Jumat, 08 Agustus 2014

Ekspektasi


Hampir setiap hari kita melihat status atau pernyataan yang negatif dari orang-orang sekitar kita di media, mereka secara tidak langsung mengeluhkan orang-orang atau keadaan yang sulit dihadapi. Entah itu pasangannya, orang-orang terdekatnya, atasan atau bawahannya, saudaranya, koleganya atau sahabat. Bahkan ada yang selalu negatif setiap harinya, seolah memang sudah memposisikan dirinya sebagai korban dari hidup yang tidak adil, hidup yang tidak sesuai ekspektasi.

Banyak survey yang telah dilakukan di dunia kerja, juga menunjukkan alasan utama orang untuk pindah kerja adalah untuk menghindarkan diri dari orang-orang yang sulit dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak karyawan keluar dari pekerjaan karena mempunyai hubungan yang tidak baik dengan lingkungan kerja, bisa atasannya atau rekan kerjanya. 

Biasanya mereka akan mendapatkan pekerjaan dan kembali menemukan atasan yang sulit bahkan orang-orang yang lebih sulit lagi dan proses kembali terulang. Mereka menangis, menjadi frustasi dan mengeluhkan kehidupan yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Ekspektasi kita memang berperan sangat besar ketika kita berhubungan dengan orang lain.

Kapanpun, kita mempunyai ekspektasi terhadap sesuatu atau orang lain. Kalau ekspektasi tersebut tidak terpenuhi maka akan timbul kekecewaan. Yang menyedihkan, ekpektasi-ekspektasi tersebut jarang diungkapkan atau dibicarakan dengan orang lain. Sebagai contoh, Anda mengharapkan bunga dari suami atau pacar Anda. Di kantor, seorang karyawan mengharapkan manajernya ingat bahwa ia telah enam kali kerja lembur dalam dua bulan dan perlu segera mendapatkan kompensasi.

Ekpektasi itu ada di kepala kita. Tidak heran jika kita memberikan label kepada orang-orang yang mengecewakan kita, sebagai orang yang sulit dihadapi. Dan di sisi lain, mereka menjadi masalah di mata kita karena kesalahan yang mereka perbuat walau tanpa mereka sadari, ditambah bagaimana mereka bereaksi ketika mendengar ketidakpuasan kita.

Ada benarnya juga pepatah mengatakan,” Jangan mengukur baju orang di badan sendiri,” karena kita sering menilai sesuatu dengan ukuran kita. Kita sering menuntut orang lain tahu apa yang kita ekspektasikan dari mereka, kita menginginkan mereka tahu apa yang sedang kita pikirkan atau tahu dengan sendirinya. Akibatnya, terjadilah ketidakpuasan pada individu-individu karena kegagalan pemenuhan ekspektasi.

Biasanya, jika orang menjumpai masalah di kantor, mereka cederung membawanya keluar kantor bersama teman atau keluarga. Jika masalahya di rumah, mereka cenderung untuk membicarakan di luar rumah, atau pasang status di media, mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak langsung, sehingga masalah dengan orang-orang tersebut tidak pernah terselesaikan.

Jika Anda kecewa atau berselisih dengan orang lain karena sesuatu yang Anda harapkan dari mereka atau sebaliknya karena orang itu berharap pada Anda, maka segera membicarakannya dengan orang itu dapat menjadi solusi dalam memperbaiki situasi yang ada. Cara untuk memutuskan lingkaran ekspektasi yang tidak realistis dan gagal terpenuhi adalah menangani masalah dengan orang yang menjadi pelakunya atau sumbernya secara langsung. 

Seperti kata Shakes Peare, “ Expectation is the root of heartache, “ atau Harapan adalah akar dari semua sakit hati, maka belajarlah mengelola ekspektasi kita ketika berhubungan dengan orang agar kita tidak mudah sedih, kecewa dan tidak bahagia. Belajar pula untuk bisa menjawab ekspektasi orang lain bahkan melebihkannya agar menjadi pribadi yang tidak mengecewakan orang lain, sekaligus pribadi seorang pemenang. 


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar