Selasa, 03 Juni 2014

Measurable


Rabu pagi yang lalu, setelah sarapan pagi bersama sopir saya di hotel Ibis Semarang, saya tidak ada acara lagi, hanya menunggu mobil Alphard saya yang mau diganti aki di bengkel Nasmoco oleh sopir. Semalam mobil saya ngadat tidak mau dinyalakan karena akinya tekor, lantas saya telpon mas Ardi staff yang tugas di Semarang untuk menukar dulu dengan mobil yang lain.

Daripada tidak ada acara maka saya bbm seorang teman, dan diajak menengok tokonya di bilangan Mataram. Bisnisnya di bidang alat kesehatan, sesungguhnya bisnis yang bagus kalau dikelola dengan profesional, maka saya menyempatkan untuk memberikan sedikit saran-saran perbaikan supaya bisa lebih berkembang. 

Di tokonya yang tidak terlampau besar, tersedia bermacam-macam alat kesehatan, seperti alat ukur untuk gula darah, tekanan darah, dan lain-lain. Mumpung ingat, saya membeli tensi meter, alat ukur tekanan darah, karena kebetulan alat di rumah juga sudah perlu diganti yang baru. 

Dalam konsep bisnis, dikenal pendapat,” Jika Anda tidak dapat mengukur, maka Anda tidak dapat mengelolanya.” Pernyataan ini menekankan betapa pentingnya pengukuran (measurement). Target atau goals itu penting, namun kalau kita tidak dapat mengukurnya atau dengan kata lain tidak dapat menghubungkan antara tujuan dengan sistem pengukuran maka akan sering terjadi kegagalan.

Bayangkan ketika tekanan darah Anda naik atau turun kemudian dokter mengukur Anda dengan thermometer, alat ukur untuk suhu badan, atau dengan timbangan alat ukur berat badan, bukan tensimeter yang seharusnya dipergunakan. Seringkali kita mendapat hambatan dalam meraih goals karena kurangnya pemahaman atau keterbatasan cara pandang terhadap sistem pengukuran yang sesuai dengan tujuan kita.

Dalam kasus yang sederhana, menurut Anda kualitas wawasan seseorang apakah lebih baik diukur dari banyaknya buku yang ia miliki atau banyaknya buku yang telah ia baca ? Dalam praktik, masih suka saya jumpai ukuran kinerja seorang teknisi profesional berdasarkan tingkat kehadiran. Profesi teknisi seperti ini membutuhkan tingkat kompetensi keterampilan, pengetahuan yang luas dan pengalaman sebagai praktisi, daripada memenuhi jam kerja seperti tenaga administrasi.

Permasalahan pengukuran tidak hanya terjadi di dalam bisnis atau perusahaan. Target atau goals pribadi seseorang juga akan sulit tercapai kalau tidak menggunakan sistem pengukuran yang tepat. Saya yakin banyak orang hampir mampu membuat goals berdasarkan metoda SMART ( Specifik, Measurable, Achievable, Realistic and Timely ), tapi ketika goals itu dihubungkan dengan kelima variabel tersebut, menjadi sangat tidak masuk akal atau bahkan membingungkan si pemilik goals itu sendiri, sehingga tujuan yang ingin dicapainya tidak mampu direalisasikan, karena kemajuannya tidak dapat diukur.

Dengan belajar memahami hubungan antara target atau tujuan dengan sistem pengukuran, lantas menentukan alat ukur yang tepat, yang tidak rumit, sederhana, diharapkan semakin mempermudah pencapaian suatu tujuan. Dengan memiliki parameter yang jelas, akan mempermudah mengevaluasi kemajuan atau progres dari langkah-langkah yang sudah kita lakukan untuk mewujudkan tujuan kita. 

Sudahkah Anda memiliki alat ukur untuk target-target Anda ? Jika belum, segera pikirkan, tanyakan kepada mentor Anda atau kemanapun Anda bisa mendapatkannya lalu kejarlah target Anda sampai berhasil.

Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.


Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Terima kasih pak Han, untuk semua saran dan masukan yg diberikan, semoga saya bisa lebih SMART dlm membuat target2 yg ingin saya capai.
    Dan saya berharap pak Han mau menjadi mentor saya.
    Salam $ukses Hidup Luar Biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda pasti bisa, pak Ishak. Hanya perlu standarisasi baru dalam menjalankan bisnis alkes Anda.Dengan mempunyai road map yang jelas, terus tumbuh dana lakukan improvement terus menerus, maka bukan hal yang sulit. Saya selalu siap untuk menjadi mentor siapa saja.

      Salam Sukses, Hidup Luar Biasa.

      Hapus