Rabu, 30 Oktober 2013

Mementingkan Diri Sendiri


Yang menjadikan sulit dalam memahami orang lain, sering kali adalah karena kita mementingkan diri sendiri. Seperti itulah cara berpikir kebanyakan orang. Tidak ada orang yang sengaja ingin menjadi egois, namun sifat mementingkan diri sendiri adalah bawaan semua orang, sifat dasar manusia. Tidak percaya ? Jika ingin membuktikan, bermainlah dengan anak usia dua tahun, ia akan memilih mainan terbagus dan mementingkan diri sendiri.

Salah satu cara untuk mengatasi kecenderungan mementingkan diri sendiri adalah dengan membiasakan melihat dari perspektif orang lain. Saat berbicara di depan anak-anak yang mengikuti latihan bermain catur, saya mengatakan, ”Apabila kita dalam posisi kritis atau harus mengambil langkah yang penting, sebaiknya jangan tergesa-gesa, cobalah bangkit dari tempat duduk dan beranjak kebelakang lawan kita, lihatlah papan catur dari arahnya. Saya pun bisa melihat langkah bodoh yang akan kita ambil karena menggunakan sudut pandang lawan kita.” 

Tantangan bagi penjual atau pebisnis adalah melihat dunia dari sudut pandang si calon pelanggannya. Masalah bagi seorang pemimpin adalah ketidakmauan melihat segalanya dari sudut pandang bawahannya. Kemelut dalam keluarga, juga berawal dari saling mementingkan diri sendiri.

Tantangan itulah yang dihadapi oleh kita semua, apa pun profesi kita. Sebuah catatan tentang pelajaran singkat mengenai hubungan manusia, mungkin anda pernah mendengar atau membacanya, kita diingatkan tentang prioritas yang seharusnya kita miliki saat menghadapi orang lain :

Kata yang paling tidak penting : s a y a 

Kata yang paling penting : k i t a 

Dua kata yang paling penting : terima kasih

Tiga kata yang paling penting : Semua sudah dimaafkan

Empat kata yang paling penting : Jadi bagaimana menurut Anda ?

Lima kata yang paling penting : Anda menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Enam kata yang paling penting : Saya ingin lebih memahami Anda lagi.



Sahabat-sahabatku yang luar biasa,

Kurangnya pemahaman terhadap orang lain adalah sumber ketegangan yang berulang kali terjadi dalam masyarakat kita. Lima puluh persen dari semua konflik yang timbul karena kita tidak dapat memahami satu sama lain, bukan karena perbedaan pendapat ataupun ketidakmampuan kita mencari kata sepakat. Apa yang sesungguhnya ingin mereka lakukan, hampir selalu ingin melakukan hal yang benar, bilamana kita dapat memahami sudut pandang orang lain.

Jika Anda ingin mengubah sikap dari mementingkan diri sendiri menjadi memahami orang lain, bangkitkanlah semangat dan komitmen untuk selalu berusaha melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain


Salam SUKSES, HIDUP LUAR BIASA.
Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. Suatu pembelajaran hidup yang bagus sekali....selalu berusaha melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain...tapi kadang kita terbentur dengan orang yang selalu berpikir negatif dan menyikapi segala sesuatu dengan cara pandang yang negatif...

    Solusi terbaik untuk memahami orang yang berpikir dan bercara pandang seperti itu bagaimana Pak Han..?

    Salam Sukses...Luar Biasa..

    BalasHapus
  2. Solusinya selalu berpikir tentang sinergi. Menghargai perbedaan adalah inti dari pada sinergi.Untuk menghargai perbedaan-perbedaan, adalah menyadari bahwa setiap orang melihat dunia tidak sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana mereka. Jadi menurut saya, ini adalah alternatif yang terbaik ketimbang melawan atau kabur. Memang dibutuhkan empati yang mendalam. Bisa jadi, orang yang menurut kita berpikir negatif, setelah kita selidiki dengan mendalam dan menggunakan persepsinya, ternyata mempunyai alasan tertentu yang masuk akal. Kita harus selalu mengutamakan prinsip menang-menang, yang membuat kedua belah pihak senang, Ada pepatah mengatakan, "Ketika pergi ke hutan, bersiaplah digigit nyamuk". Pasti ada orang yang tidak senang dengan diri kita karena satu atau lain hal, tapi itulah nyamuk-nyamuk yang pasti akan muncul mengiringi profesi kita. Dengan terus mempositifkan diri kita, maka lingkungan akan menjadi positif, orang-orang yang negatif akan semakin tidak suka dan menyingkir dengan sendirinya. Terus belajar dan tumbuh, please absorb. Salam sukses, hidup luar biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan niat positif untuk lebih berEmpati dan terus memupuk sikap-sikap positif, saya menjadi lebih yakin bahwa orang-orang yang mempunyai sikap dan cara pandang yang positiflah yang akan menjadi seorang Pemenang...

      Mkasih atas Solusi terbaiknya pak Han...

      Salam Sukses....Hidup Luar Biasa

      Hapus
  3. Salam Luar Biasa....

    Selamat sore pak han..saya membaca buku " The Achiever " karangan dari Haryanto kandani.di dalam buku itu ada kata-kata filosofi dari 'Zig Ziglar yang berbunyi " Bantulah orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan,maka kita pun akan mendapatkan apa yang kita inginkan "..nah pada kenyataannya sering kali kita membantu orang lain dengan iklas tanpa pamrih tanpa mengharapkan apapun..tapi orang yang kita bantu kadang tidak punya perasaan seolah-olah dia sendiri yang bisa mangatasi persoalannya..
    Bagaimana menurut pandangan pak handoyo mengenai type orang seperti itu..
    terima kasih..


    Salam luara biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kepekaannya yang kurang, yang mungkin saja disebabkan oleh masa lalunya. Sedangkan maksud dari kata-kata Zig Ziglar adalah hukum tabur tuai, siapa yang menanam siapa yang menuai. Tabunglah epos sebanyak-banyaknya, maka Tuhan yang akan membalasnya, tidak harus orang itu dan juga tidak harus seketika itu juga, tapi pasti akan dibalas selama yang kita lakukan sungguh-2 tulus tanpa pamrih. Semoga cukup jelas. Salam Sukses, Hidup Luar Biasa.

      Hapus