Jumat, 25 April 2014

Kepasrahan


Seorang pemuda pergi menemui guru kebijaksanaan dan berkata, “ Guru, begitu besar kepasrahan saya kepada Tuhan sehingga saya tidak pernah mengunci pintu rumah saat saya tinggal pergi. Saya biarkan isi rumah saya  pada penjagaan Tuhan.”

Guru bijak itu kemudian berkata, “ Pulanglah, kemudian kunci pintumu setiap kali pergi dari rumah, orang dungu ! Tuhan tidak akan melakukan sesuatu yang bisa kamu lakukan sendiri.”

Perlu pemahaman yang benar tentang kepasrahan. Pasrah tidak sama dengan menyerah. Pasrah justru sebuah sikap proaktif, sebuah upaya yang maksimal untuk melakukan apa yang dapat kita lakukan, sekaligus menyadari akan adanya suatu kekuatan di luar kemampuan kita.

Anda tidak dapat melakukan apa pun agar penerbangan Anda selamat, tetapi Anda dapat menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Anda tidak dapat melakukan apa pun agar tidak terjadi hubungan arus pendek yang mungkin membakar rumah Anda, selain menjaga dan merawat jangan instalasi kelistrikan rumah, selebihnya Anda hanya dapat menyerahkan hal itu pada Tuhan.

Kepasrahan akan memberikan ketentraman hati. Sewaktu dulu saya menjadi nelayan, setiap kali berangkat melaut, saya selalu memasrahkan diri kepada Tuhan karena saya tidak tahu apakah akan menghadapi ombak dan badai yang ganas atau tidak. Tentunya setelah melakukan persiapan yang memadai untuk melaut dengan aman.

Saya selalu memperoleh kedamaian dan ketenangan, sehingga dapat mencari nafkah di laut dengan besar hati  karena ada dalam penjagaan Tuhan. Kepasrahan pada Tuhan bukanlah suatu tindakan yang pasif tetapi merupakan pilihan yang saya ambil secara sadar.

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan menuai dan tidak mengumpulkan bekal di lumbung, namun diberi makan oleh Allah. Tuhan memberi makan kepada setiap burung, namun tidak dengan melemparkannya ke sarang mereka masing-masing. Setiap burung tetap harus mencarinya sendiri diluar sarang mereka.

Kepasrahan bukanlah duduk termenung dan berdiam diri atau berpangku tangan, tetapi merupakan konsep yang dinamis dan proaktif. Kepasrahan berarti melakukan usaha semaksimal mungkin, tetapi menyerahkan hasilnya pada kehendak Tuhan. 

Dalam situasi yang tidak dapat kita kendalikan ( baca artikel “ Bila kenyataan tidak sesuai dengan harapan “ ), kepasrahan berarti memilih untuk menerima apa adanya, serta menghilangkan ambisi, keinginan atau cita-cita apa pun.

Kepasrahan yang total lebih dari sekedar meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Coba perhatikan doa-doa kita. Seringkah Anda melakukan doa seperti ini, “ Ya Tuhan, berikanlah apa yang terbaik menurut kehendak-Mu ?”

Marilah kita merevisi pandangan kita tentang kepasrahan. Banyak orang mengartikan pasrah sama dengan meyerah. Pendapat ini kurang tepat. Pasrah adalah berupaya sekaras-kerasnya dengan segala macam taktik dan strategi tetapi menyerahkan hasil akhirnya kepada kehendak Tuhan, karena pasrah sebetulnya merupakan bentuk spiritualitas yang tertinggi. Berjuanglah, sebelum pasrah !

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Terima kasih Motivasinya ...
    Dalam kehidupan kita ...kita harus berserah diri dan meyembah kepada TUHAN Yang Maha Esa.....Kita harus berusaha sebaik-baiknya apa yang kita inginkan,,janganlah menyerah sebelum berusaha....setelah kita berusaha sebaik-baiknya, barulah kita serahkan kepada TUHAN Yang Maha Esa semoga apa yang kita inginkan di kabulkan.

    Salam Sukses,Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berjuang dulu habis-habisan yaa...jangan cuma baik, kalau bisa sempurna, why not ?

      Salam Sukses, Hidup Luar Biasa.

      Hapus