Ada yang mengatakan bahwa ‘rasa iri’ berakar dari masa lalu kita pada jaman purba. Ketika manusia purba di gua sebelah mendapatkan bagian daging gajah dalam porsi yang lebih besar, berarti yang lain mendapatkan lebih sedikit. Yang satu berpesta, yang lain menderita. Namun, rasa iri pada masa sekarang berbeda. Jika tetangga saya membeli Lamborghini, itu tidak berarti mengambil milik saya.
Rasa
iri sering menimbulkan kejengkelan, tapi anehnya mengarah kepada orang yang
paling serupa atau punya kemiripan dengan kita. Kita tidak iri terhadap hewan
atau tumbuhan. Kita juga tidak iri terhadap orang kaya di belahan dunia lain,
hanya mereka yang se kota dengan kita. Sebagai seorang pengusaha, saya tidak
iri terhadap musisi, pengacara, politikus, namun terhadap pengusaha lain, iya.
Sumber
keirian bisa datang dari mana-mana. Salah satunya adalah soal gaji. Jika ada
tiga skenario, manakah yang paling membuat Anda kesal, A) Gaji teman-teman Anda
naik, gaji Anda masih sama, B) Gaji mereka tetap sama, demikian juga gaji Anda,
C) Gaji mereka rata-rata dipangkas, gaji Anda juga. Jika Anda menjawab A,
jangan cemas karena itu sepenuhnya normal, hanya korban monster bermata hijau
atau perasaan iri.
Kemudahan
pun kadang kita irikan seperti seorang teman yang mengeluhkan segolongan orang
yang menurutnya amat enak hidupnya. Pekerjaannya cuma begitu, gajinya sebesar
itu. Sudah gaji sebesar itu, masih mendapat sabetan ini itu. Sudah begitu,
masih pula punya kesempatan untuk me-mark up anggaran. “ Sementara aku, harus
bekerja keras banting tulang dan memeras keringat sepanjang hidupku,” katanya.
Saya
pun pernah merasakan hal seperti itu saat masih berstatus pegawai, sehingga
saya memahami kejengkelannya. Soal yang mudah baginya itu adalah soal yang
harus saya capai dengan susah payah. Iri kepada kemudahan orang lain dan marah
kepada kemalangan diri sendiri. Lebih-lebih, ketika kita menilai kemudahan yang
dimilikinya, didapat dengan cara yang salah di mata kita.
Maka,
iri dapat berubah menjadi amarah, melihat bagaimana mungkin orang yang salah
bisa hidup mewah, sementara yang benar malah hidupnya susah. Begitu sengitnya
kemarahanku, sampai keliru menyamakan bahwa mudah itu selalu berarti gembira,
sedangkan susah itu selalu berarti sengsara. Padahal, seharusnya tidak sama
karena faktanya ada pihak yang digembirakan dengan kesusahannya dan ada orang
yang disengsarakan oleh kemudahannya.
Ada
orang yang karena mudahnya, mudah berbuat apa saja termasuk mudah berbuat salah
sampai masuk ke penjara. Sebaliknya, di dalam kesusahan, manusia juga susah
berbuat apa saja termasuk susah berbuat salah. Sulit berbuat salah karena
kesempatannya tidak ada. Bagaimana mau korupsi jika lahannya pun tidak ada ?
Bagaimana mau membuat mark up anggaran, jika jabatan ia tidak punya ?
Jadi,
yang sedang susah seharusnya gembira karena selalu makan dari uang hasil kerja
kerasnya yang pasti halal. Namun, jika kita iri pada kemudahan yang salah,
begitu ada kesempatan kita pun pasti tergoda untuk korupsi. Hidup dalam sebuah
keadaan yang tidak memungkinkan korupsi, memang rawan jadi iri. Keadaan inilah
yang saya lihat sedang menjengkelkan teman saya, bukan karena dia miskin, cuma
rejekinya diperoleh dari hasil kerja keras.
Dan
ketika saya mendapati diri saya sedang terbakar rasa iri sesaat, saya ingatkan
diri sendiri, “ Sah-sah saja menjadi iri tetapi hanya kepada mereka yang telah
berhasil menjadi orang yang seperti saya cita-citakan.”
Salam
SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.