Senin, 04 Agustus 2014

Ukur Dua Kali, Potong Sekali


Restoran hotel Seri Malaysia masih belum tampak ramai oleh tamu hotel yang sarapan di situ, ketika kami berempat memasukinya. Melihat kami masuk, seorang petugas wanita berseragam segera mencegat kami di pintu masuk, dan menanyakan,” Mana kupon sarapan bapak ?” Lalu saya jawab, “ Saya tidak bawa kupon, tolong dicatat nomor kamar 131 dan 133.”

“ Tidak bisa, pak...bapak harus bawa kuponnya,” kata petugas itu lagi. Biasanya, kupon sarapan tidak pernah menjadi masalah, mereka bisa cek di komputer apakah nomor kamar saya sudah termasuk sarapan atau belum. Jika belum, tinggal ditagihkan ke tamu yang bersangkutan. Tapi manajemen di hotel ini rupanya sudah ketinggalan jaman, masih serba manual dan sama sekali tidak ramah.

Saya agak jengkel dan naik pitam, tanpa terasa setengah membentak, “ Saya tamu di sini, kalau Anda tidak percaya, Anda cek ke resepsionis, bukan saya disuruh ambil kupon !” Melihat kejadian itu,  istri saya bergegas ke resepsionis meminta kupon yang memang belum diberikan resepsionis kepada kami kemarin. Sebagian tamu memperhatikan kami, dan membuat saya tersadar, kenapa saya jadi marah-marah.

Sambil sarapan saya berpikir, apakah saya telah salah memilih kata-kata sehingga saya melewatkan kekuatannya saat berhubungan dengan orang lain, atau memang kendala bahasa dan budaya karena dia orang Malaysia ? Atau sebaliknya, dia yang tidak dapat memilih kata-kata yang tepat sehingga membuat saya salah interprestasi ? Saya merasa’ agak bersalah’ karena telah membuat petugas tadi seperti agak ketakutan. 

Agak menyesal saya tidak memilih kata-kata dengan seksama dan memperhatikan efeknya. Bahasa dapat memengaruhi pikiran, dan kata-kata adalah alat yang kita gunakan untuk menciptakan citra secara mental. Kata-kata dapat digunakan untuk membentuk dan terkadang mengubah cara berpikir kita. Keterpurukan ekonomi pun dapat dikatakan lebih baik dengan ‘pertumbuhan ekononomi yang negatif’. 

Banyak hal yang dapat disalahartikan karena pemilihan kata yang buruk. ‘Bukan maksud saya’ adalah sesuatu yang mungkin sering Anda dengar ketika berargumentasi di rumah atau di berbagai lingkup kehidupan Anda. Pilihlah kata-kata secara hati-hati ketika kita ingin menyampaikan pesan kita untuk orang lain guna menghindari hal-hal yang menjengkelkan.

Guru keterampilan di sekolah selalu memberitahu kita untuk mengukur dua kali, potong sekali ketika ia mengumpulkan potongan kayu yang telah kita potong dengan salah karena kita tidak memeriksa kembali ukurannya sehingga tidak sama panjang. Perumpaan tentang ‘Ukur dua kali, potong sekali’ tepat sekali digunakan tetapi akan sulit diterapkan ketika berhubungan dengan orang, dibandingkan berhubungan dengan kayu.

Pertama-tama, cobalah untuk mendapatkan kata-kata yang tepat lalu periksa kembali bagaimana efeknya untuk menghindari kesalahpahaman dan hal-hal yang menjengkelkan. Ini memang bukan tugas yang mudah, namun dapat dijalani.

Mendekati kami selesai sarapan, saya melihat dua orang tamu yang baru masuk ke restoran dan dicegat seperti kami oleh petugas itu, saya tidak dapat mendengar percakapan mereka karena posisi tempat duduk kami agak jauh. Namun tidak lama kemudian, tampak petugas itu berjalan ke meja resepionis mengambilkan kupon sarapan untuk tamu yang baru datang. Rasa bersalah yang membelit saya pagi itu terasa lenyap seketika, saya menyelesaikan sarapan dengan tersenyum. Hmm...bermanfaat juga.


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar