Sabtu, 05 April 2014

" Saya Salah "


Sangatlah sulit untuk mengakui kita salah, bahkan kepada diri sendiri, dan semakin sulit lagi berani mengatakan dengan lantang, “ Saya salah. ” Mengucapkan “ saya salah “ baru berarti jika berasal dari hati kita, bukan dari bibir. Seringkali diperlukan perubahan yang tulus dan menyeluruh dalam diri kita, karena kita perlu menerima bahwa kita bisa saja salah.

Ungkapan secara terbuka ketika mengakui kesalahan dapat menjadi contoh kesediaan kita untuk berubah dan bisa membawa dampak positif terhadap kehidupan orang lain. Sifat keras kepala yang membuat kita ingin selalu benar dapat mecah belah teman atau anggota keluarga. Kadang keinginan menjadi pihak yang benar dapat menyebabkan pertengkaran yang tak layak dimenangkan, dan kalau dipikir lagi bahkan sangat bodoh.

Bertahun-tahun saya belajar, bahwa kesalahan harus berani diakui, dan juga harus menyesal. Ketika melakukan kesalahan, kita mungkin telah menyakiti seseorang pada prosesnya, maka pengakuan kita bukan sekedar teknis atau mekanis, yang cukup hanya mengatakan orang lain benar dan kita yang salah, melainkan lebih dari itu.

Titik baliknya adalah ketika saya SMA, pada saat menerima raport kenaikan dari kelas dua ke kelas tiga ternyata saya dinyatakan tidak naik. Bukan karena saya bodoh, tapi karena seringnya saya bolos sekolah sehingga nilai di raport diberi nilai merah semua. Saya telah menyakiti kedua orang tua yang membiayai sekolah saya.

Awalnya saya tidak berani menghadapi kejadian ini, saya sempat pergi tanpa pamit selama beberapa hari ke Jogya, numpang di rumah teman. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah, meminta maaf kepada kedua orang tua, mengatakan, “ Saya salah dan saya menyesal.“ Peristiwa ini adalah peristiwa penting yang tidak akan pernah saya lupakan dan saya telah belajar satu hal, bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.

Seiring umur, saya telah berbuat banyak kesalahan dalam kehidupan dan telah mengakui kepada diri sendiri dan orang lain bahwa saya jauh dari sempurna. Pengakuan kita merupakan tanda kekuatan bahwa kita rendah hati dan tidak terlalu hebat untuk mengakui kesalahan.

Mengakui kesalahan terutama sulit dilakukan oleh orang-orang berada pada posisi pemimpin. Mereka biasanya menyalahkan anak buahnya, melemparkan tanggung jawab mereka sebagai seorang pemimpin. Namun dalam organisasi yang saya pimpin, saya memberikan contoh kepada  mereka dengan berani mengatakan, “ Saya salah.”

Kemampuan mengakui kesalahan membuat saya  dapat memperbaiki kesalahan dan bekerja sama mencari solusi. Mengakui kesalahan akan menciptakan kesempatan belajar dari kesalahan dan memanfaatkan sudut pandang orang lain. 

“ Saya salah “ mengubah perilaku dan memberi kita manfaat hubungan yang sehat saat kita mencari cara-cara agar selalu positif. Jika bersalah, kita merasa tidak nyaman, tapi lebih tidak nyaman lagi untuk mengakui kepada seseorang bahwa kita salah. Bayangkan apa yang akan terjadi jika Anda mengatakan kepada seseorang, “ Saya salah, Anda benar.” Cobalah, Anda akan merasakan bahwa itu tidak terlalu menyulitkan seperti yang Anda bayangkan, dan semakin lama akan semakin mudah dilakukan.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar