Kamis, 04 September 2014

Sebuah Komentar


Ada sebuah komentar yang menarik di blog saya dari seorang pembaca yang paling aktif menulis komentar. Selain pujian, ada kalimat dorongan semangat yang diungkapkan dengan jelas agar saya tetap fokus untuk terus menulis, meskipun saat-saat sekarang ini orang-orang belum tergerak hatinya untuk membaca artikel bapak, tapi mungkin besok, minggu depan, bulan depan atau tahun depan akan banyak orang yang berkunjung ke blog ini.

Kalau melihat jarangnya komentar yang menghiasi tulisan-tulisanku setiap harinya, pasti timbul pertanyaan apakah blogku benar-benar bermanfaat. Aku sering membandingkan dengan tulisan orang lain yang sukses sebagai penulis blog, mereka banyak mendapatkan komentar dari berbagai kalangan. Kalau ceritanya bagus, komentarnya juga semakin banyak sehingga bisa digunakan sebagai feedback.

Kalau memonitor dari jumlah ip addres, berdasarkan jumlah komputer atau alat yang dipakai untuk membuka blogku, sekitar 20 sampai 30 an setiap hari. Memang kadang ada rasa cemburu atau tidak puas menguasai hatiku. Jika membandingkan dengan jumlah seluruh karyawanku, tanpa orang luar hanya berkisar 3 sampai 5 persen saja. Kesimpulannya, sebagian besar karyawanku tidak pernah membukanya.

Ada banyak orang memang melebihi bakatku, ada banyak keberuntungan juga bukan milikku. Ketika menyadari hal itu, semakin mengecilkan hatiku. Tetapi ketika mengetahui bahwa penulis-penulis lain ternyata sudah menulis selama bertahun-tahun, bahkan ada yang puluhan tahun, maka bangkit lagi semangatku.  Pada akhir september ini, aku menulis baru mau genap setahun !

Temanku memberi masukan, mungkin kurang tepat kalau Anda memonitor pembaca berdasarkan banyaknya jumlah komentar. Banyak pembaca yang mungkin kesulitan dengan iptek, atau memang dasarnya pendiam sehingga membaca tapi tidak berkomentar. Mungkin tujuannya bukan sekadar membesarkan hatiku, tapi ada benarnya juga.

Tujuanku semula untuk berbagi melalui tulisan-tulisan ini ternyata telah bergeser gara-gara cemburu pada komentar pembaca. Namanya sharing juga suka rela, tidak mengandung unsur memaksa, jadi tanpa harus memaksa orang lain untuk membaca. Seharusnya sharing juga bikin gembira, baik diriku maupun orang lain karena bisa bermanfaat. 

Bukannya aku semakin bijak dan matang, eh malah jadi kekanak-kanakan. Ada rasa cemburu yang tidak lelahnya mengikuti kemana pun aku pergi. Dugaanku salah, bukan setia mengikutiku, tapi aku yang selalu setia mengajaknya. Makanya, cemburu selalu dekat dengan hidupku. Ketika mereka yang kubantu sukses tanpa menyebutkan namaku, bisa jadi kuanggap sebagai penghinaan karena melupakan jasa-jasaku.

Ternyata inilah yang jadi pokok persoalannya, ketika aku berpindah tempat aku selalu mengajaknya serta. Sehingga hal yang sepele tiba-tiba menjadi soal serius, seolah-olah jadi soal yang mendesak untuk segera diurus. Wajah yang semula enak dipandang, menjadi gelap seketika karena dibakar oleh rasa cemburu.

Dan ketika cemburu kutinggalkan paksa, baru aku tersadar bahwa setidaknya ada beberapa orang yang setia untuk membaca tulisan-tulisanku, walaupun tidak berkomentar. Tak peduli berapapun jumlahnya, ternyata selalu ada yang membaca tulisanku.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
3 Comments

3 komentar:

  1. Guruh Kurniawan @Kebumen ne ? .4 September 2014 pukul 08.45

    Setuju pak Han ... jujur saya pribadi juga demikian tiap tulisan Pak Han selalu saya baca tapi tidak selalu berkomentar tetapi manfaat motivasi akan selalu saya terapkan di hidup saya dan keluarga saya . ini yang selalu jadi kebanggaan kami seorang pemimpin bahkan pemilik sudi meluangkan waktu untuk terus memotivasi kami karyawan kecil .... PT GELORA GRUOP ... PASTI JAYA .

    Salam Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus
  2. di Majenang juga ada yang tetap setia membuka dan membaca artikel di blog Bapak, so keep excited

    BalasHapus
  3. Terima kasih, mas Guruh dan mas Anto. Anda berdua termasuk yang membuat saya terus menulis walaupun berat karena Anda selalu meringankannya.

    Salam Sukses, Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus