Senin, 23 Juni 2014

Makan Sandwich


Suatu hari saya mengadakan janji ketemuan dengan beberapa teman di kafe Excelso, lantai tiga Mall Paragon, Semarang sekitar jam dua siang. Kami memesan kesukaan masing-masing, saya lebih suka kopi Toraja yang khas, yang lain lebih memilih teh hangat. Lalu saya juga memesan sedikit makanan kecil pelengkap seporsi sampler seafood.

Setelah bicara beberapa lama, ternyata ada seorang teman yang belum makan siang, menanyakan menu nasi untuk makan siang. Mungkin karena belum pernah datang kemari, sehingga dia tidak tahu bahwa kafe ini hanyalah gerai kopi. Akhirnya, ia memesan tuna sandwich yaitu ikan tuna yang dilapis dengan setangkup roti tawar. Untung porsinya cukup besar lumayan untuk mengganti nasi.

Melihatnya makan sandwich atau roti lapis dengan isi di tengahnya, saya jadi teringat tentang sebuah teknik untuk mengkritik dengan cerdas, yang dinamakan “teknik sandwich”.   Teknik ini adalah teknik yang paling umum dan efektif untuk melapis (sandwiching) berita buruk yang disampaikan dengan pernyataan-pernyataan yang positif atau bersemangat.

Teknik sandwich ini mensyaratkan tiga hal yakni :
  1. Jangan pernah membuka interaksi dengan pernyataan negatif atau kritikan. Pembukaan harus selalu positif.
  2. Setelah itu baru kritik atau masukan korektif disampaikan, dan sebaiknya lebih baik gunakan kata ‘ dan ‘ hindari kata ‘ tetapi ‘, sebagai kata sambung kalimat positif yang pertama.
  3. Pernyataan akhir harus selalu positif dan meneguhkan. Dengan demikian, penerima berita atau masukan tersebut akan tetap terjaga perasaannya, sehingga tidak memberikan reaksi emosional.


Dalam contoh kasus tentang seorang eksekutif yang mendapati banyak kesalahan dalam pembuatan proposal yang ia perintahkan kepada seorang tim leader, bawahannya. Lapis yang pertama adalah pernyataan positifnya sebagai berikut : ” Menyiapkan proposal sebaik ini dalam waktu singkat pasti membuatmu bekerja keras.”

Lapis kedua adalah kritik atau masukan korektifnya :” Dan, saya perlu mengetahui mengapa hasilnya mengandung kesalahan ketika saya periksa. Coba ceritakan tentang siapa saja yang ikut ambil bagian dalam proses penulisan, pengumpulan data dan berapa banyak waktu yang dipergunakan untuk menyusun dan memeriksanya.”

Lapis terakhir sebagai penutup pembicaraan, merupakan tepukan positif menguatkan yang harus diberikan : “ Pembicaraan ini sangat membantu. Gagasan dan penilaian kamu sangat bagus, sepertinya kita memiliki pemahaman yang sama. Mari kita lakukan perubahan yang diperlukan pada proposal ini, sehingga dapat selesai tepat waktu. Kemudian kita ajak seluruh tim segera bertemu untuk membicarakan perubahan-perubahan yag telah kita bahas, guna meningkatkan sistim pemeriksaan kualitas proposal pada masa mendatang.” 

Jika Anda menguasai teknik ini, Anda akan menjadi jauh lebih efektif saat menyampaikan kritik yang korektif kepada orang-orang yang berada di bawah Anda. Hal ini juga akan menambah keterampilan Anda secara keseluruhan terkait cara berdiplomasi, salah satu keterampilan yang wajib dimiliki oleh para pemimpin. Anda akan dapat menegur kesalahan tanpa merendahkan dan memberdayakan orang lain dengan selalu memberikan dorongan semangat.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Guruh Kurniawan eRTe ne . ?@@@@24 Juni 2014 pukul 08.47

    Luar biasa Pak ...

    dengan "TEKNIK SANDWICH"

    "Menegur kesalahan tanpa merendahkan dan sekaligus bisa memberdayakan orang lain dengan selalu memberikan dorongan semangat."

    Saya harus banyak belajar ....

    Salam Sukses, Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo belajar, masa kalah sama yang usia tua, hehehe....Saya masih muda lho, karena masih memikirkan masa depan. Orang muda usia bisa dikatakan tua kalau memikirkan masa lalu.

      Salam sukses, hidup luar biasa, mas Guruh.

      Hapus