Rabu, 30 April 2014

High Quality


Beberapa hari lalu, salah satu karyawan saya Dhani, berkomentar pada artikel yang saya share di Facebook, “ Low profile, high quality “. Artikel tersebut kebetulan mengupas tentang kesombongan. Komentarnya yang pendek, menggelitik dan menginspirasi saya untuk membahas tentang “kualitas” disini. 

Kualitas di dalam perusahaan sering kali dianggap hanya perlu dilakukan oleh bagian tertentu saja, seperti di bagian produksi atau yang dilakukan oleh orang-orang di pabrik.  Suatu pendekatan yang sudah kurang tepat lagi diterapkan pada masa sekarang.

Contoh seperti yang terjadi di bisnis SPBU, yang mendapat penekanan adalah kualitas produk yang dijual dan kualitas pelayanannya saja. Pendekatan yang lebih tepat menurut saya adalah semua pihak di dalam perusahaan harus menjamin kualitas pekerjaan mereka masing-masing, di bidang apapun.

Sales dan marketing tidak peduli dengan kualitas ? Mana bisa, mereka yang paling berhubungan dengan customer. Suara-suara customer adalah yang paling ditangkap sebagai ukuran dalam bisnis apapun, karena mereka yang paling merasakan.

Bagian keuangan tidak perlu khawatir dengan kualitas, juga tidak mungkin. Kalau kerja mereka salah, salah kirim atau bayar tagihan, salah catat dan sebagainya. Proses mendapatkan uang atau profit bisa terganggu, salah-salah perusahaan merugi.

HRD atau bagian SDM tidak memikirkan kualitas juga bisa berabe. Salah proses rekrutmen, celaka, bisa-bisa terjadi penggelapan uang, dibawa lari hanya karena tidak mengecek dengan baik latar belakang calon karyawan.

Bahkan bagian kebersihan pun harus peduli dengan kualitas. Bagaimana mungkin bila kantornya jorok dan fasilitas toiletnya bau bisa membuat customer enggan berada di tempat kita. Masalah kualitas sebenarnya tidak sederhana, seperti layaknya melihat sebuah gunung es. 

Seringkali kita hanya melihat bagian permukaannya saja, seperti menangani keluhan pelanggan, produk retur, delivery produk. Sedangkan bagian bawahnya yang lebih besar dan tidak tampak itulah yang lebih berbahaya sebab dapat membuat customer hilang kepercayaan, tidak mau beli lagi tanpa disadari.

Sebaiknya, setiap lini memiliki metoda perbaikan kualitas secara terus menerus. Lebih baik lagi kalau mempunyai ukuran kondisi saat ini dan target perbaikan di masa datang didiskusikan dengan bahasa yang sama. Dengan harapan, semua lini di dalam perusahaan terlibat dalam peningkatan mutu atau kualitas untuk merebut hati para customernya.

Gampangnya, untuk orang sales, kualitas yang diukur adalah banyaknya jualan ( mencapai target ), customer senang, mau beli lagi, dstnya. Untuk orang produksi, barang yang dibuat tidak ada cacat, berfungsi dengan baik, tidak salah label dstnya. Orang keuangan, kelengkapan dokumen, tidak salah catat, proses makin cepat dan memuaskan customer, dan seterusnya.

Kalau mau program kualitas berjalan di tempat Anda, pergerakannya harus di level individu, siapa pun orangnya yang terlibat di dalam perusahaan itu. Perlu perubahan mindset setiap orang untuk peduli dan bertanggung jawab terhadap kualitas pekerjaannya. Logikanya, kalau setiap individu berkualitas, kualitas perusahaan akan menjadi lebih baik dan dapat eksis untuk bertahan di tengah persaingan bisnis yang semakin keras. 

Apakah Anda termasuk seorang yang “ low profile, high quality ?” Semoga ! Kalau belum, segera berbenah.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Terima kasih Motivasinya Pak.
    Jika setiap pekerja mempunyai rasa tanggung jawab dalam pekerjaannya yang di wujudkan dalam bekerja dengan cara membuktikan hasil kualitas kerjanya yang baik,bukan tidak mungkin perusahaan di tempatnya bekerja akan mendapatkan dampak positif diantaranya perusahaan akan menjadi maju.
    Tidak ada salahnya jika seorang pekerja mampu dan mau berusaha memberikan kualitas kerjanya yang terbaik untuk perusahaan ditempatnya bekerja...dan janganlah meminta yang terbaik saja dari perusahaan...tetapi pekerjapun mempunyai kewajiban untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan di tempatnya bekerja.

    Salam Sukses,Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, pak Samun. Semoga menginspirasi teman-teman semua. Salam Sukses, Hidup Luar Biasa.

      Hapus