Sabtu, 06 September 2014

Kelebihan Kita


Tiba-tiba berdering telpon dari seorang teman lama semasa sma, mengingatkan sosoknya yang masih terlihat gagah di usia tua seperti saya. Teman ini dulu adalah pemuda tertampan di sekolah, tidak hanya menarik perhatian wanita, saya pun kagum dengan kelebihannya. Paras mukanya agak bernuansa barat, bertubuh tinggi, kulitnya putih bersih, hidung mancung, dan sorot matanya indah, siapapun yang melihatnya pasti setuju dengan pendapat saya.

Salah satu kesuksesan untuk pemuda seusia itu, adalah jika mempunyai pacar yang berparas cantik. Teman saya ini memiliki cukup modal, karena dia benar-benar memenuhi kriteria menjadi idaman kaum wanita. Tapi, sayang dia pemalu, kurang percaya diri sehingga dia tidak dapat memanfaatkan kelebihannya untuk punya pacar. Kelebihan atau kekuatan diri tidak berarti jika tidak kita gunakan sebaik-baiknya. Kelebihan harus kita manfaatkan untuk menunjang kesuksesan, demikian bunyi hukum sukses.

Banyak orang mendapat kesulitan dalam menilai diri sendiri, termasuk dirinya. Punya wajah tampan yang sudah melekat di sana belasan tahun tapi tidak menyadari kelebihannya. Dan saya sering sekali menemukan orang-orang yang kesulitan menilai dirinya sendiri. Ketika saya bertanya apa kelebihan dan kelemahan kepada seseorang, ternyata banyak yang ragu dan bingung dengan dirinya sendiri.

Berpendapat ‘sulit menilai diri sendiri’ menurutku keliru, kita harus merevisi pendapat ini karena ia adalah diri kita sendiri. Kita harus berani menentang budaya yang menghalangi untuk mengatakan secara jujur dan terbuka. Selama ini, kita mempunyai pemahaman bahwa mengungkap kelebihan berarti sombong, dan mengutarakan kelemahan adalah kurang etis.

Menentang budaya tentu bukan dosa, apalagi demi kebaikan di kemudian hari. Jadi menurut saya, orang yang paling mengenal diri kita sendiri ya kita. Saya misalnya, punya kelemahan tidak sabaran. Kalau tampak sabar sebetulnya lebih karena usia dan penguasaan diri, tapi pada saat-saat tertentu bisa muncul ketidaksabaran yang tanpa kendali. Keluar aslinya.

Kelemahan lain, saya tidak bisa bicara pelan. Suara saya keras menggelegar, tidak butuh ampli kalau hanya bicara dalam ruangan sedang. Sampai pernah ada orang yang berkata, “ Kasihan bu lani (nama istri), setiap hari dimarahi sama suaminya.” Sebetulnya aku tersinggung, rambutku rasanya berdiri tegak seperti kena setrum mendengar itu. Tapi, mau tidak mau harus kuakui ada benarnya.

Mungkin faktor keturunan, karena kami sembilan bersaudara hampir semuanya bersuara kencang, tetapi saya yang paling keras. Kadang saya menepis predikat ini dengan berdalih jika saya antuasias, terlalu bersemangat hingga sering lupa sedang berbicara di mana dan dengan siapa. Namun intinya, saya mengetahui semua kelemahan dan kelebihan saya.

Saya akan mengatakan, kalau saya ini pintar ngomong, pintar matematika, pintar memimpin, pintar bisnis, pintar menyenangkan hati orang dan seterusnya. Dengan menemukan kelebihan diri sendiri sangat membantu saya untuk mengembangkan diri dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan itu. Kalau kita dapat fokus pada kelebihan kita, minimal hidup kita pasti akan lebih baik.

Jadi, bagi Anda yang masih kesulitan menemukan kelebihan diri sendiri, mungkin Anda sedang ragu-ragu saja. Anda bukan tidak mengerti kelebihan Anda. Segera temukan, karena banyak kelebihan-kelebihan diri ini mati jika kita jarang menyapanya.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar