencuri.

Dalam bukunya ‘Forgiveness, The Greatest Healer of All,  Gerald G. Jampolsky mengemukakan bahwa  “ Memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan.”


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar