Selasa, 19 Agustus 2014

Sumbangan


Setiap kali ketemu dengan pelanggan yang satu ini selalu mengingatkan saya tentang kakak iparnya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Kakaknya, seorang senior sekaligus teman lama yang cukup akrab sewaktu masih bekerja di Pertamina. Pernah sama-sama mengikuti tugas pendidikan selama setahun di Cepu, kalau tidak salah dua kali bareng dalam kurun waktu enam tahun. 

Kenangan kadang tergelar kembali. Ketika kami menonton film bersama di sebuah bioskop kecil, dia menolak ketika saya mencoba membayarkan tiketnya, tapi dia juga tidak mau membayari. Cukup fair menurut saya, dibandingkan teman lain yang selalu cari gratisan. Tapi membahas soal kenangan nanti akan saya tulis tersendiri, yang mau saya bicarakan adalah soal pengaruh yang dia tinggalkan sehingga saya tidak mungkin melupakannya.

Suatu hari dia pernah datang ke rumah berdua dengan teman untuk meminta saran karena mereka patungan mendirikan sebuah bengkel mobil. Di setiap tahapan kehidupan kadang kita menemukan kata-kata pujian yang kemudian terpatri di dalam hati. Saya masih ingat ketika dia memperkenalkan kepada temannya. Katanya sambil menunjuk saya, “ Orang ini bertangan dingin, dia bisa menjual apa saja, bahkan kotoran pun laku dijual.” 

Seorang teman senior yang lain juga pernah memberikan pujian untuk diri saya kepada orang lain yang membutuhkan sebuah komputer. Dia berkata, “ Beli saja sama Han, dia tidak hanya menjual tapi bisa membuat komputer.” Terlalu dilebih-lebihkan, memang. Pada saat itu komputer masih barang baru dan belum banyak orang yang menggunakannya, saya memang sudah berjualan sambil mengajarkan cara menggunakannya pada pembeli sehingga laku keras.

Seorang guru SMP saya yang sekarang masih hidup juga pernah berkomentar,” Anak ini nakal, tetapi sangat cerdas.” Saya hampir tidak mendengar kata ‘nakal ‘ itu. Yang terdengar hingga hari ini adalah sekadar kata ‘cerdas’. Sungguh satu pujian dari guru yang  seperti itu akan menancap terus di dalam ingatan dan selalu memotivasi alam bawah sadar saya hingga saat ini.

Ketika saya diberi tugas untuk rapat dengan vendor dari perusahaan Amerika di depan para petinggi Pertamina, ada satu kejadian yang tidak pernah saya lupakan ketika orang bule itu bertanya kepada peserta rapat,” Siapa saja yang kemarin berangkat ke manufacturing di Philadelphia ?” Dua orang manajer mengacungkan telunjuk.” Seharusnya anak ini,” kata orang bule itu menunjuk saya yang hanya bisa tersipu malu. 

Saya tidak peduli apakah pujian itu merupakan kenyataan diri saya atau bukan, karena yang penting adalah saya mempercayainya. Ketika kita percaya maka ada semacam energi yang muncul berusaha membantu mewujudkan kenyataan seperti yang kita yakini. Kualitas orang percaya sungguh berbeda dengan orang yang ragu-ragu atau menolak.

Dan ketika saya mengalami kesulitan, kelemahan, hambatan bahkan keputusasaan maka saya tinggal membayangkan wajah orang-orang itu yang berperan memberikan sumbangan yang sungguh tidak ternilai dalam kehidupan saya. Awalnya mungkin sok cerdas, namun lama-lama menjadi makin besar dorongan itu untuk membentuk kebiasaan cerdas.

Pernyataan-pernyataan positif dari mereka menjadi semacam mantera di dalam batin saya. Mereka adalah sebagian para pemberi sumbangan paling berharga sepanjang hidup saya. Banyak kehidupan ini berubah menjadi luar biasa hanya karena pengaruh dari kata-kata. Kenapa kita tidak sesering mungkin menyumbangkan kata-kata itu kepada orang-orang di sekitar kita ?


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar