Senin, 29 September 2014

Toilet di Pom Bensin


Perkiraanku tidak selalu tepat, seperti ketika memperhitungkan perjalanan untuk berhenti istirahat, makan malam sekalian ke toilet pada sebuah restoran yang sudah seperti jadi tempat persinggahan tetap setiap kali pergi ke Semarang. Sebelum sampai ke sana ternyata keinginan ke toilet tidak dapat lagi diajak kompromi. Beruntung tak jauh dari situ ada pom bensin, agak lega rasanya. Tapi akhirnya berujung kecewa saat melihat pom bensin itu sangat kumuh dan tak terawat.

Mencari toilet bersih di perjalanan rupanya masih menjadi persoalan di negeri ini. Pom bensin yang seharusnya mempunyai standar kebersihan yang baik, ternyata masih banyak yang mengecewakan.  Restoran yang tampilannya tampak bagus dan bersih, tapi tidak demikian dengan toiletnya. Masih ada saja orang yang berani kencing tapi tidak berani menyiram kencingnya sendiri.

Bahkan di lingkungan kantorku sendiri, masih ada karyawan yang tega mengencingi tembok kantor meskipun hanya satu dua langkah dari kamar mandi. Ini bukan soal tradisi pria yang suka kencing sembarangan, tapi lebih kepada soal kelakuan yang membuat rusak seluruh tatanan kita hampir di semua lini. Penyakit boleh dalam berbagai versi tapi sumbernya cuma satu, ‘diri sendiri’.

Kalau di wc-wc umum ada anjuran ‘ habis kencing harap disiram’ yang sebetulnya merendahkan martabat kita, masih bisa kumaklumi karena dipakai oleh siapa saja. Tapi ketika di bengkelku yang penggunanya terbatas cuma pelanggan dan karyawan, juga ada anjuran seperti itu di toilet, pasti akibat dari banyaknya orang yang punya hobi mengotori tanpa sanggup membersihkan.

Itulah kenapa bus kota selalu cepat bobroknya, kendaraan inventaris selalu tak terurus keadaannya.  Itulah kenapa banyak terjadi kebocoran dalam setiap jenis usaha, pemborosan yang tak perlu karena kurangnya mental menghargai kepentingan bersama. Apalagi yang bisa diharapkan dari masyarakat yang hanya bisa memakai tanpa bisa merawat. Masyarakat seperti ini pasti merosot mutunya.

Itulah kenapa saya prihatin dan curiga jika Indonesia lambat sekali menjadi negara yang bersih dan sehat. Karena kesehatan dan kebersihan baru bisa terjadi apabila kita mampu menjaga dengan baik kepentingan bersama. Padahal yang kita lihat adalah penghancuran kepentingan bersama tengah berlangsung di mana-mana.

Soal-soal yang menyangkut kebutuhan umum, kesejahteraan umum dan ketentraman bersama sedang berada di titik terendahnya. Sementara yang menyangkut kebutuhan pribadi, kesejahteraan pribadi dan ketentraman pribadi berada pada titik tertingginya. Prioritas kita terhadap diri sendiri, ternyata masih luar biasa. Hanya mementingkan diri sambil mengabaikan kepentingan sekitarnya.

Jika kita membentuk kesebelasan sepak bola pasti akan menjadi kesebelasan yang lemah. Yang kuat cuma supporternya. Kuat dalam berbuat onar dan membuat kerusakan, seperti yang sering kita lihat setiap kali antar kesebelasan bertanding. Organisasinya akan lemah dan penuh berebut kepentingan, pengurus cuma sibuk mengurusi para pengurusnya bukan atlitnya. Bagaimana bisa berprestasi ?

Kembali ke soal toilet, saat saya mengatakan pom bensin yang buruk kebersihannya, jangan-jangan salah satunya adalah pom bensinku sendiri.  Soalnya, aku juga belum sepenuhnya yakin akan mutu kebersihan toilet setiap pom bensinku. Memang selalu lebih mudah mencari kekurangan pihak lain, ketimbang melihat kekurangan diri kita sendiri. 

Pernah, ketika sedang berada di rumah, istriku mendadak bertanya kepadaku,” Lupa nyiram ya ?” Padahal, sehabis kupakai lebih dari sekadar kencing, owalaah....


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Terima kasih Pak.
    Dengan menjaga fasilitas kebersihan yang ada di sekitar kita,,akan menjadi suatu kenyamanan bila kita gunakan .
    Salam Sukses ,Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus