Senin, 26 Mei 2014

Atasan Buruk


Kita tidak dapat memilih atasan dalam bekerja, kadang-kadang kita dapat atasan yang baik, kadang juga atasan yang buruk. Saat mendapatkan atasan yang baik, kerja selalu bersemangat, termotivasi, ingin tampil sebaik mungkin, rajin luar biasa, dan seterusnya. Kalau ketemu atasan yang buruk, huuh rasanya ingin menggantung dia, kalau saja itu diperbolehkan.
 
Bekerja bersama atasan yang buruk, rasanya serba salah, ini salah, itu salah. Apa yang harus kita lakukan ? Pindah kerja? Bagaimana kalau ketemu atasan buruk lagi ?? Jaman sekarang juga tidak mudah pindah-pindah kerja seperti kutu loncat. Siapa pula yang mau mempekerjakan kita jikalau alasan kita keluar dari tempat lama gara-gara atasan yang buruk ?

Kalau saya pasti curiga, kalau dulu tidak betah bekerja gara-gara atasan yang buruk. Jangan-jangan orang ini  yang tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Jika saya terima orang ini, salah-salah jadi masalah di kemudian hari.

Hubungan atasan dan bawahan memang sangat subyektivitas. Tiap-tiap orang mempunyai persepsi masing-masing tentang kriteria seorang pemimpin.  Ketika persepsi tersebut berbeda dengan apa yang kita lihat dari perilaku atasannya, akan terjadi gap atau kesenjangan. Gap ini yang kemudian menentukan terjadinya ada atasan buruk atau atasan baik di mata bawahannya.

Seorang yang dianggap atasan yang buruk oleh seseorang, bisa jadi bukan atasan yang buruk bagi lainnya. Mungkin saja terbalik. Oleh karena itu, jangan terburu-buru menilai buruk atasan Anda, lalu males kerja, hilang motivasi, mengeluh dan menyalahkan terus. 

Kelemahan terbesar dalam kasus seperti ini biasanya adalah komunikasi, tidak berani berkomunikasi dengan atasannya. Bagaimana kalau komunikasi malah dikira melawan dan dikeluarkan ? Kalau diam saja dan kerja di bawah atasan buruk bukankah juga ingin keluar ? Analisa dengan kepala dingin, cari tahu bagaimana berkomunikasi dengan atasan yang dianggap buruk tersebut.

Saya pernah anggap atasan tidak baik karena kalau ditanya tidak pernah menjawab. Ternyata dia baik hanya saja dia sukanya komunikasi tidak langsung. Kita tidak dapat menentukan atasan ini baik atau buruk karena tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Cobalah cari tahu lebih dalam tentang atasan Anda, sambil melakukan refleksi terhadap diri sendiri.

Kalau konteks masalahnya adalah karena gap persepsi, tentang cara kerja, cara ngomong, cara bersikap, pertimbangkan untuk belajar memahaminya. Tanyakan dengan jujur pada diri Anda sendiri, “ Apakah saya dapat menerima perbedaan-perbedaan gap ini ? Dapatkah saya melakukan perubahan dari sisi saya ? ” 

Untuk sesuatu yang prinsip, saya tidak dapat bertoleransi terhadap atasan, misalnya soal integritas. Kalau ada atasan yang menyuruh menyuap atau memanipulasi, lebih baik saya keluar. Kita harus punya prinsip kuat masalah yang satu ini.

Akan bagus sekali apabila Anda dapat bercakap-cakap tentang perbedaan gap antara Anda dengan atasan Anda tersebut. Jelaskan tentang diri Anda, dan katakan padanya bahwa Anda siap untuk belajar. Jangan hanya mengeluh, dan jangan pula tergesa ambil keputusan keluar jika Anda memang suka berada di perusahaan tersebut.

Dalam konteks atasan buruk, selama masih bisa belajar dan tidak disuruh melanggar integritas, saya akan berusaha menyesuaikan diri. Tetap jaga kinerja, jadilah profesional.  Saya percaya apabila Anda berlian, biarpun di bawah atasan yang buruk Anda tetap bersinar. Jika di dalam organisasi di bawah atasan buruk tadi sinar Anda ditutupi, lain organisasi akan melihat sinar Anda jika Anda benar-benar sebuah berlian.

Jadi, kuncinya adalah memahami atasan Anda, lakukan refleksi diri, berinisiatif untuk berkomunikasi, jaga kinerja seprofesional mungkin dan tetap belajar. Ikan saja tidak menjadi asin, walau pun tinggal di dalam laut yang airnya asin.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar