Rabu, 24 September 2014

Tentang Seorang Penipu


Pada suatu pagi, turun dari pesawat di Halim, aku naik taksi di depan pintu keluar kedatangan, lalu engkau mengatakan baru hari ini datang dari Bandung menjadi sopir taksi dan belum tahu jalan. Aku tahu engkau berniat menipuku dan mudah saja bagiku untuk turun dan ganti taksi lain. Tapi, tak ada salahnya kita saling memberi manfaat, engkau punya taksi dan aku penumpangmu. Kedengarannya mulia sekali.

Sekali waktu memang manusia suka tergerak untuk berbaik hati walaupun betapa remehnya. Engkau pura-pura tidak tahu jalan tentu akan memperlama dan memperjauh jarak ke tujuan, sepantasnya aku kecewa juga. Tapi saat itu aku rela memberimu tarikan karena aku punya GPS di hapeku yang tidak bisa ditipu. Hapeku akan memberi perintah suara untuk kau ikuti sampai ke tujuan.

Penipuan itu sebenarnya cuma mengingatkan kekuranganku. Kebaikan tanpa ujian adalah sebuah kekurangan. Kebaikan yang telah melewati ujian adalah kesempurnaan. Tipuan itu kumaklumi karena aku sendiri juga pasti pernah menjadi seorang penipu. Mungkin bukan penipu besar, tapi pasti pernah menipu kecil-kecilan. Menipu teman, tetangga, istri dan bahkan anak-anakku sendiri. Kalau toh bukan mereka, pasti aku pernah menipu diriku sendiri.

Aku pasti pernah mengatakan ya untuk soal yang mestinya ingin kukatakan tidak, dan sebaliknya. Aku juga pasti pernah melakukan satu hal yang aku sendiri tidak setuju. Aku pasti pernah menyetujui satu hal yang tak kusukai. Aku tentu pernah berbaik hati karena terpaksa ketimbang rela melakukannya. Semua ini apa namanya, jika bukan menipu ?

Kalau yang menipu orang yang asing bagi kita, tentu mudah buat kita memakluminya. Beda lagi jika yang menipu kita adalah orang yang kita kenal dengan baik. Seorang teman pernah mengeluhkan tentang sahabat baiknya, “ Siapa yang menipu itulah yang amat menyakitkan,” katanya. Semakin dekat seseorang dengan kita, semakin banyak syarat yang kita tetapkan kepadanya. Harus selalu baik dan dapat dipercaya, itulah harapan kita terhadapnya.

Itulah kenapa ditipu teman dekat akan berlipat kesakitannya. Tertipu dan kehilangan memang suatu jenis penderitaan, tetapi ketika ternyata teman baik itu penipunya maka seperti ditambahkan menu ekstra terhadap penderitaan itu. Kalau boleh diibaratkan sambal yang sudah pedas, menjadi sambal super pedas. Itu semua gara-gara ada banyak syarat yang kita tetapkan terhadap sesuatu, termasuk kepada para teman baik, teman dekat dan kepada para penipu itu.

Kepada teman dekat itu misalnya, kita tetapkan syarat bahwa yang dekat itu harus baik, terpercaya dan tidak boleh menipu. Padahal kedekatan dan kepercayaan itu, soal yang sama sekali berbeda. Bagaimana mungkin soal yang berbeda bisa dianggap sama dan satu, sungguh merupakan bias anggapan. Anggapan itulah yang kemudian menjadi berbagai macam persoalan dalam hidup. 

Jika rumus anggapannya diubah, teman dekat juga boleh menipu, teman baik juga boleh menjadi jahat, dan kebaikan juga boleh dibalas dengan keburukan, pasti akan berbeda pula perasaan kita kepadanya. Karena ternyata, semua itu juga bisa terjadi sesuai dengan hukum kemungkinan yang berlaku. Kepada sesuatu yang mungkin, manusia hanya diberi ruang untuk kompromi, tergantung pilihan selera dan kemampuan kita.

Kita boleh menderita sambil mengutuk kanan-kiri, boleh pula sambil mengobrol seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sesuatu yang mungkin terjadi, tetap akan terjadi jika memang harus terjadi.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar